• Jumat, 1 Juli 2022

Siapa Beruntung dari Perang di Ukraina?

- Senin, 11 April 2022 | 13:52 WIB
Ilustrasi konflik antara Ukraina dan Rusia.(dok/ist)
Ilustrasi konflik antara Ukraina dan Rusia.(dok/ist)



Oleh: Sjarifuddin Hamid

Perang Rusia-Ukraina tampaknya tidak akan berakhir dalam waktu dekat sebab ini adalah kesempatan untuk melemahkan pemerintahan Presiden Vladimir Putin dari aspek ekonomi, pengucilan internasional dan membangkitkan oposisi di dalam negeri. Bila Putin jatuh, maka musuh blok Barat, yang dipimpin AS,  tinggal China.

Sikap Barat yang ingin menciptakan perang berlarut tampak dari penolakan untuk menerima keanggotaan Ukraina dalam NATO, namun mengirimkan bantuan militer besar-besaran serta personil untuk melatih tentara Ukraina mengoperasikan rudal, drone, peralatan komunikasi dan lain-lain.

AS juga mengorganisir lembaga-lembaga internasional, puluhan negara, lebih dari seratus perbankan, lembaga keuangan dan perusahaan multinasional untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Kemudian juga melancarkan perang di dunia maya.

Kerjasama yang tersisa antara AS dan Rusia adalah di bidang ruang angkasa, pengendalian senjata nuklir serta melanjutkan kontrak perdagangan minyak mentah, batubara dan pupuk mineral yang masih tersisa.     

Ukraina Ajang Ruang Pengaruh

Ukraina tergolong negara miskin di Eropa akibat perilaku korup para pejabatnya serta ketidakstabilan politik dan keamanan di kawasan Donbass yang berbatasan dengan Rusia. Padahal produk pertanian, industri pertambangan, pesawat terbang dan truk, senjata, pesawat ruang angkasa dan industri manufakturnya tergolong maju.

Ukraina juga populer di kalangan wisatawan asing karena keindahan alam, makanan sehat dan penduduknya yang ramah secara alamiah.     

Produk Domestik Bruto (PDB) nominal per kapita tahun 2021 US$4.380 (nomor 109 di dunia), sedangkan bila dihitung dari daya beli per kapita US$ 14.150 (nomor 108 di dunia).

Sebagai negara penyangga, yang terletak di antara negara-negara anggota NATO antara lain Polandia dan Rumanis, Ukraina menjadi ajang perebutan ruang pengaruh antara Rusia dan NATO terutama Amerika Serikat dan Inggris.

Rusia sebelumnya mempertanyakan mengapa NATO tidak dibubarkan, sekalipun Pakta Warsawa yang menjadi saingannya sudah berantakan. Bahkan mayoritas anggotanya diterima  bergabung dengan NATO.

Rusia juga meminta bergabung dengan NATO tetapi ditolak. Alasannya, harus lebih dulu mengajukan permohonan bukan diundang menjadi anggota.
Pelawak Jadi Presiden

Presiden Ukraina Viktor Yanukovych pada 2013 memutuskan menolak perjanjian yang lebih luas dengan Uni Eropa (UE). Pada masa presiden sebelumnya, NATO membuat perjanjian Kemitraan untuk Prakarsa Perdamaian dengan Ukraina.

Rusia mengartikan kebijaksanaan UE dan NATO itu merupakan strategi merayap yang membahayakan. Tahun 2014, Rusia menduduki Semenanjung Krimea yang berhadapan dengan laut Hitam.

Dalam Pemilu 2014, Presiden Petro Poroshenko dari partai Independen, menjabat mulai 2014 hingga 2019. Sebelumnya pernah al. menjadi menjadi gubernur, mendag dan menlu. Dia juga dikenal sebagai salah seorang terkaya.

Pada pemilu tahun 2019, Poroshenko dikalahkan Volodimyr Zelensky yang tak punya pengalaman di kalangan pemerintahan, tetapi populer di panggung seni karena merupakan seorang pelawak.

Dia pun mengangkat rekan-rekannya di dunia hiburan sebagai anggota kabinet. Pemerintahannya memang populer tetapi dipertanyakan kemampuannya mengendalikan Ukraina sebagai negara penyangga, koruptif dan riuh dengan persoalan bahasa serta etnis.

Sebagaimana diketahui penduduk Ukraina terdiri dari Ukraina 77,8% dan Rusia 17,3% yang umumnya tinggal di kawasan Donbass. Sisanya terdiri dari suku Bulgaria, Belarusia dan lain-lain.

Dalam kondisi Ukraina yang carut marut seperti saat ini, efektifitas pemerintahan Zelensky patut dipertanyakan. Dia menjadi tergantung kepada negara lain. Konsekuensinya, tidak leluasa menentukan sikap baru termasuk dalam membuat klausul perjanjian dengan Rusia.

Siapa Beruntung?

Ukraina yang paling dirugikan. Sebagian besar permukiman, infrastruktur dalam arti luas hancur. Setidaknya lebih dari dua juta penduduk mengungsi ke luar negeri, sedangkan yang tertinggal terancam kelaparan, wabah penyakit dan sebagainya.

Belakangan mulai terdengar US$800 miliar uang Rusia yang dibekukan di bank/lembaga keuangan luar negeri kelak dipakai untuk program rehabilitasi.  

Rusia menempuh jalur panjang untuk menciptakan negara penyangga yang bisa dipercaya dan NATO yang tidak akan menambah lagi keanggotaan baru. Upaya ini tak berhasil dan malah mendapat stigma sebagai aggressor yang menguasai Semenanjung Krimea.

Putin yang berpengalaman sepertinya sudah mempersiapkan diri terhadap resiko yang akan timbul dari keputusannya mewujudkan situasi kondusif di kawasan Donbass khususnya dan Ukraina pada umumnya.

Rusia menjadikan sebagai penjera 1.185 rudal nuklir balistik antar benua yang diluncurkan dari wilayahnya. Sejumlah 800 rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam dan 580 bom nuklir yang dibawa pesawat terbang.

Rusia memanfaatkan ekspor minyak, LNG dan batubara  sebagai senjata penekan untuk negara-negara Eropa, terutama Jerman. Setiap tahun Eropa harus mengimpor puluhan miliar euro untuk industri dan rumah tangga.

Seperti pada konflik di masa lalu, Amerika Serikat selalu mengambil manfaat. Kali ini menjadi godfather untuk Eropa sebagaimana yang terjadi pada Perang Dunia Kedua.

Dalam tingkat korporasi, maka produsen senjata yang akan menikmati keuntungan. Presiden Biden sudah menjanjikan bantuan militer US$1 miliar dan sebagian direalisasikan. Australia, Inggris, Prancis bahkan Jerman mengirim berbagai jenis peralatan militer.  

Semua bantuan militer itu seperti kayu bakar yang membuat perang Ukraina berlarut dan makin hancur. Dunia juga akan pengaruh karena krisis Migas, produk-produk pertanian dan inflasi tinggi.

Perang Ukraina memberi pelajaran tentang pentingnya mengurangi ketergantungan luar negeri, kepiawaian mengendalikan negara dan pemimpin yang memiliki latar belakang luas.

Indonesia juga akan menjadi ajang bila Amerika Serikat dan kawan-kawan beralih perhatian ke Asia Tenggara.(*)

Penulis adalah pengamat internasional.

Editor: Norman Meoko

Tags

Terkini

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB

Awak Pipit Mau Menelan Kedondong?

Selasa, 14 Juni 2022 | 06:31 WIB

Pemimpin Baru Singapura dan Dilemanya

Sabtu, 11 Juni 2022 | 19:25 WIB

Menebak Arah Politik Surya Paloh

Kamis, 2 Juni 2022 | 20:40 WIB

Mata Kuliah, “Bagaimana Berdiskusi?”

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:51 WIB

Misteri Penggulingan PM Imran Khan

Senin, 23 Mei 2022 | 13:41 WIB

Selamat Merayakan Hari Waisak Bagi Umat Budha

Senin, 16 Mei 2022 | 10:00 WIB
X