• Minggu, 14 Agustus 2022

Menelisik Kemunafikan dalam Hubungan Amerika Serikat-China

- Sabtu, 9 Juli 2022 | 09:32 WIB
NATO dan China.(Dok/Ist)
NATO dan China.(Dok/Ist)


Oleh: Sjarifuddin Hamid

SINAR HARAPAN - Dua kata yakni Atlantik Utara sudah tidak punya makna. Tentara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dalam NATO dapat menebar maut jauh ke luar kawasan Atlantik Utara. Dulu di Irak, Libya kemudian Afghanistan. Di masa depan kemungkinan di laut China Selatan dan Asia Timur.

Mengingat di Laut China Selatan dan Asia Timur, Korea Selatan dan Jepang berselisih dengan China. Begitupun Taiwan yang dianggap China sebagai provinsinya. Philipina juga turut serta dalam koor yang mencemaskan ini.

Ternyata bukan hanya Laut China Selatan dan Asia Timur yang dapat menjadi lahan proxy war. India, Bhutan, Indonesia, Nepal, Mongolia, Malaysia, Laos, Kamboja dan Rusia juga berselisih dengan China tentang batas wilayah. Untung saja perselisihan itu dapat diredam.

Pendekatan Ganda    

Sejak 2013, China melakukan ekspansi damai beraroma kerjasama. Membuat program One Belt One Road, yang sekarang menjadi The Belt and Road Initiative (BRI). Menurut Green Finance and Development Centre, sejumlah 147 negara telah menandatangani dokumen kerjasama BRI. 43 negara berlokasi di sub-Sahara Afrika. 35 di Eropa dan Asia Tengah. 25 negara di Pasifik dan Asia Timur. 20 di Karibia dan Amerika Selatan. 18 di Timur Tengah dan Afrika Utara. Enam negara di Asia Selatan. Mereka menerima investasi langsung dari China dan perdagangan timbal balik. Jumlahnya diperkirakan melebihi US$6,9 triliun.

Amerika Serikat yang sudah memiliki 750-800 pangkalan di 80 negara dan teritori menanggapi ekspansi China itu secara negativ. Dianggap akan merebut pasar, mengambil sumber daya alam dan mengembangkan idelogi alternativ.  

KTT NATO di Spanyol, 29-30 Juni, memutuskan Rusia dan China sebagai menerapkan tantangan sistemik.  China tidak mau tunduk dengan kemauan Amerika Serikat. Diantaranya tidak mengutuk invasi Rusia ke Ukraina.

Ada dua cara yang dilakukan buat mengatasi ekspansi China. Pertama, untuk kawasan Asia-Pasifik membentuk QUAD bersama Jepang, Australia, dan India serta aliansi dengan negara-negara Pasifik Selatan. Disamping meningkatkan kekuatan militer bersama Inggris dan Australia dengan fokus peperangan bawah laut.

Amerika Serikat juga secara teratur mengadakan latihan militer bersama dengan negara-negara di Asia Tenggara yang relative netral. Termasuk latihan bersama Garuda Shield- 16/2022 yang melibatkan 14 negara di Batujajar, Jawa Barat di Amborawang, Kalimantan Timur, 1-14 Agustus 2022.

Pada saat yang bersamaan, tetap menjalin hubungan dagang dan investasi dengan China. Council on Foreign Relations menyebutkan perdagangan AS dengan China tumbuh secara mengesankan dalam beberapa dekade terakhir.

Jumlah impor AS dari China lebih banyak dibandingkan dengan negara lain, sebaliknya China merupakan salah satu pasar ekspor  terbesar bagi barang dan jasa Amerika Serikat.  Perdagangan dengan China memungkinkan konsumen di AS memperoleh barang dan jasa dengan harga murah dan menguntungkan perusahaan-perusahaan AS.

Menurut COMTRADE PBB, AS pada 2021 mengimpor dari China senilai US$541,53 miliar. Antara lain terdiri dari peralatan elektronika, boiler, reaktor nuklir, mainan anak-anak, produk farmasi dan lain-lain. Nilai impor boiler, reaktor nuklir dan mesin mencapai US$115,64 miliar. Impor peralatan elektronika dan listrik merupakan yang terbesar yakni US$135.12 miliar.

Sementara Departemen Pertanian Amerika Serikat mengungkapkan, pada 2021 ekspor produk pertanian ke China mencapai US$33miliar naik 20% dibandingkan tahun sebelumnya. China merupakan pasar ekspor terbesar bagi produk-produk pertanian AS. Keseluruhan ekspor AS ke China berjumlah US$151,07miliar.  

Gedung Putih menerapkan pendekatan ganda sebab salah satu kebijaksanaannya sangat dipengaruhi industrial military complex, yang terdiri dari perusahaan-perusahaan industri produk militer, anggota legislativ dan eksekutif.

Kelompok ini berkepentingan dengan belanja pertahanan, yang tahun ini jumlahnya seperenam dari total anggaran Federal atau US$801 miliar. Kelompok juga berkepentingan dengan menjual alutsista terutama ke Arab Saudi, anggota NATO, Taiwan, Jepang dan sebagainya.

Berhati-hati

Bila terjadi konflik dengan China, kemungkinan yang akan dilakukan AS dan sekutu-sekutunya adalah seperti yang dilakukan terhadap Rusia, memberlakukan sanksi serta membekukan asset. Mungkin tak dilakukan dalam waktu dekat, namun sama sekali tidak bisa diabaikan.

Indonesia berkepentingan dengan hubungan China-AS yang harmonis serta mempertahankan kebijaksanaan yang bisa diterima kedua pihak,  Jakarta memerlukan keduanya sebagai sumber pinjaman dan investasi.

Bank Indonesia (BI)/ Kementerian Keuangan menyatakan per Maret 2022, China menempati posisi keempat sebagai negara pemberi utang terbesar yakni US$22 miliar atau Rp 322 triliun dengan kurs Rp 14.661 per dolar AS.

Amerika Serikat berada di peringkat kedua dengan US$31,8 miliar atau sekitar Rp466,2 triliun. Singapura di urutan pertama dengan U$60,9 miliar atau setara Rp892,8 triliun.

Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia sebesar Rp147,2 triliun pada kuartal I/2022. Angka tersebut naik 31,8% dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp111,7 triliun. Realisasi investasi asing pun meningkat 20.5% dibandingkan pada kuartal sebelumnya. Sepanjang Oktober-Desember 2021, realisasi PMA ke tanah air tercatat sebesar Rp122,3 triliun.

Selain itu, realisasi PMA di Indonesia telah mencapai 23,5% dari target pada 2022. Kementerian Investasi/BKPM menargetkan nilai investasi asing di Indonesia mencapai Rp627,6 triliun pada tahun ini.

Investasi asing terbanyak dari Singapura pada tiga bulan pertama tahun ini. Nilainya mencapai US$3,57 miliar dengan jumlah proyek sebanyak 4.491. Hong Kong berada di posisi kedua  sebesar US$1,53 miliar dengan 664 proyek. Lalu, investasi dari China US$1,35 miliar atau Rp19,59 triliun dengan 727 proyek. Jepang US$ 800 juta. Amerika Serikat US$ 600 juta.

Ditilik dari aspek pinjaman dan investasi, Indonesia berada dalam posisi rentan karena tergantung pada asing. Dalam konteks ini ada baiknya memandang Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Barat sebagai satu kesatuan dengan AS. Mereka hampir pasti mengikuti kehendak Amerika Serikat.

Indonesia sedikitnya pernah dikenai sanksi akibat masalah HAM di Tim-Tim dalam bentuk penundaan menerima Sky Hawk A-4 . Gagal membeli sebelas Sukhoi Su-35 karena alasan yang tak disebutkan.

Dalam situasi yang serba terbuka, dunia tahu sikap munafik AS tapi Washington terlalu berkuasa untuk digugat. Media Barat menyebut Hunter Biden pada 2013 punya kaitan bisnis dengan bank-bank dan perusahaan China.

Hampir 10% dari total penduduk Taiwan menetap di China Daratan. 50% lagi berupaya memperoleh status WN China. Lebih dari seperempat lulusan PT mengupayakan pekerjaan di China Daratan setiap tahun. Kondisi ini diabaikan sebab ada kepentingan military industrial complex.***  

Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

Tags

Terkini

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB
X