• Kamis, 29 September 2022

Jangan Hanya Janji, Pemerintah Harus Tegas Hentikan Deforestasi

- Selasa, 2 November 2021 | 18:30 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA--Sebuah kesepakatan penting dicapai dalam KTT mengenai perubahan iklim yang berlangsung di Glasgow, Skotlandia, berkaitan dengan penghentian penggundulan hutan (deforestasi). Kesepakatan tersebut disertai dengan dukungan dana sebagai kompensasi atas penghentian pembabatan hutan tersebut, mengingat dampak negatifnya sangat besar dan menyengsarakan rakyat.

Indonesia sebagai salah satu pemilik hutan yang sangat luas memiliki tanggungjawab besar bagi suksesnya kesepakatan tersebut. Lagi pula deforestasi di Indonesia berlangsung sangat massif selama 50 tahun terakhir. Banyak pengusaha berkembang menjadi sangat kaya raya dengan memanfaatkan kekayaan hutan, namun dampak yang ditimbulkan sangat merugikan rakyat hingga saat ini.

Banyak wilayah di Indonesia yang kini rawan kebakaran hutan di musim kemarau dan menderita banjir bandang di musim penghujan. Sebagian besar penyebabnya adalah penggundulan hutan yang terus terjadi.

Maka kesepakatan penghentian deforestasi dalam 9 tahun ke depan sangatlah relevan bagi Indonesia. Dikabarkan dari Glasgow bahwa sebanyak 100 negara yang mewakili 85 persen dari hutan di dunia berkomitmen selama 9 tahun ke depan untuk menghentikan deforestasi dalam perhelatan COP26 hari ke-3 di Glasgow, Skotlandia. Komitmen ini akan didukung menggunakan pendanaan senilai US$19,2 miliar.

Selain itu juga akan disediakan oleh 12 negara termasuk Inggris senilai US$12 miliar melalui pendanaan publik dari 2021-2025. Pendanaan ini akan digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan, restorasi lahan, dan membantu masyarakat adat. Sebelumnya dikabarkan bahwa upaya pencegahan perubahan iklim akan menelan biaya hingga US$100 milyar.

Juru bicara pemerintah Inggris mengatakan kontribusi ini berasal dari komitmen keuangan yang sudah ada. "Dengan komitmen yang belum pernah terjadi sebelumnya hari ini, kita akan memiliki kesempatan untuk mengakhiri sejarah panjang umat manusia sebagai penakluk alam, dan sebagai gantinya menjadi penjaganya,” kata Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, seperti dikutip Bloomberg pada Selasa (2/11).

Sebanyak 30 perusahaan keuangan termasuk Aviva Plc., Schroders dan Axa juga bakal berkontribusi untuk menghentikan investasi pada kegiatan yang berhubungan dengan deforestasi. Inggris mengatakan terdapat wilayah hutan sebesar 27 lapangan sepak bola yang hilang setiap menitnya.

Beberapa negara seperti Brasil, Rusia, Kanada, Kolombia dan Indonesia bakal berupaya untuk menghentikan kehilangan hutan dan degradasi lahan hingga 2030. Peran Brasil yang memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia menjadi sangat krusial di tengah ambisi negara-negara untuk mengurangi emisi dan mengatasi deforestasi.

Peneliti isu perubahan iklim Heru Santoso mengatakan Indonesia ikut berkontribusi dalam perubahan iklim dunia, dengan sumbangan besar ke depan adalah emisi atau gas buang dari pemakaian energi. “Tapi selama ini penyumbang besar dari emisi Indonesia adalah deforestasi dan kebakaran hutan, terutama di lahan gambut,” kata peneliti ahli madya Pusat Riset Geoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional itu, beberapa waktu lalu.

Halaman:

Editor: editor1

Tags

Terkini

Barang Substitusi (Pengganti)?

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Orang Lain Makan Nangka, Awak Kena Getahnya?

Selasa, 20 September 2022 | 05:35 WIB

Wonderful Indonesia I, Parang Tritis?

Selasa, 13 September 2022 | 06:57 WIB

Bjorka dan Gerakan Rakyat

Senin, 12 September 2022 | 13:06 WIB

Misteri di Balik Peningkatan Anggaran Militer ASEAN

Jumat, 9 September 2022 | 15:14 WIB

Ilmu Matematika ≠ Ilmu Sosial

Selasa, 6 September 2022 | 06:06 WIB

Rezim Baru dan BBM Rp Lima Ribu

Senin, 5 September 2022 | 12:57 WIB

Catatan Ekonomi: Social Bond dan Blended Finance

Selasa, 30 Agustus 2022 | 21:01 WIB

Pajak Kuburan?

Selasa, 30 Agustus 2022 | 06:30 WIB

Lempar Batu, Sembunyi Tangan?

Selasa, 23 Agustus 2022 | 05:52 WIB

Rektor Koruptor dan Kegagalan Revolusi Mental

Senin, 22 Agustus 2022 | 12:47 WIB

Kenaikan Harga BBM, Maju dan Mundur Kena

Minggu, 21 Agustus 2022 | 10:44 WIB

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB
X