Kemerdekaan adalah Permulaan Sebuah Jalan yang Panjang

- Senin, 16 Agustus 2021 | 08:31 WIB
Ilustrasi - Kemerdekaan.
Ilustrasi - Kemerdekaan.




SEBAGIAN besar rakyat dan pemimpin gagal memanfaatkan status kemerdekaan yang berhasil diraihnya. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan konflik-konflik internal yang timbul pasca kemerdekaan.

Semangat nasionalisme yang menggebu menghapus lembaga-lembaga, sistem atau perusahaan eks penjajah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan. 

Indonesia menghabiskan 20 tahun untuk menyelesaikan konflik antar pemimpin, memadamkan pemberontakan dan memilih bentuk negara atau sistem politik yang sesuai. Baru pada sekitar tahun 1967, dicanangkan pembangunan melalui pertumbuhan ekonomi yang berdasarkan kestabilan politik dan keamanan, utang luar negeri dan investasi(asing).  

Dalam perjalanannya, ternyata Indonesia tidak cukup mempunyai human capital dalam menghadapi globalisasi. Di samping tiadanya faktor-faktor pendukung bagi kemandirian sikap.

Mensristek BJ Habibie telah mendorong peningkatan human capital, tetapi intrik politik menggagalkannya. Dalam konteks ini, pemerintah pada pasca kemerdekaan ternyata lebih banyak menghadapi ‘musuh’ dari dalam negeri  ketimbang asing. 

Pasca reformasi menghadirkan situasi baru yakni pengabaian terhadap hukum yang menyebabkan penyalahgunaan wewenang secara perorangan maupun bersama. Indonesia Corruption Watch (ICW) mengungkapkan, kerugian negara akibat tindak pidana korupsi pada 2020 mencapai Rp 56,7 triliun. Adapun uang pengganti tindak pidana korupsi itu Rp 8,9 triliun.

Selain tindak pidana korupsi, Indonesia dan pemerintah negara berkembang lain  menghadapi masalah kesehatan, kepatuhan terhadap hukum (secara umum), human capital serta sistem politik dan ekonomi yang sesuai.

Indonesia pasca pemerintahan Presiden Soeharto menerapkan sistem politik yang demokratis dengan DPR dan parpol memainkan peran yang lebih dominan. Ternyata yang terjadi kemudian adalah menjamurnya praktek-praktek transaksional yang menyuburkan ketidak patuhan terhadap hukum.

Sekalian praktek itu berlangsung sepanjang waktu, tidak hanya menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden. Kecenderungan ini membahayakan sebab kepentingan rakyat bukan lagi faktor utama. 

Motor Penggerak

Pembanding Indonesia yang paling dekat adalah India. Kedua negara mempunyai banyak penduduk, wilayah yang luas dan konflik terbuka maupun tertutup di kalangan politisi. Kondisi serupa ini mempersulit pelaksanaan pembangunan.

Bila negara-negara Barat memerlukan waktu berabad-abad untuk mencapai status negara maju, maka Indonesia memerlukan waktu yang tidak sebentar. Status calon macan Asia dengan cepat menyusut sebab tak memiliki human capital yang memadai.

Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Jepang  menjadi negara terkemuka karena mempunyai human capital yang diperlukan untuk menjadi negara maju. Walaupun belakang ditambah dengan kestabilan politik yang permanen dan kultur. Khusus Korea Selatan dan Taiwan mempunyai faktor pengancam yakni Korea Utara serta China.

Kemajuan Indonesia bisa dimulai dari provinsi.Negara ini memiliki setidak tujuh hingga delapan provinsi yang potensial. Perlu waktu setidaknya satu generasi atau mungkin kurang untuk mewujudkan ke delapan provinsi sebagai motor penggerak.  

Kemana Nasionalisme?

Proses Indonesia merdeka melalui jalan panjang. Dipengaruhi berbagai pergerakan nasional di Asia-Afrika yang menuntut kemerdekaan dari tangan penjajah, seperti Inggris, Prancis, Jepang, Jerman, Belgia dan Belanda.Sejumlah negara berhasil merebut kemerdekaan secara damai, tetapi  Indonesia, Aljir dan Vietnam melalui pertumpahan darah dan air mata.

Soekarno, Mohammad Hatta, Kyai Haji Agus Salim, Sukarni, Soedjatmoko, Sumtro Djojohadikusumo, Sam Ratulangie, Wolter Monginsidi  kalangan militer dan generasi muda serta kalangan pesantren bahu-membahu berjuang dalam diplomasi serta bertempur untuk merebut dan mengisi kemerdekaan.

Indonesianis seperti George Mc.Turnan Kahin menjadi saksi bahwa para pemimpin dan rakyat merebut kemerdekaan melalui jalan terjal. Bukan taken for granted dari tangan Belanda karena Belanda ingin menguasai permata di Timur ini selamanya.

Dalam kaitan ini sangat penting untuk mengabadikan susah payah itu sebagai warisan bagi generasi Indonesia berikutnya. Entah melalui perpustakaan digital, pengajaran yang intensif di sekolah dasar atau cara lain.

Salah satu contoh tidak elok. Pertempuran di Surabaya mulai 27 Oktober 1945-20 November 1945 ditulis dalam sejarah Indonesia secara sambil lalu. Cuma dua paragraf atau 12 baris pada buku Sejarah Indonesia. Padahal dalam pertempuran ini, Inggris dipermalukan. Belanda gagal menguasai Indonesia lagi.

Kesulitan, kesusahan dan penderitaan para pemimpin dan rakyat pada masa lalu, selayaknya diajarkan juga kepada para koruptor dan pencari rente agar mereka sadar. Merdeka! (Sjarifuddin)

Penulis adalah wartawan senior, pengamat ekonomi dan politik Asia Timur dan Amerika Serikat

Editor: editor3

Tags

Terkini

Anies, Agenda Perubahan dan Tembak Mati Koruptor

Rabu, 1 Februari 2023 | 21:53 WIB

Kacang Kalengsong?

Selasa, 31 Januari 2023 | 06:01 WIB

Sutra Manih?

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:28 WIB

Industri Militer Dalang Kekacauan di Muka Bumi

Sabtu, 21 Januari 2023 | 10:06 WIB

Kacang Lupa Di Kulit?

Selasa, 17 Januari 2023 | 07:04 WIB

Survei dan Atau Maunya Partai Politik

Jumat, 13 Januari 2023 | 10:13 WIB

Nasi Kandar = Nasi Goreng?

Selasa, 10 Januari 2023 | 06:11 WIB

Limau Bali?

Selasa, 3 Januari 2023 | 05:53 WIB

Catatan Akhir Tahun (Seri 4): Pemberantasan Korupsi

Rabu, 28 Desember 2022 | 17:08 WIB

Sbatical Leadership? (Pemimpin Pensiunan)?

Selasa, 27 Desember 2022 | 06:54 WIB

Catatan Akhir Tahun (Seri 3): Kepemimpinan Ideal

Minggu, 25 Desember 2022 | 14:36 WIB

Selamat Merayakan Natal

Sabtu, 24 Desember 2022 | 11:22 WIB
X