• Jumat, 1 Juli 2022

RI 1948-1949, Serangan Umum 1 Maret dan Ajang Diplomasi (Bagian II)

Banjar Chaeruddin
- Rabu, 4 Mei 2022 | 09:30 WIB
AB Kusuma.(dok/Cendananews.com)
AB Kusuma.(dok/Cendananews.com)

Oleh Daud Sinjal

*Percakapan dengan AB Kusuma (bagian II, habis)

Penetapan pemerintah mengenai peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara masih menuai kontroversi. Berikut pendapat ahli sejarah hukum tata negara, Ananda B. Kusuma, seperti diutarakannya kepada wartawan senior Sinar Harapan, Daud Sinjal baru-baru ini.

SINARHARAPAN--Kejadian Serangan Umum 1 Maret 1949 (SU 1 Maret) yakni serangan TNI atas Yogya dan menguasainya selama 6 jam berada di antara sidang darurat DK PBB 22 Desember 1948 yang mengeluarkan resolusi 28 Januari 1949 sampai tercapainya Roem-Roijen Statement 7 Mei 1949. Serangan itu untuk menunjukkan pemerintah RI masih eksis dan efektif dan tentaranya masih solid.

Lalu siapa yang mengambil inisiatif dan merencanakan serangan TNI atas Yogya itu? AB Kusuma menyebutkan empat nama: Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Sultan Yogya, Panglima Besar Sudirman, Kolonel Bambang Sugeng selaku Gubernur Militer Yogyakarta, dan Letnan Kolonel Soeharto sebagai komandan brigade di Yogya.

AB Kusuma tidak melihat di mana peranan Soekarno dan Hatta dalam kampanye militer ini. Mereka masih menjadi tawanan di Bangka. Hatta justru terlibat pada ajang diplomasi, yaitu ketika ia dipanggil untuk ikut sebagai penasehat RI dalam perundingan Roem-Roijen.

Menurut AB Kusuma adalah Gubernur Militer Bambang Sugeng yang memerintahkan serangan umum itu kepada Soeharto. Tapi Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga jelas diketahui memberi pengarahan kepada Soeharto.

Pimpinan RI mendengar resolusi DK PBB 28 Januari melalui siaran radio. Kolonel Bambang Sugeng menanggapi butir resolusi tentang penyerahan kembali Yogya bertekad melancarkan serangan besar-besaran merebut kembali Yogya, "tidak harus menunggu sampai dikembalikan". Ia sudah memberi perintah kepada overste Soeharto (sebutannya overste bukan letnan kolonel) di awal Februari untuk mempersiapkan serangan besar besaran tersebut.

Sultan Hamengku Buwono IX yang tetap berada di Yogya juga menanggapi resolusi DK PBB. Ia memanggil Soeharto. Di sini Sri Sultan HB IX bertindak dalam kedudukannya sebagai raja yang memanggil kawulanya. Letnan Kolonel Soeharto datang ke keraton berpakaian abdi dalem, diantar oleh Pangeran Prabuningrat (adik Sri Sultan). Masuk melalui pintu belakang.

Halaman:

Editor: Banjar Chaeruddin

Tags

Terkini

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB

Awak Pipit Mau Menelan Kedondong?

Selasa, 14 Juni 2022 | 06:31 WIB

Pemimpin Baru Singapura dan Dilemanya

Sabtu, 11 Juni 2022 | 19:25 WIB

Menebak Arah Politik Surya Paloh

Kamis, 2 Juni 2022 | 20:40 WIB

Mata Kuliah, “Bagaimana Berdiskusi?”

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:51 WIB

Misteri Penggulingan PM Imran Khan

Senin, 23 Mei 2022 | 13:41 WIB

Selamat Merayakan Hari Waisak Bagi Umat Budha

Senin, 16 Mei 2022 | 10:00 WIB
X