“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

- Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB
Marzuki Usman.(Dok/sinarharapan.co)
Marzuki Usman.(Dok/sinarharapan.co)


Oleh: Marzuki Usman

Kampus Biru, Kampus Bulak Sumur, yakni Kampus Universitas Gajah Mada, pada tahun 1965. Penulis berada disitu, pada tahun ke tiga, dalam menuntut ilmu pada Fakultas Ekonomi di Kampus itu. Tahun ke tiga, itu adalah tahun terakhir untuk mendapat Gelar Sarjana Muda Ekonomi, atau Bachelor of Science (BSc).

Pada hari itu, penulis mengikuti kuliah, “Pengantar Ilmu Manajemen”, yang disampaikan oleh Profesor, Oey Liang Lie. Beliau ini tersohor dengan cara pemberian kuliahnya, dengan contoh-contoh kehidupan sehari-hari, dan banyak humornya. Maka, tidak heran lagi, kalau beliau ini, pengikut kuliahnya sampai 100 orang mahasiswa. Penulis adalah salah satu dari mahasiswa penggemar kuliah beliau ini.

Pada saat kuliah itu, Beliau menjelaskan tentang perilaku Manager Senior yang telah banyak makan asam garamnya, alias banyak penuh dengan pengalaman hidupnya sebagai Direktur Utama pada perusahaan yang dia pimpin. Manager yang sukses ini, beliau ini tidak berprilaku sebagai manager yang merasa dirinya yang paling pandai, dan tidak mau menerima pendapat dari orang lain. Apalagi yang mengkeritik itu, adalah orang yang dia anggap tidak tahu apa-apa.

Menurut Prof Oey Liang Lie, si Manager yang sukses itu, tidak akan pernah berperilaku seperti kata Pepatah ini, “Buruk Muka Cermin Dibelah!”. Jadi dia, si manager itu berpendapat bahwa dia yang paling tahu dan paling benar, meskipun sebenarnya, dia itu bersalah. Maka, tidak berapa lama lagi pastilah perusahaanya akan turup warung, alias bangkrut.

Prof Oey Liang Lie berujar lagi, “Janganlah seorang Direktur Utama berperilaku seperti kata pepatah itu”.

Menurut teman penulis seorang pengusaha sukses di Jakarta, menasehati penulis bahwa “Janganlah engkau menitip uangmu, kepada pemimpin perusahaan yang merasa dirinya, yang paling sukses, dan tidak mau bercermin kepada pengusaha-pengusaha lain yang sukses. Nanti, tidak akan lama usia perusahaannya!. Dan, carilah para pengusaha yang berbahagia menerima keritik dan pendapat orang lain”.

Ketika penulis mendapat amanat untuk menghidupkan Pasar Modal Indonesia, maka penulis meneruskan nasehat kuliah Prof. Oey Liang Lie ini, kepada semua teman-teman para emiten (pemilik perusahaan publik itu). Ternyata, rupanya secara tidak langsung menyebabkan banyak pemilik perusahaan menjadi penggemar Pasar Modal Indonesia. Alhamdulillah, dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa!***

Jakarta, Medio Hari Lahirnya Panca Sila


 

Editor: Norman Meoko

Sumber: opini

Tags

Terkini

Sutra Manih?

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:28 WIB

Industri Militer Dalang Kekacauan di Muka Bumi

Sabtu, 21 Januari 2023 | 10:06 WIB

Kacang Lupa Di Kulit?

Selasa, 17 Januari 2023 | 07:04 WIB

Survei dan Atau Maunya Partai Politik

Jumat, 13 Januari 2023 | 10:13 WIB

Nasi Kandar = Nasi Goreng?

Selasa, 10 Januari 2023 | 06:11 WIB

Limau Bali?

Selasa, 3 Januari 2023 | 05:53 WIB

Catatan Akhir Tahun (Seri 4): Pemberantasan Korupsi

Rabu, 28 Desember 2022 | 17:08 WIB

Sbatical Leadership? (Pemimpin Pensiunan)?

Selasa, 27 Desember 2022 | 06:54 WIB

Catatan Akhir Tahun (Seri 3): Kepemimpinan Ideal

Minggu, 25 Desember 2022 | 14:36 WIB

Selamat Merayakan Natal

Sabtu, 24 Desember 2022 | 11:22 WIB

MBS Memainkan Kartu China Menghadapi Amerika Serikat

Senin, 12 Desember 2022 | 05:30 WIB
X