Piscok dan Cilok

- Selasa, 3 Agustus 2021 | 08:13 WIB
Ilustrasi. Cilok
Ilustrasi. Cilok

CUCU kami umurnya baru 3 tahun belum lagi masuk pendidikan Pra Taman Kanak-kanak (Pra TK), tetapi sudah pandai memilih makanan-makanan jajanan. Dia sudah kasmaran, alias jatuh cinta kepada piscok dan cilok.

Saya yang sudah berusia 78 tahun, yang sering diejek oleh anak-anak saya, sebagai anggota Perkumpulan Glanmur? Apa itu Glanmur? Saya bertanya kepada anak bungsu saya yang umurnya sudah mencapai usia 43 tahun. Dia lahir pada tahun 1978. Dia menjawab, Glanmur dibaca Golongan Lanjut Umur. Itu kan lebih bergengsi dari pada sebagai anggota Lansia, dibaca Lanjut Usia. Kasihan Lo?

Saya mendapat penjelasan dari pengasuhnya, bahwa Piscok itu, adalah Pisang goreng – Cokelat, dan Cilok dibaca, adalah Aci di Colok. Yakni, makanan seperti sate ayam / kambing. Tetapi gantinya adalah ACI (sagu) yang sudah direbus, kemudian di Colok, seperti sate lah.

Moral dari cerita ini sebagai akibat dari pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia, maka rakyat Indonesia sudah tidak lagi bertanya, “Besok hari kita makan atau tidak?” Dan juga sudah tidak begitu lagi. Sekarang si konsumen bertanya, “Besok hari makan apa kita?” Artinya, jenis makanan sudah beraneka ragam, alias sudah banyak macam pilihan makanannya. Maka untuk tetap membuat anak-anak selera makannya selalu lahap betul, maka datanglah jenis makanan anak-anak seperti Piscok, Cilok, Pisgor (Pisang goreng), dan seterusnya.

Terima kasih kepada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu pegawai ASN (Aparat Sipil Negara) yang sudah bekerja berkesinambungan membangun ekonomi Indonesia. Kita sudah beranjak dan berubah dari Negara Miskin pada periode tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Dan, Alhamdulillah sekarang ini NKRI kita, sudah termasuk Negara Yang Berpenghasilan Menengah. Dan belum termasuk Negara Berpenghasilan Tinggi.

Menurut teman penulis yang Ahli Product Development (Pembangunan Membuat Produk), Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk menjadi Pemasok Produk Dunia : seperti produk ikan, Indonesia bisa membudi dayakan produk perikanan, dengan memanfaatkan Budi Daya Ikan Keramba, yang bisa dilakukan disepanjang sungai-sungai yang banyak di NKRI. Juga di samping rawa-rawa di seluruh Indonesia. Dan juga Budi Daya Ikan Keramba itu disepanjang pantai-pantai di wilayah NKRI. Faktanya, panjang pantai di Indonesia adalah nomor 2 sesudah panjang pantai Kanada. Tetapi di Kanada pada musim dingin, pantainya membeku. Sedangkan, di Indonesia pantai tidak pernah membeku selamanya. Hal ini di NKRI kita bisa menghasilkan ikan dengan cara membuat keramba-keramba di mana-mana di wilayah NKRI. Insya Allah SWT dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama lagi, NKRI akan menjadi pemasok protein ikan ke seluruh dunia! Aamin. (Marzuki Usman)

Penulis adalah ekonom senior dan pendiri pasar modal.

 

 

Halaman:

Editor: editor3

Tags

Terkini

Anies, Agenda Perubahan dan Tembak Mati Koruptor

Rabu, 1 Februari 2023 | 21:53 WIB

Kacang Kalengsong?

Selasa, 31 Januari 2023 | 06:01 WIB

Sutra Manih?

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:28 WIB

Industri Militer Dalang Kekacauan di Muka Bumi

Sabtu, 21 Januari 2023 | 10:06 WIB

Kacang Lupa Di Kulit?

Selasa, 17 Januari 2023 | 07:04 WIB

Survei dan Atau Maunya Partai Politik

Jumat, 13 Januari 2023 | 10:13 WIB

Nasi Kandar = Nasi Goreng?

Selasa, 10 Januari 2023 | 06:11 WIB

Limau Bali?

Selasa, 3 Januari 2023 | 05:53 WIB

Catatan Akhir Tahun (Seri 4): Pemberantasan Korupsi

Rabu, 28 Desember 2022 | 17:08 WIB

Sbatical Leadership? (Pemimpin Pensiunan)?

Selasa, 27 Desember 2022 | 06:54 WIB

Catatan Akhir Tahun (Seri 3): Kepemimpinan Ideal

Minggu, 25 Desember 2022 | 14:36 WIB

Selamat Merayakan Natal

Sabtu, 24 Desember 2022 | 11:22 WIB
X