• Minggu, 14 Agustus 2022

Bauran Kebijakan dan Efektivitas Pengendalian inflasi di Indonesia

- Kamis, 16 Juni 2022 | 08:48 WIB
Pendiri INDEF memberikan Sambutan di acara Seminar INDEF bertajuk Managing Inflation to Boost Economic Growth, Rabu 15 Juni 2022 di Bali (Ist)
Pendiri INDEF memberikan Sambutan di acara Seminar INDEF bertajuk Managing Inflation to Boost Economic Growth, Rabu 15 Juni 2022 di Bali (Ist)

Oleh Didik J Rachbini

SINAR HARAPAN - Setelah IMF mengoreksi prediksi pertumbuhan ekonomi global di April 2022, kini Bank Dunia juga mengoreksi pertumbuhan ekonomi global ke level yang lebih rendah, dari 4,1% ke 3,2%.

Hal ini terutama dilakukan karena melihat perkembangan inflasi yang terus meningkat di sebagian besar negara yang memiliki kontribusi ekonominya besar di tingkat global. Peningkatan inflasi global disebabkan oleh meningkatnya harga sumber energi dan harga komoditas lainnya sejak akhir 2021. Peningkatan harga-harga tersebut diperparah dengan pecahnya perang antara Rusia dan Ukraina.

Inflasi yang tinggi menekan pertumbuhan ekonomi dan menghambat pemulihan ekonomi. Peningkatan inflasi yang terus menerus dapat menghantam sisi konsumsi rumah tangga dengan berkurangnya nilai riil dari uang yang mereka pegang. Infasi akan semakin berdampak buruk jika tidak diikuti oleh peningkatan upah/gaji yang sebanding.

Di sisi lain, peningkatan inflasi juga menghambat investasi melalui transmisi kenaikan suku bunga. Respon kebijakan moneter untuk mengurangi inflasi dengan meningkatkan suku bunga acuan pada akhirnya akan memukul investasi, khususnya FDI ke negara berkembang karena modal akan condong lari ke negara-negara asalnya dan asset yang aman seperti USD.

Terlebih, peningkatan suku bunga berarti kenaikan biaya pembiayaan yang dapat menghambat investasi karena biaya investasi yang ditimbulkan menjadi besar. Sementara itu peningkatan inflasi membuat banyak negara dapat mengalami neraca pembayaran yang negatif.

Hal tersebut diatas dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan juga pemulihan ekonomi paska-pandemi.

Pembiayaan menjadi sulit dan mahal dengan tingkat suku bunga yang tinggi. Peningkatan suku bunga membuat biaya pembiayaan menjadi mahal baik di tingkat domestik maupun global. Peningkatan suku bunga BI akan mendorong tingkat bunga kredit dalam negeri.

Beban Fiskal

Halaman:

Editor: Joko M

Sumber: opini

Tags

Terkini

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB
X