• Sabtu, 20 Agustus 2022

Mencari Pemicu Perang AS-China

- Selasa, 2 Juni 2020 | 15:08 WIB
Donald Trump dan Xi Jinping.
Donald Trump dan Xi Jinping.

Pemberlakuan UU Keamanan baru terhadap  Hong Kong. Mempersoalkan kebebasan bernavigasi di Laut China Selatan. Menuduh China sebagai sumber pandemi Covid-19, dalam mana Menlu Mike Pompeo memakai sebutan virus Wuhan, sedang Trump menjuluki virus China.

Kelakuan Trump terhadap negara lain maupun dalam menangani kerusuhan domestik dalam beberapa hari terakhir tak beda dengan perannya dalam film seri televisi seri The Apprentice. Lugas-lugas saja.

Namun bila ingin berperang dengan lain, Trump sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata tidak bisa berlaku seperti diktator. Dia harus mendapat dukungan  Kongres, yang terdiri dari Senat dan DPR. Dukungan Konggres juga penting buat memperoleh anggaran perang.

Dengan demikian Trump dan partai Republik harus bisa meyakinkan anggota Konggres agar menyetujui perang dengan China. 

Tapi apa alasannya? Apa pemicunya?
George W. Bush didukung menghabisi Irak karena negara itu dinilai memiliki senjata pemusnah massal. Obama disokong menyerbu Afghanistan lantaran di situ jadi basis terorisme, memiliki sumber daya alam, berbatasan dengan China dan negara-negara pecahan Rusia.

Dewasa ini sengketa dagang meredup karena secara bertahap Beijing dan Washington sudah mencapai kesepakatan fase pertama.

Kedua pihak menyadari saling memerlukan terlebih dalam kondisi dunia seperti ini. China misalnya, adalah negara yang paling mungkin membantu Boeing Corp. yang berada diambang kebangkrutan.

Negara-negara yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan sudah kepalang memiliki mekanisme penyelesaian sengketa batas wilayah melalui melalui Konvensi Hukum PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS).

Sekalipun meyakini perlunya perimbangan kekuatan di kawasan yang strategis tersebut.

Kasus suku Uyghur juga hanya memperoleh simpati internasional yang terbatas. AS tidak dapat mengeksploitirnya.

Kematian George Floyd menunjukkan kegagalan pemerintah Trump menangani aksi rasisme (HAM) di dalam negeri.

Trump masih berpeluang ‘ memainkan’ kasus Hong Kong yang secara bertahap akan kehilangan aturan Satu Negara Dua Sistem. Meskipun begitu menghilangkan status Hong Kong berbagai sangsi juga akan merugikan pebisnis AS.

Dewasa ini terdapat hampir 300 perusahaan yang mempunyai basis regional dan lebih dari 1.300 perusahaan IT, keuangan hingga asuransi AS yang beroperasi di Hong Kong.  Di situ juga bermukim 85 ribu WN AS.

Sebelumnya Deng Xiao Ping cs menjadikan Hong Kong sebagai tempat untuk belajar dan pintu masuk modal asing ke Cina Daratan.

Dewasa ini di Hong Kong terdapat sedikitnya 1.125 perusahaan dan 25 bank China.

Tampaknya bila terjadi sesuatu dengan HK, China sudah mempunyai Shenzhen, Shantou, Zhuhai, Xiamen dan lain-lain. Pelabuhan laut dan bandara internasional ada di mana-mana.

Perlu pula diketahui peran HK dalam perekonomian China Daratan sudah menurun. Ini pula  yang mungkin membuat China berani mengajukan UU Keamanan Nasional yang seharusnya diberlakukan 27 tahun lagi.

Pandemi Covid-19 mulanya digadang-gadang sebagai pintu masuk utama berkonflik dengan karena jumlah korban yang tewas di AS terbanyak di dunia, lebih dari seratus ribu orang.Tetapi Presiden Xi Jinping menyatakan penyebabnya bukan kebocoran laboratorium P-4 Institut Virologi di Wuhan, melainkan karena sebab-sebab alamiah.

Apakah perang AS-China akan tercetus?

Proses pengambilan keputusan di AS bukan berada di lembaga-lembaga eksekutif dan yudikatif melainkan di tangan pelobi atau kalangan industri yang akan mengambil manfaat dari keputusan yang diambil. Mereka akan bekerja sama dengan media dan ahli-ahli strategi komunikasi politik seperti Steve Bannon.

Para pelobi dan kalangan industri itu juga yang  akan menjamin apakah presiden yang menjabat akan terpilih lagi atau dibiarkan tumbang.

Masyarakat pemilih sebetulnya hanya pelengkap penyerta. Bila terjadi perang, anak-anak/keluarga mereka yang dikorbankan.

Trump mungkin akan lebih mendengarkan saran pelobi dan kalangan industriawan daripada yang lain.

Lawan yang dihadapi AS adalah China, pemilik kekuatan ekonomi nomor dua di dunia. China sudah bersahabat dengan lebih dari 150 negara yang ikut program One Belt One Road.

Dalam kaitannya dengan situasi yang memanas  dengan Amerika Serikat, Xi Jinping cs barangkali akan mengikuti pesan Sun Tzu.. (1) Memelihara persahabatan dengan negara tetangga. (2) Memperkuat hubungan dengan para sekutunya. (3) Mereka yang terampil dalam ilmu perang selalu akan membawa musuh ke tempat di mana ingin bertempur dan tidak dibawa ke sana oleh musuh. (Sjarifuddin)



Halaman:

Editor: editor3

Tags

Terkini

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB
X