• Jumat, 1 Juli 2022

Orang Pandai Manyaring Angin, Orang Bodoh Mangacau Abu

- Selasa, 10 Mei 2022 | 09:14 WIB
Marzuki Usman (Fotodok/sinarharapan.co)
Marzuki Usman (Fotodok/sinarharapan.co)

Oleh : Marzuki Usman

Sejenak melihat kepada Pengalaman Hidupnya MU, alias Marzuki Usman, pada periode 1953-1959. Ketika itu si MU ini lagi duduk di bangku, dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, pada Sekolah Rakyat no 1, di Dusun/Desa Mersam, Ibu Kota Kecamatan Mersam, Keresidenan Jambi.

Pada masa itu, Jambi masih termasuk Provinsi Sumatera Tengah yang beribu kota di Bukit Tinggi, di Keresidenan Sumatera Barat. Semua murid belajar di satu-satunya Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Mersam yang terdiri  dua Marga (Kelurahan), yakni Marga Kembang Paseban, beribu kota di Dusun Mersam, dan satu lagi Marga Kembang Seri, beribu kota di Dusun Kembang Seri. Semua murid bersekolah tidak bersepatu atau pakai selop, tetapi hanya nyakar, alias bersepatu alami (pakai kaki saja).

Emak (Ibu) penulis menyemangati untuk bersekolah supaya bisa menjadi orang pandai. Beliau berujar bahwa, Orang Pandai itu hidupnya baik, jelasnya supaya menjadi orang kaya dan janganlah sama sekali menjadi orang miskin. Karena menjadi orang miskin kata emak penulis, susah hidupnya.

Kalau orang kaya makannya nasi yang berasnya enak dimakan. Sedangkan orang miskin makannya Ubi Kayu, alias Singkong yang direbus, dan dimakan dengan dikasih garam saja.

Emak penulis, menasehati lagi, “Untuk itu, engkau Marzuki, haruslah menjadi orang pandai. Karena orang pandai itu, kerjanya menyaring angin! Angin yang tidak kelihatan itu, bisa ia saring, karena saking pandainya dia”.

Dan Beliau melanjutkan lagi nasehatinya itu, “Orang Bodoh kerjanya mengacau abu dapur tempat kita masak!” Engkau tahu bahwa kucing sering sekali berak di abu dapur kita. Makanya orang bodoh itu, mengacau abu, karena bodoh, maka yang dia remas adalah tahi kucing!”

Pada waktu itu, belum ada kompor minyak tanah, apalagi kompor listrik atau kompor gas. Pada setiap rumah dibuatlah kotak kayu diisi tanah, yang lama kelamaan menjadi abu, dan di situlah tempat masak memasak. Dan sang kucing rumah, ikut memanfaatkan abu dapur itu untuk tempat dia berak!

Nasihat Emak penulis itu selalu terngiang, alias teringat selalu kepada diri penulis sendiri, dari belajar di Sekolah : SD, SMP, SMA, dan sampai kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, di Yogyakarta. Dan, kemudian lagi, ketika penulis kuliah di Fakultas Ekonomi di Duke University, di kota Durham, Provinsi Carolina Utara, Amerika Serikat.

Halaman:

Editor: Joko M

Sumber: opini

Tags

Terkini

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB

Awak Pipit Mau Menelan Kedondong?

Selasa, 14 Juni 2022 | 06:31 WIB

Pemimpin Baru Singapura dan Dilemanya

Sabtu, 11 Juni 2022 | 19:25 WIB

Menebak Arah Politik Surya Paloh

Kamis, 2 Juni 2022 | 20:40 WIB

Mata Kuliah, “Bagaimana Berdiskusi?”

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:51 WIB

Misteri Penggulingan PM Imran Khan

Senin, 23 Mei 2022 | 13:41 WIB

Selamat Merayakan Hari Waisak Bagi Umat Budha

Senin, 16 Mei 2022 | 10:00 WIB
X