• Sabtu, 1 Oktober 2022

Mata Kuliah, “Bagaimana Berdiskusi?”

- Selasa, 24 Mei 2022 | 07:51 WIB
Marzuki Usman (Fotodok/sinarharapan.co)
Marzuki Usman (Fotodok/sinarharapan.co)

Oleh : Marzuki Usman

Ketika menuntut ilmu sebagai Mahasiswa S2 (Graduate Student) di Duke University, Kota Durham, Provinsi Carolina Utara, Amerika Serikat pada tahun 1973 – 1975 untuk mencapai gelar Strata Dua di bidang Ekonomi, MA (Master of Arts) in Economics, penulis menyempatkan diri untuk berkenalan dengan para mahasiswa yang menuntut ilmu sebagai Mahasiswa Persiapan (Under Graduate) yang kemudian meneruskan untuk mencapai Gelar Strata 2 (S2), yakni sebagai Mahasiswa Strata Dua (Graduate Student).

Penulis bertanya kepada Mahasiswa Under Graduate itu, apa-apa saja mata pelajaran yang mereka ambil (pelajari), selama 3 tahun. Mereka menjawab rasa keingintahuan penulis, bahwa mereka belum ada penjurusan. Biasanya yang diajari adalah hal-hal yang umum untuk bisa melanjutkan ke Program Strata Dua (Graduate Student)

Mereka berkata, kamu boleh mengambil pelajaran untuk mengikuti kuliah, “Bagaimana Berpidato, Berdiskusi, dan Berapat?”. Juga, ada mata kuliah, bagaimana untuk menulis makalah, dan bagaimana melakukan penelitian (Riset).

Apabila nanti kamu memutuskan untuk tidak melanjutkan ke Program S2 (Graduate Student), kamu sudah bisa menjadi: Pemimpin Perusahaan, Pejabat Pemerintah, dan sebagainya, karena kami sudah mengikuti kuliah: Pidato, Diskusi, Penulisan makalah, dan Laporan, dan Penelitian.

Di-Indonesia, belum ada program mata kuliah : Diskusi, Pidato, Penelitian, dan seterusnya. Tetapi  mahasiswa bisa ikut kegiatan pada Organisasi Kemahasiswaan, pada setiap Kampus, yaitu: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan seterusnya. Untuk para mahasiswa yang kulliah pada tahun 1950-an, 1960-an, 1970-an, 1980-an mereka belajar menjadi pemimpin dari organisasi-organisasi mahasiswa itu.

Untuk Mahasiswa yang kuliah sesudah 1990-an, tahun dimana ada kebijakan Pemerintah, bahwa pada setiap kampus tidak boleh lagi ada kegiatan-kegiatan Organisasi Mahasiswa.

Maka, akibatnya lulusan sarjana dari para Mahasiswa 1990-an dan seterusnya, mereka menjadi ragu-ragu untuk menjadi pemimpin rakyat, karena pada kampus itu, tidak ada mata kuliah : Diskusi, Pidato, Rapat, dan sebagainya. Tidak seperti di kampus-kampus di Amerika Serikat dan di Eropah.

Penulis khawatir sekali, bagaimana nasib NKRI, dimasa mendatang jika para pemimpinya kurang matang sebagai pemimpin. Kata orang Bijak, “Kalau bukan oleh kita, siapa lagi yang harus melakukan perubahan!”. Semoga Allah SWT, masih menyayangi rakyat NKRI. Allahuma amin ya Rabalalamin.

Halaman:

Editor: Joko M

Sumber: opini

Tags

Terkini

Barang Substitusi (Pengganti)?

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Orang Lain Makan Nangka, Awak Kena Getahnya?

Selasa, 20 September 2022 | 05:35 WIB

Wonderful Indonesia I, Parang Tritis?

Selasa, 13 September 2022 | 06:57 WIB

Bjorka dan Gerakan Rakyat

Senin, 12 September 2022 | 13:06 WIB

Misteri di Balik Peningkatan Anggaran Militer ASEAN

Jumat, 9 September 2022 | 15:14 WIB

Ilmu Matematika ≠ Ilmu Sosial

Selasa, 6 September 2022 | 06:06 WIB

Rezim Baru dan BBM Rp Lima Ribu

Senin, 5 September 2022 | 12:57 WIB

Catatan Ekonomi: Social Bond dan Blended Finance

Selasa, 30 Agustus 2022 | 21:01 WIB

Pajak Kuburan?

Selasa, 30 Agustus 2022 | 06:30 WIB

Lempar Batu, Sembunyi Tangan?

Selasa, 23 Agustus 2022 | 05:52 WIB

Rektor Koruptor dan Kegagalan Revolusi Mental

Senin, 22 Agustus 2022 | 12:47 WIB

Kenaikan Harga BBM, Maju dan Mundur Kena

Minggu, 21 Agustus 2022 | 10:44 WIB

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB
X