• Jumat, 1 Juli 2022

Solusi Unik Lawan Solusi Masal

- Selasa, 26 April 2022 | 09:19 WIB
Marzuki Usman (Fotodok/sinarharapan.co)
Marzuki Usman (Fotodok/sinarharapan.co)

Oleh : Marzuki Usman

SINAR HARAPAN - Pada tahun 1974, penulis mengikuti kuliah tahun kedua sebagai Mahasiswa Graduate yang harus mengambil kuliah mata Kuliah Ekonomi Kuantitatif, sebagai syarat mengambil gelar Master of Arts (MA), pada Duke University, di Durham, Provinsi Carolina Utara (North Carolina).

Mata Kuliah ini banyak menggunakan Persamaan Matematika. Untung saja penulis belajar matematika ketika belajar sebagai siswa SMA Negeri 1 di Jambi, pada tahun 1960-an.

Profesor DR. Daniel Graham yang memberi mata kuliah tersebut menjelaskan bagaimana mencari solusi (penyelesaian) dari suatu permasalahan. Menurut Beliau, “Setiap masalah harus ada penyelesaiannya. Dan yang paling bagus, penyelesaian itu unik. Artinya penyelesaiannya jelas dan tidak bisa dibaca bermacam-macam.”

Beliau menjelaskan lagi, secara ilmu matematika, “Kalau dua garis lurus bersilang, maka cuma ada satu titik temu. Demikian pula dengan masalah ekonomi, harus dicari pemecahan yang unik, alias cuma itulah solusinya. Ini adalah solusi yang paling diinginkan. Akan tetapi, kalau penyelesaian yang unik tidak diperoleh, maka boleh saja solusinya banyak. Namun lebih baik ada solusi, walaupun banyak solusinya dari pada sama sekali tidak ada solusi”.

Profesor DR. Daniel Graham, meneruskan, “bahwa kalau dua garis lurus berpotongan dalam bentuk garis, dan bukan titik, maka ini dibaca solusi yang tidak unik.

Tetapi para ekonom banyak berpendapat, bahwa lebih baik punya keputusan kebijakan ekonomi, meskipun tidak unik, dari pada sama sekali tidak diambil Kebijakan Ekonomi“. Beliau menyatakan lagi, “Kalau hal seperti ini terjadi pada suatu negara, maka akan bertambah banyak masalah ekonomi yang dihadapi oleh negara itu.”

Pengalaman pada Negara Republik Indonesia, Ketika pada tahun 1965, tingkat Inflasinya sampai kepada angka 650% per tahun. Maka diambilah solusi yang unik yaitu Kebijakan Makro Ekonomi yang dikenal dengan nama Kebijakan Uang Beredar yang Ketat (Tight Money Policy).

Pada waktu itu digalakkan menabung uang kepada rakyat Indonesia dan perbankan memperketat pemberian kreditnya sehingga akibatnya, permintaan uang untuk pembelian barang oleh rakyat lalu berkurang. Dan disamping itu dari sudut penawaran, produksi barang dinaikkan, terutama produksi beras dan sembilan bahan pokok lainya.

Alhamdulillah hasilnya, NKRI keluar berhasil dari inflasi yang tinggi, dan bertumbuhnya produk barang yang diperlukan oleh rakyat.

Halaman:

Editor: Joko M

Sumber: opini

Tags

Terkini

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB

Awak Pipit Mau Menelan Kedondong?

Selasa, 14 Juni 2022 | 06:31 WIB

Pemimpin Baru Singapura dan Dilemanya

Sabtu, 11 Juni 2022 | 19:25 WIB

Menebak Arah Politik Surya Paloh

Kamis, 2 Juni 2022 | 20:40 WIB

Mata Kuliah, “Bagaimana Berdiskusi?”

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:51 WIB

Misteri Penggulingan PM Imran Khan

Senin, 23 Mei 2022 | 13:41 WIB

Selamat Merayakan Hari Waisak Bagi Umat Budha

Senin, 16 Mei 2022 | 10:00 WIB
X