• Senin, 15 Agustus 2022

Mencari Pemicu Perang AS-China

- Selasa, 2 Juni 2020 | 15:08 WIB
Donald Trump dan Xi Jinping.
Donald Trump dan Xi Jinping.

JANGAN lupa, nenek moyang rakyat dan penguasa Amerika Serikat dewasa ini adalah imigran. Mereka berasal dari Eropa dan bagian dunia lain. Motif ke AS adalah mencari ‘dunia’ baru agar lebih sejahtera, melarikan diri dari tekanan politik, agama dan bisa jadi  hukum.

Di antara para imigran itu banyak orang pandai dan kreatif. Mereka memberi kontribusi bagi tumbuhnya AS sebagai negara adidaya.

Werhner von Braun, kelahiran Jerman, merancang roket Saturnus pembawa Apollo ke bulan.

Anak imigran Jerman, Julius Robert Oppenheimer, yang memimpin pembuatan bom atom pertama.

Pemenang hadiah Nobel John Kenneth Galbraith, ekonom ternama itu, dilahirkan di Kanada. 

Di samping ahli IT, keuangan, kedokteran, ilmu kimia dari  keluarga imigran India, China, Iran dan sebagainya.

Kehebatan dalam ilmu dan teknologi serta ekonomi, pada 1960-an telah  menghasilkan 75 persen dari GDP dunia. Kehebatan dan keunggulan ini memperkuat idealisme yang dibawa para imigran. Mempelopori kebebasan dan keadilan.

Motif itu terbawa sampai sekarang. DPR baru-baru ini membuat UU yang memberi sanksi kepada China terkait berlaku tidak adil terhadap suku Uyghur dan mengekang Hong Kong. UU itu diloloskan Kongres.

Tindakan Amerika Serikat tidak mengenal batas negara. Presiden Saddam Hussein digantung  karena Irak dituduh memiliki senjata pemusnah massal. 

Pemimpin Libya Moammar Gaddafi diseret-seret dan disiksa sampai mati sebab memerintah secara tidak demokratis dan mensponsori terorisme.

Osama bin Laden di rumahnya di Abbottabad, Pakistan diberondong  oleh anggota Navy SEAL Tim 6. Dia dituduh  mendalangi penghancuran Menara Kembar di New York pada 9 September  2001.

Presiden Barrack Obama, Menlu Hillary Clinton dan belasan pejabat menyaksikan dengan tenang adegan mengerikan itu dari Ruang Perang, Gedung Putih pada 2 Mei 2011.

Obama lalu terpilih untuk kedua kalinya. Sebelumnya George Walker Bush juga terpilih kembali setelah ‘memenangkan’ perang di Irak.

Saddam Hussein, Gaddafi, Osama bin Laden dibunuh oleh tentara AS dan oposan di dalam negeri. AS juga kerap membantu melakukan kudeta terhadap pemimpin asing.

Presiden Chile Salvador Guilermo Allende Gossens dijatuhkan dalam operasi berkode Jakarta Operation. Pemimpin berfaham Marxis yang terpilih secara demokratis dalam pemilu 1971, tewas dalam kudeta dua tahun kemudian. Pelaku utamanya Jenderal Augusto Pinochet.

Bisa dibayangkan, Washington dapat melakukan apa saja yang dikehendaki sekalipun jauh dari batas negara. Motifnya demokrasi (kebebasan) , HAM (keadilan), dan terkadang pengabaian terhadap lingkungan hidup.

Siapa dapat menyangkal, kegagalan Indonesia membeli satu skuadron Sukhoi SU-35 karena diancam dijatuhkan sanksi oleh AS.

Dasar sanksi itu Countering America's Adversaries Through Sanctions Act.
Motif mewujudkan kebebasan, keadilan merupakan alasan penghantar saja. Tujuan utamanya adalah mengkoloni, menguasai sumber daya alam/ bahan tambang  dan menjadikannya sebagai pasar bagi barang dan jasa.

Slogan Lama

Sebagaimana dikemukakan di atas , politik luar negeri merupakan pencerminan aspirasi di dalam negeri. Prinsip ini semakin peka pada tahun pemilihan Presiden.

Donald Trump yang bertanding lagi pada November nanti berusaha keras menunjukkan diri sebagai kepala pemerintahan yang memahami aspirasi calon pemilih. Supaya negaranya tetap sebagai nomor satu di dunia.Tapi bagaimana caranya?

Dalam pemilihan Presiden pada 2016, Trump mengusung slogan Make America Great Again. Kemudian dalam pidato pelantikannya, Trump mengutarakan America First.

Slogan itu bukan hal yang baru. Presiden Ronald Reagan dari Republik mencanangkan Let’s Make America Great Again. Begitu pula dengan America First. Ia merupakan slogan kaum Republiken pada 1880. Baru meluas secara nasional sesudah digunakan Presiden Woodrow Wilson tahun 1915.

Pengusung America First waktu itu ingin Amerika Serikat tidak usah terlibat dalam Perang Dunia I dan II.  America First menunjuk kepada politik luar negeri yang menekankan kepada nasionalisme, uniteralisme, proteksionisme dan isolasionisme.

Kemudian Klux Klux Klan, organisasi yang berpendapat ras kulit putih adalah ras yang terbaik,  menambahnya sebagai anti imigran, terutama yang bukan datang dari Eropa.

Faham Klux Klux Klan mungkin mengilhami perlakuan agresif anggota kepolisian Minneapolis Derek Chauvin,  yang menewaskan George Floyd pada 25 Mei 2020. Chauvin ditangkap pada Jumat , 29 Mei 2020, dengan dakwaan membunuh tingkat tiga dan pembunuhan tingkat kedua. Dia dipecat dan diancam hukuman penjara maksimal 25 tahun.

Ahli strategi komunikasi politik dan penasehat Trump,  Steve Bannon, disebut mengartikan America First dalam bentuk nasionalisme ekonomi. (1) Memperketat peraturan perdagangan bebas. (2) peraturan imigrasi lantaran para imigran merebut lapangan kerja kulit putih. (3) Menolak perjanjian Paris yang mengatur pengurangan emisi karbon di 188 negara. AS menyumbang 15% dari total emisi karbon dunia.

Terhadap China

Bannon cuma tujuh bulan bersama Trump tetapi gagasannya masih dilaksanakan sampai sekarang.  Misalnya, keluar dari perjanjian Paris pada November 2019.

Di samping meninjau kembali hubungan dagang dan pemberian kemudahan kepada China.
Trump memperluas tekanan kepada China dengan mengangkat suku perlakuan terhadap suku  Uyghur.

Halaman:

Editor: editor3

Tags

Terkini

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB
X