• Rabu, 17 Agustus 2022

Inggris Turut Campur di Laut China Selatan

- Kamis, 10 Juni 2021 | 06:24 WIB
Kapal induk Queen Elizabeth II.
Kapal induk Queen Elizabeth II.

PENGUSAHA dan BUMN China  ternyata menjadi pemegang saham mayoritas maupun minoritas pada hampir 200 perusahaan Inggris, dengan total investasi per 2020 mencapai 134 miliar pound sterling. Seratus perusahaan diantaranya merupakan perusahaan blue chip di Bursa London.

China menguasai 49 saham HSBC (bernilai 45 miliar pound sterling). Perusahaan farmasi AstraZeneca, Shell , British Petroleum dan produsen alkohol Diageo, masing-masing 1 miliar pound sterling. Juga  berinvestasi di 17 sekolah independen, perusahaan mobil Lotus, klub sepakbola Barnsley, Wolverhampton Wanderers and Manchester City, waralaba bioskop Cineworld dan  Odeon UCI, grup Hotel Q dan website pariwisata Skyscanner.

China juga merupakan mitra dagang ke tujuh Inggris. Di urutan pertama Amerika Serikat US$57,5 miliar, (14,3% dari total ekspor), Jeman US$41.1 miliar (10.2%), Irlandia US$27.5 miliar (6.8%), Belanda US$24.9 miliar (6.2%), Prancis US$23.7 miliar (5.9%), Swiss US$ 19.4  (4.8%) dan China US$$18.6 miliar (4.6%)

Menurut The Times, Inggris sangat tergantung kepada bahan baku obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit, antibiotik dan obat yang diminum. Ketiganya adalah diantara  71 produk penting yang diperlukan Inggris yang diimpor dari China.

Kedekatan sebagai mitra bisnis tersebut ternyata tidak menghilangkan kekhawatiran Inggris tentang perluasan pengaruh ekonomi dan militer China. Satu armada kapal perang Inggris yang dipimpin kapal induk HMS Queen Elizabeth, disertai dua kapal frigate, dua kapal perusak, dua kapal pendukung dan satu kapal selam telah meninggalkan pelabuhan Portsmouth bulan lalu untuk melakukan pelayaran selama tujuh bulan dan mengunjungi 40 negara. Armada antara lain akan singgah di India, Singapura, Korea Selatan dan Jepang.

Walaupun dikesankan berlayar ke mana-mana, tetapi tujuan utamanya adalah laut China Selatan. Perdana Menteri Boris Johnson diketahui mulai memberikan perhatian serius ke Asia, setelah negaranya keluar dari Uni Eropa. Kebijaksanaan baru ini sejalan dengan Amerika Serikat yang menjadikan Asia sebagai poros dan Australia meningkatkan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik yang membentang dari Hawaii, Laut China Timur hingga India.

Johnson menegaskan pelayaran satuan tugas pemukul itu , yang disertai masing-masing satu kapal perusak Amerika Serikat dan satu frigat Belanda, adalah mencerminkan sikap negaranya yang berkomitmen terhadap ketertiban dunia, menegakkan demokrasi, pasar bebas dan kebebasan berlayar. Suatu pernyataan yang jelas ditujukan kepada China.

Beijing mengklaim dua pertiga laut China Selatan sebagai wilayahnya dan telah meningkatkan kehadiran dengan mendirikan pangkalan militer di gugus kepulauan Spratly yang dipersengketakan.  Di samping menyebarkan puluhan ribu nelayan,yang diduga milisi, untuk mencari ikan.  Penduduk China memerlukan dua juta ton ikan setahun. 

Inggris mengklaim khawatir dengan perluasan pengaruh China karena 12 persen dari total ekspor-impornya atau  senilai 97 miliar pound sterling melewati Laut China Selatan, menuju Asia Timur. Seandainya China menutup jalur tersebut maka perekonomiannya akan terganggu.

Halaman:

Editor: editor3

Tags

Terkini

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB
X