• Senin, 4 Juli 2022

Pemegang Saham, Berkuasa Mutlak!

- Selasa, 2 Juni 2020 | 08:26 WIB
Marzuki Usman
Marzuki Usman

SEKRETARIS saya seorang ibu rumah tangga, di samping bekerja sebagai sekretaris, rupanya dia juga memiliki warung kampung jualan barang-barang kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Semacam warung manisanlah, kata orang kota.

Pada suatu pagi, begitu saya masuk kantor, saya melihat wajahnya yang masam, seperti kelihatannya lebih asam dari pada asam jawa?

Kemudian saya panggil dia, dan saya bertanya, “Ada peristiwa apakah gerangan, sehingga menyebabkan wajahmu lebih asam dari asam jawa?”

Dia langsung menjawab, “Pak, saya punya peristiwa seperti ini!” Saya memotong, “Silahkan menjelaskan ya!”

Dia meneruskan sebagai berikut. “Pak saya setiap bulan, sepertiga dari gaji yang saya terima dari Bapak, saya tabung pada Bank Mandiri. Dan ketika uang itu cukup banyak untuk memulai bisnis warung manisan kampungan, di kampung tempat saya bermukim. Dan saya ketiban rezeki, ada seorang ibu muda yang mengaku berpengalaman menjalankan warung manisan. Kalau begitu, saya bertanya, kenapa kamu tidak teruskan?

Dia menjawab, “suami saya pindah pekerjaannya ke kota ini, dan kami belum punya cukup uang untuk memulai warung manisan lagi”. Dia meneruskan, ”Kalau berminat untuk berbisnis warung manisan kampung, saya menawarkan diri untuk menjalankannya!” Lalu kami buat perjanjian hitam putihnya, bahwa modalnya sepenuhnya dari saya. Dan saya menawarkan lagi, jika bisnis kita maju, dan anda perlu modal lagi, pasti akan saya bantu.

“Pak, bisnis ini sudah berjalan sepuluh tahun, dan setiap tahun kita berbagi keuntungannya. Saya bahagia, dia juga bahagia. Pak, kita sama-sama happy lah”.

Kemarin itu saya ada perlu uang kontan untuk menyekolahkan anak saya, dan saya tidak mau lagi untuk mengganggu Bapak. Lalu saya datang kepada dia, dan saya berujar, “Tolonglah saya dipinjamkan uang perusahaan, kas perusahaan untuk waktu enam bulan saja, sebesar Rp 10 juta”. “Saya tahu bahwa uang kas perusahaan cukup banyak untuk bisa dipinjamkan kepada saya, sebentar saja”.

Dia menjawab, “Ibu mohon maaf, saya tidak setuju, karena saya juga ada rencana lain”. Lalu saya naik pitam, kalau begitu okay lah, mulai hari ini saudara out dari warung saya. Dia tegas dan saya juga tegas, karena sayalah yang punya warung itu. Saya jawab, “Betul Ibu. Karena pemegang saham adalah penguasa mutlak dari suatu perusahaan”.

Halaman:

Editor: editor3

Tags

Terkini

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB

Awak Pipit Mau Menelan Kedondong?

Selasa, 14 Juni 2022 | 06:31 WIB

Pemimpin Baru Singapura dan Dilemanya

Sabtu, 11 Juni 2022 | 19:25 WIB

Menebak Arah Politik Surya Paloh

Kamis, 2 Juni 2022 | 20:40 WIB

Mata Kuliah, “Bagaimana Berdiskusi?”

Selasa, 24 Mei 2022 | 07:51 WIB

Misteri Penggulingan PM Imran Khan

Senin, 23 Mei 2022 | 13:41 WIB

Selamat Merayakan Hari Waisak Bagi Umat Budha

Senin, 16 Mei 2022 | 10:00 WIB
X