• Jumat, 1 Juli 2022

Selamat Merayakan Hari Waisak Bagi Umat Budha

- Senin, 16 Mei 2022 | 10:00 WIB

Ilustrasi peringatan Hari Waisak di kompleks Candi Borobudur (Foto: hipwee.com)

SINARHARAPAN--Umat Budha memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2566 pada Senin (15/5) ini dalam keadaan tenang dan hidmat. Acara perayaan Waisak kembali diselenggarakan setelah dua tahun ditiadakan karena pandemi Covid-19.

Waisak merupakan hari suci yang selalu diperingati oleh umat beragama Budha di seluruh dunia. Hari raya ini diperingati pada bulan Mei saat bulan purnama sidhi atau terang bulan untuk memperingati 3 peristiwa penting. Yaitu, lahirnya pangeran Siddharta pada tahun 623 sebelum masehi, penerangan agung pageran Siddharta menjadi Buddha, dan wafatnya Buddha Gautama.

Di Indonesia secara tradisional peringatan dipusatkan di komplek candi Borobudur, Jawa Tengah. Syukurlah pada tahun ini peringatan Waisak lebih semarak, meski masih terbatas, seiring kondisi pandemic Covid-19 yang sudah menurun.

Tahun ini keadaan sudah lebih longgar. Rangkaian Perayaan Waisak 2566 dipusatkan di Candi Borobudur. Koordinator Waisak 2566 BE di Candi Borobudur, Tanto S Harsono mengatakan, setelah dua tahun ditiadakan karena pandemi, tahun ini dilangsungkan perayaan Waisak di Candi Borobudur. "Rangkaian Waisak dimulai pada, Sabtu (7/5) dengan karya bakti di Taman Makam Pahlawan (TMP) di seluruh Indonesia.”

Peringatan Hari waisak ini dilakukan untuk menghormati dan merenungkan segala sifat luhur dari triratna yaitu buddha, dharma, dan sangha. Kemudian memperkuat saddha atau keyakinan yang benar berdasarkan tekad, membina paramita atau sifat baik yang berasal dari para leluhur, mengulang kembali dan merenungkan khotbah dari sang Buddha.

Menurut cerita, Pangeran Siddhartha Gautama terlahir dalam lingkungan yang penuh kemewahan. Pada usia 16 tahun ia menikahi Yasodhara dan memiliki seorang putra semata wayang yang diberi nama Rahula.

Ayahnya meminta Sidharta kelak menjadi raja. Namun takdir membawanya ke dunia yang berbeda. Suatu saat ia menemukan "empat peristiwa" di luar kompleks istana. Yaitu, orang tua, orang sakit, orang meninggal, dan pertapa yang meninggalkan kehidupan duniawinya. Ternyata ada kehidupan yang sangat berbeda dengan segala kemewahan di dalam istana.

Hati Sidharta menjadi resah, gundah gulana. Ia merasakan penderitaan masyarakat. Timbul kesadaran bahwa segala kemewahan di lingkungan kerajaan tak mampu menolong rakyat yang penuh penderitaan. Sejak itu ia merasakan hiburan dan nyanyian para gadis penari seolah hanya mengejek hati dan pikirannya yang bergejolak.

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terkini

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB

Awak Pipit Mau Menelan Kedondong?

Selasa, 14 Juni 2022 | 06:31 WIB

Pemimpin Baru Singapura dan Dilemanya

Sabtu, 11 Juni 2022 | 19:25 WIB

Menebak Arah Politik Surya Paloh

Kamis, 2 Juni 2022 | 20:40 WIB

Mata Kuliah, “Bagaimana Berdiskusi?”

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:51 WIB

Misteri Penggulingan PM Imran Khan

Senin, 23 Mei 2022 | 13:41 WIB

Selamat Merayakan Hari Waisak Bagi Umat Budha

Senin, 16 Mei 2022 | 10:00 WIB
X