• Rabu, 17 Agustus 2022

Sikap Keras AS Bangkitkan Nasionalisme China

- Jumat, 22 Mei 2020 | 12:25 WIB
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

PENGARUH Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat di dunia tengah menurun. Hal itu yang antara lain diungkapkan Menteri Pertahanan Malaysia Muhammad Sabu beberapa waktu lalu. Kemerosotan pengaruh itu makin diperparah dengan pembuatan One Belt One Road (OBOR) yang menghubungkan China dengan puluhan negara di Asia, Eropa dan Afrika.

Berkenaan dengan perkembangan tersebut sangat menarik untuk melihat kebijaksanaan Washington. Bagaimana melemahkan China yang dianggap sebagai penyebab penurunan tersebut?

Presiden Donald Trump menekan melalui dua aspek. Pertama, pada sektor perdagangan dalam mana Amerika Serikat mengalami defisit sebab itu menuntut China memberi konsesi. Kedua, menuduh China lalai mengatasi awal pandemi virus corona (Covid-19) yang bermula di Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, China Tenggara.

Diperkirakan dua aspek itu hanya merupakan sasaran antara. Tujuan utamanya adalah meruntuhkan China agar tidak menjadi pesaing, seperti Rusia dewasa ini. Caranya, melalui tekanan militer seraya membangkitkan gerakan anti-China di Asia Tenggara.

Washington berkepentingan menciptakan konflik militer lantaran ekonominya sangat ditopang industri yang menghasilkan produk-produk yang secara langsung maupun tidak langsung untuk keperluan militer. Kabarnya sayap kanan di kalangan pemerintah tengah mendorong munculnya Perang Dingin Baru.

Presiden Dwight David Eisenhower dalam pidato perpisahan pada 17 Januari 1961 mengingatkan bangsanya tentang pengaruh negatif military-industrial complex.

Analisisnya ini benar karena sampai sekarang, Amerika Serikat selalu menciptakan konflik. Hal ini menyebabkan anggaran militer AS meningkat, sedangkan negara-negara terlibat konflik membeli peralatan militer buatan AS.

Konflik selalu jauh dari batas negara seperti di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Dewasa ini Venezuela dan Iran sedang diojok-ojok. China juga demikian melalui eksploitasi isu Suku Uighur dan masalah Hong Kong. Eskalasi konflik dengan China kemungkinan meningkat dalam beberapa waktu mendatang.

Konflik Dagang Mereda?

Halaman:

Editor: editor2

Tags

Terkini

Selain Taiwan, Filipina Menjadi Lahan Proxy AS-China

Senin, 15 Agustus 2022 | 06:03 WIB

Ikan Semah? Ikan Bangsawan?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 05:50 WIB

Jangan Terjebak dengan Permainan AS

Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:40 WIB

Produk Baru?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 09:49 WIB

Maming Ikuti Jejak Harun Masiku

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:50 WIB

Dimana Ada Air, Disitu Ada Ikan !!!

Selasa, 26 Juli 2022 | 07:23 WIB

Aku Nguyup?

Selasa, 19 Juli 2022 | 06:24 WIB

Bukan China Penyebab Kebangkrutan Sri Lanka

Senin, 18 Juli 2022 | 06:26 WIB

Tak-Kan Lari Gunung Di Kejar!!!

Selasa, 12 Juli 2022 | 06:57 WIB

“Buruk Muka Cermin Dibelah!”

Selasa, 5 Juli 2022 | 06:29 WIB

Alah Bisa Karena Biasa?

Selasa, 28 Juni 2022 | 09:22 WIB
X