• Kamis, 29 September 2022

Hati-Hati Dengan Angka Pertumbuhan!

- Selasa, 9 November 2021 | 08:01 WIB
Marzuki Usman
Marzuki Usman

PERISTIWANYA terjadi di Kampus Duke University, Durham, North Carolina USA. Ketika itu pada tahun 1974, penulis mengikuti kuliah S2, “Ekonomic Development (Pembangunan Ekonomi)” pada suatu negara. Kuliahnya, disampaikan oleh Profesor DR. Martin Bronfen Brenner, seorang Ahli Ekonomi Pembangunan yang terkenal di Amerika Serikat.

Beliau berujar bahwa untuk membuat dari suatu negara menjadi negara kaya, maka diperlukan investasi yang besar sekali. Beliau mensitir pendapat dari Ahli Pembangunan Ekonomi yang tersohor dikala itu, di Amerika Serikat, yakni Prof. DR. W.W Rostow, yang berpendapat “Bahwa apabila negara yang sedang berkembang, investasinya tidak cukup besar, maka negara itu lagi berada dalam “Perangkap Kemiskinan”.

Oleh karena itu, negara itu haruslah berinvestasi besar sekali, sehingga pertumbuhan ekonominya besar sekali, sehingga negara yang bersangkutan itu bisa menembus “Perangkap Kemiskinan”, seraya secara pesat, menuju kearah Negara Kaya.

Profesor DR. Martin Bronfen Brenner, berujar lagi, “Hal seperti itu sudah terjadi di Negara Jepang pada abad ke19. Jepang berinvestasi besar sekali. Maka pada abad ke 20, yakni pada tahun 1940 an itu Jepang sudah berani berperang melawan Amerika Serikat”

Beliau melanjutkan lagi ,” Kalau investasi di negara yang miskin itu jumlahnya tanggung sekali, maka negara itu tidak bisa menembus “Perangkap Kemiskinan” itu.

Beliau memberikan contoh yang terjadi pada suatu negara di Amerika Tengah. Di negara itu Presidennya, seorang diktator.

Pada suatu hari, kantor pusat statistiknya melapor, bahwa pertumbuhan ekonomi pada suatu tahun yang dilaporkan sudah mencapai 7% pertahun. Pada tahun-tahun sebelumnya pertumbuhan ekonominya selalu dibawah 4% pertahun.

Maka, sang diktator lalu berpidato berapi-api menyampaikan kepada rakyatnya, “Bahwa Negara kita lagi tumbuh pesat sekali”. Beliau lupa untuk melihat berapa sesungguhnya Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada kedua tahun yang dilaporkan itu.

Sesungguhnya negara diktator itu, tingkat pertumbuhan ekonomi yang dilaporkan itu adalah 7%, adalah betul. Tetapi, kenaikan PDB nya dari Rp 100 triliun menjadi Rp 107 triliun, berarti negara diktator itu sudah tumbuh 7%.

Halaman:

Editor: editor3

Tags

Terkini

Barang Substitusi (Pengganti)?

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Orang Lain Makan Nangka, Awak Kena Getahnya?

Selasa, 20 September 2022 | 05:35 WIB

Wonderful Indonesia I, Parang Tritis?

Selasa, 13 September 2022 | 06:57 WIB

Bjorka dan Gerakan Rakyat

Senin, 12 September 2022 | 13:06 WIB

Misteri di Balik Peningkatan Anggaran Militer ASEAN

Jumat, 9 September 2022 | 15:14 WIB

Ilmu Matematika ≠ Ilmu Sosial

Selasa, 6 September 2022 | 06:06 WIB

Rezim Baru dan BBM Rp Lima Ribu

Senin, 5 September 2022 | 12:57 WIB

Catatan Ekonomi: Social Bond dan Blended Finance

Selasa, 30 Agustus 2022 | 21:01 WIB

Pajak Kuburan?

Selasa, 30 Agustus 2022 | 06:30 WIB

Lempar Batu, Sembunyi Tangan?

Selasa, 23 Agustus 2022 | 05:52 WIB

Rektor Koruptor dan Kegagalan Revolusi Mental

Senin, 22 Agustus 2022 | 12:47 WIB

Kenaikan Harga BBM, Maju dan Mundur Kena

Minggu, 21 Agustus 2022 | 10:44 WIB

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB
X