• Rabu, 17 Agustus 2022

Pembahasan Nuklir Iran, Ditentukan di Luar Sidang

- Selasa, 21 Desember 2021 | 12:16 WIB
Program nuklir Iran.
Program nuklir Iran.

PERUNDINGAN tentang nuklir Iran di Wina sudah berlangsung hampir satu bulan, namun belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Kerumitan prosedur menjadi salah satu penyebab.

Perunding Inggris, Jerman, Prancis, China, Rusia dan Iran secara berkala harus melaporkan ke pemerintah masing-masing tentang pembahasan materi. Penggodogan di ‘pusat’ lebih lama karena harus mempertimbangkan kepentingan bisnis dan hubungan antar negara.

Kerumitan lain, sekalipun AS sudah keluar dari kelompok enam pada 8 Mei 2018 namun secara informal masih menentukan arah perundingan. Washington harus menyetujui hasilnya sebagai syarat bergabung lagi.

Di luar ‘persidangan’, Israel menyatakan akan mengambil tindakan baik melalui perang ataupun mensabotase fasilitas nuklir Iran. Tel Aviv telah membangun ‘persekutuan’ melalui normalisasi hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain serta membangun hubungan baik dengan Qatar. Ketiganya bertangga dengan Iran tetapi tak akur gara-gara isyu Sunni-Syiah dan batas wilayah.

Ketiga negara Teluk bersama Saudi Arabia dikabarkan ingin pemerintahan Joe Biden membendung Iran agar tidak menjadi ancaman. Mereka khawatir Washington kini lebih fokus bersaing dengan China di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Iran sebenarnya bersama AS, Prancis, Jerman, Prancis, Rusia dan China (1+6) telah menyepakati Joint Plan of Action (JPoA) pada 2015. Iran sepakat (1) membatasi pengayaan uraniumnya untuk tujuan sipil saja.(2) Membatasi jumlah bahan yang ditimbunnya. (3) Peralatan yang digunakan untuk melakukan pengayaan uranium. (4) Mengizinkan tenaga-tenaga ahli asing dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), untuk melakukan pemeriksaan kebenaran kesepakatan itu.

Sebagai imbalannya, Iran diperbolehkan memperoleh kembali aset-asetnya dibekukan di luar negeri, baik yang disebabkan kemenangan Revolusi Iran pada 1979 dan berdasarkan JPoA.

Aset

Menurut laman Iran Primer, aset Iran yang dibekukan lebih dari US$100 miliar. Aset ini merupakan cadangan antara lain dalam bentuk dolar dan euro serta dikelola Bank Sentral Iran. Cadev itu merupakan hasil penjualan minyak mentah, dipakai untuk mengelola perekonomian secaa umum serta menjadi penyangga neraca pembayaran mengalami defisit.

Halaman:

Editor: editor3

Tags

Terkini

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB
X