• Kamis, 29 September 2022

Pentingnya Membenahi Sejarah

- Rabu, 27 Oktober 2021 | 21:40 WIB
Ilustrasi grafis
Ilustrasi grafis

 

Oleh Taufik Darusman 

JAKARTA--Dari waktu ke waktu saya minum kopi atau makan siang bersama dengan warga asing, umumnya pengusaha atau diplomat, untuk bertukar pikiran atau membahas topik tertentu yang sedang hangat. Kerap kali mereka memiliki sudut pandang yang dapat melengkapi sudut pandang perihal suatu peristiwa penting di dalam maupun di luar negeri.

Perjumpaan semacam ini juga saya manfaatkan untuk menjaga kefasihan dalam berbahasa asing yang mulai luntur akibat tidak pernah lagi ke luar negeri akibat pandemi. Kalau mereka yang mengajak, kami bersantap di restoran Italia atau Jepang. Kalau saya yang ajak, saya undang ke restoran khas Indonesia karena (terutama) lebih murah dan sekalian promosi kuliner Nusantara.  

Menjelang Hari Sumpah Pemuda saya teringat akan makan siang bersama dengan Philippe Augier beberapa hari setelah 17 Agustus. Philippe adalah penguasaha Perancis yang sudah bermukim puluhan tahun di Indonesia. Ia memiliki hotel dan museum seni rupa di Bali, masing-masing di Ubud dan Nusa Dua. Ia juga ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia-Perancis. Setelah kami memesan makanan, ia mengucapkan selamat atas perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-76.

“Banyak yang sudah dicapai oleh Indonesia selama ini. Terus terang, lebih banyak dari apa yang telah dicapai bekas koloni-koloni Perancis seperti, misalnya, Aljazair dan Tunisia,” katanya.

“Terims, Philippe, tapi itu tidak lepas dari investasi dan dukungan negara-negara maju seperti Perancis. Tapi bekas jajahan Anda, Vietnam, juga hebat perkembangannya, apalagi kalau mereka tidak berperang selama belasan tahun melawan AS,” saya berkata.

   “Betul, tapi saya kerap bertanya-tanya mengapa Indonesia sampai bisa dijajah selama 350 tahun oleh sebuah negara kecil seperti Negeri Belanda? Anda ‘kan terkenal sebagai bangsa pejuang yang hebat?” katanya.

“Tunggu dulu, Philippe. Anda, seperti mayoritas warga Indonesia, adalah korban sejumlah ahli sejarah kita yang berkhayal tentang itu,” kata saya, seraya berusaha menafikan apa yang oleh banyak orang dianggap sebagai kekeliruan yang memalukan.

Halaman:

Editor: editor1

Tags

Terkini

Barang Substitusi (Pengganti)?

Selasa, 27 September 2022 | 07:58 WIB

Orang Lain Makan Nangka, Awak Kena Getahnya?

Selasa, 20 September 2022 | 05:35 WIB

Wonderful Indonesia I, Parang Tritis?

Selasa, 13 September 2022 | 06:57 WIB

Bjorka dan Gerakan Rakyat

Senin, 12 September 2022 | 13:06 WIB

Misteri di Balik Peningkatan Anggaran Militer ASEAN

Jumat, 9 September 2022 | 15:14 WIB

Ilmu Matematika ≠ Ilmu Sosial

Selasa, 6 September 2022 | 06:06 WIB

Rezim Baru dan BBM Rp Lima Ribu

Senin, 5 September 2022 | 12:57 WIB

Catatan Ekonomi: Social Bond dan Blended Finance

Selasa, 30 Agustus 2022 | 21:01 WIB

Pajak Kuburan?

Selasa, 30 Agustus 2022 | 06:30 WIB

Lempar Batu, Sembunyi Tangan?

Selasa, 23 Agustus 2022 | 05:52 WIB

Rektor Koruptor dan Kegagalan Revolusi Mental

Senin, 22 Agustus 2022 | 12:47 WIB

Kenaikan Harga BBM, Maju dan Mundur Kena

Minggu, 21 Agustus 2022 | 10:44 WIB

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB
X