• Minggu, 14 Agustus 2022

Pemimpin Baru Singapura dan Dilemanya

- Sabtu, 11 Juni 2022 | 19:25 WIB
Taman Merlion adalah sebuah markah tanah dan objek wisata utama Singapura, terletak di One Fullerton, Singapura, dekat Distrik Bisnis Sentral. (Pikiran Rakyat)
Taman Merlion adalah sebuah markah tanah dan objek wisata utama Singapura, terletak di One Fullerton, Singapura, dekat Distrik Bisnis Sentral. (Pikiran Rakyat)

Oleh: Sjarifuddin Hamid

SINAR HARAPAN - Bila Singapura sekarang menjadi negara maju, tertib dan teratur, maka kredit harus disematkan kepada Lee Kuan Yew dan kawan-kawan. Mereka menjalankan pemerintahan dengan prinsip… leadership by example. Pemimpin menjadi contoh atau teladan.
Lee cs mematuhi peraturan yang mereka buat. Hukum ditegakkan terhadap koruptor sampai kepada mereka yang meludah, merokok atau membuang sampah sembarangan. Singapura mendapat julukan…fine city.

Dalam Corruption Perceptions Index tahun 2021 yang dibuat International Transparency, Singapura, Swedia dan Norwegia berada di peringkat keempat dari 180 negara, dengan skor 85. Bertengger di peringkat 1 adalah Denmark, Finlandia dan Selandia Baru dengan skor 88.
Tetangga Singapura berada di urutan ke 96 dengan skor 38 dari kemungkinan 100. Skor dibawah 50 menunjukkan negara yang bersangkutan mengalami masalah korupsi yang serius.

Kaderisasi
Kaderisasi dimulai dari dunia pendidikan. PM sekalipun sering secara langsung menyerahkan ijazah kepada lulusan sekolah menengah. Lulusan yang cemerlang dibina dan dipantau hingga perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Setelah itu, selain bekerja di instansi pemerintah, mereka juga berkiprah di perusahaan swasta.

Pemerintah menerapkan sistem merit saat mempekerjakan karyawan dengan mengutamakan kemampuan daripada koneksi politik atau nepotisme. Mereka yang cemerlang dan berdikasi mendapat tempat.

Para menteri umumnya menapak karir secara berjenjang dan berpindah-pindah atau merangkap jabatan. Tujuannya agar memahami persoalan secara utuh dan memudahkan koordinasi.
Para menteri juga menjadi politisi dengan menjadi calon PAP di wilayah pemilihan tertentu. Partai menjadi ajang kaderisasi dan keabsahan pemimpin. Apabila gagal meraih suara, nasibnya di ujung tanduk. Contohnya, Heng Swee-Keat, bekas menteri keuangan ,yang sempat dicalonkan menggantikan Lee.

Anggota Parlemen pada hari-hari tertentu piket di daerah pemilihan. Macam-macam pengaduan yang datang. Listrik tak menyala. Air di flat tak mengalir. Masih banyak lagi. Pengalaman menjadi anggota Parlemen sangat berguna untuk memahami kebutuhan dasar rakyat.

Kepemimpinan
Singapura hingga saat ini sukses menerapkan stabilitas politik dan keamanan. Mewujudkan sistem pemerintahan demokrasi parlementer dengan satu partai dominan. Mengendalikan harga barang dan jasa. Berhasil mengundang investor asing. Berorientasi kepada industri yang bersifat inovatif. Mampu memanfaatkan kelemahan negara tetangga dalam bidang pendidikan, jasa kesehatan, penyediaan minyak bumi dan gas alam serta perbankan. Menjadi hub bagi sektor transportasi udara dan kelautan Indonesia.

Kesuksesan tersebut juga karena PM Lee Kuan Yew meletakkan dasar kebijaksanaan domestik dan regional yang tepat. Dilanjutkan PM Goh Chok Tong dan Lee Hsien Loong yang melakukan modifikasi sesuai dengan kebutuhan dunia yang makin dinamis.

Halaman:

Editor: Joko M

Sumber: opini

Tags

Terkini

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB
X