• Kamis, 11 Agustus 2022

Sulit Harapkan Langkah Terobosan Holding BUMN Pangan

- Kamis, 13 Januari 2022 | 21:13 WIB
ID Food sebagai identitas baru holding BUMN Pangan
ID Food sebagai identitas baru holding BUMN Pangan

JAKARTA--Pemerintah telah membentuk perusahaan induk (holding company) di bidang pangan dengan ambisi besar untuk mengefisienkan pengadaan dan distribusi bahan kebutuhan masyarakat. Tujuan yang mulia tentu harus didukung. Namun masih harus ditelaah apakah perusahaan raksasa tersebut memang memiliki kemampuan sepadan atau kebijakan ini hanya konsolidasi beberapa BUMN yhang kinerjanya tidak bagus.

BUMN Holding baru tersebut Bernama “ID Food” hasil peleburan dari lima perusahaan pemerintah. Proses pembentukan holding pangan ini telah selesai dilaksanakan, ditandai dengan penandatanganan akta inbreng saham pada 7 Januari 2022. Pemerintah mengalihkan saham lima BUMN pangan, yakni PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, PT Sang Hyang Seri, PT Perikanan Indonesia, PT Berdikari, dan PT Garam kepada PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI sebagai induk holding BUMN pangan.

Menteri BUMN, Erick Thohir menyatakan, pembentukan Holding BUMN akan menciptakan nilai tambah, efisiensi, penguatan rantai pasok, hingga inovasi bisnis model. "Adanya holding BUMN pangan juga menjadi prioritas utama dalam transformasi industri pangan mengingat Indonesia sebagai negara agraris," ujar Menteri Erick, pekan ini.

Menurut Direktur Utama PT RNI (Persero), Arief Prasetyo Adi, launching identitas baru Holding Pangan tersebut menjadi pemicu semangat untuk mewujudkan tiga sasaran. Yaitu mendukung ketahanan pangan nasional, inklusivitas bagi petani peternak dan nelayan, serta menjadi perusahaan pangan berkelas dunia.

Masalah pangan di negeri ini ternyata lebih ruwet dari kemampuan pemerintah menanganinya. Pemerintah sejak jaman pemerintah Orde Baru telah membentuk Badan Urusan Logistik (Bulog) yang juga berfungsi menjaga stabilitas harga pangan. Bulog bertindak sebagai pembeli hasil petani dan mendistribusikannya ke pasaran.

Namun kebijakan harga yang dikendalikan menyebabkan petani tidak bisa menjual produknya dengan harga tinggi sehingga mereka mengalami kesulitan untuk menutup kebutuhan biaya produksi. Bulog juga harus menjual harga bahan pangan dengan patokan  tertentu untuk menjaga tidak terjadi ancaman  inflasi karena harga melonjak di pasaran.

Akibatnya selama puluhan tahun petani tidak mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, bahkan terjadi kecenderungan penurunan angkatan kerja di sektor pertanian. Sangat terasa angkatan kerja muda di pedesaan tidak mau lagi mennggantungkan masa depan mereka di sector ini sehingga kemampuan produksi pun terus menurun.

Bulog yang sudah sangat berpengalaman di sector ini tidak diajak masuk dalam pembentukan holding pangan tersebut. Kemana sebetulnya arah yang ingin dituju pemerintah ke depan karena keenam perusahaan yang bergabung tersebut tidak memilki kinerja cemerlang di bidang ini.

Seperti dikutip media, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI, Arief Prasetyo Adi mengakui beberapa anak perusahaan Holding BUMN Pangan ID Food, masih ada yang mencatatkan kinerja keuangan negatif. RNI sebagai induk Holding ID Food, diberi target untuk menghijaukan kinerja keuangan anak-anak perusahaan holding yang masih negatif tersebut.

Halaman:

Editor: editor1

Tags

Terkini

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB

Awak Pipit Mau Menelan Kedondong?

Selasa, 14 Juni 2022 | 06:31 WIB
X