Varadisa Ratu Gulat Baru di PON Papua

Minggu , 10 Oktober 2021 | 17:40
Varadisa Ratu Gulat Baru di PON Papua
Sumber Foto Antara/Galih Pradipta
Pegulat putri Jatim Varadisa (atas) berusaha mengunci pegulat putri Jambi Indri (bawah) saat bertanding pada final Gulat Gaya Bebas kelas 76 Kg PON Papua di Gor Futsal Dispora, Kabupaten Merauke, Papua, Minggu (10/10/2021). Varadisa menang dan berhasil meraih medali emas sedangkan Indri raih medali perak.

MERAUKE - Varadisa Septi tak perlu waktu lama untuk memenangi laga final gulat gaya bebas putri 76kg PON Papua di GOR Futsal Dispora, Merauke, Minggu (10/10/2021), demi mengklaim medali emas untuk Jawa Timur.

Bertemu dengan wakil Jambi Indri Sukmaningsih, Varadisa hanya butuh waktu 30 detik untuk memenangi laga final dengan teknik jatuhan, ketika bantingan agresifnya membuat sang lawan terjatuh dan tak berkutik di atas matras di babak pertama.

Pegulat kelahiran 2 September 2002 itu mengaku sempat gugup dan tegang mengikuti pesta olahraga empat tahunan nasional untuk pertama kalinya.

Berbekal status juara Pra-PON 2019, perempuan asal Malang, Jawa Timur itu berupaya menjaga momentum dan menerjemahkan hasil kerja keras latihannya selama ini menjadi medali emas pertamanya di PON."Saya latihan sudah mati-matian untuk PON ini," kata Varadisa ketika ditemui setelah pengalungan medali.

"Di Pra-PON saya dapat emas, saya tidak boleh lengah, PON ini juga harus dapat emas," kata Varadisa.

Kemenangan Varadisa, di hari ketiga cabang olahraga gulat yang mempertandingkan hanya satu kelas untuk menghormati kearifan lokal di mana mayoritas warga Merauke melaksanakan ibadat di gereja, membawa Jawa Timur mengoleksi tiga medali emas dari para pegulat putri mereka.

Sebenarnya, laga yang diantisipasi oleh Varadisa adalah melawan pegulat Kalimantan Selatan Natrusnicu Roxana Andrea, yang merupakan juara di PON 2016. Namun, Roxana, yang merupakan atlet naturalisasi asal Rumania itu tersingkir dari perebutan medali emas setelah dikalahkan oleh Indri Sukmaningsih.

Roxana harus puas dengan medali perunggu setelah memenangi laga perebutan tempat ketiga melawan wakil Jawa Barat Yanti Hernanti dengan angka mutlatk

Seperti yang diungkapkan oleh pelatih kepala Jawa Timur Rakhman, laga antara Varadisa melawan Roxana seperti laga 'balas dendam'. Pasalnya Roxana dipaksa menyerah melawan Varadisa di laga final Pra-PON 2019 yang berlangsung sengit.

"Vara sudah kami siapkan untuk itu sebenarnya, pola mainnya nanti dia harus bagaimana, kami sudah siapkan tapi enggak tahunya dia (Roxana) malah kalah dari Jambi," kata Rakhman.

"Sehingga tadi sebelum final, sudah kami prediksi kalau melawan Jambi kami pasti menang," ujarnya.

Kendati menang mudah, Varadisa mengaku belum pernah mengenal gaya bermain pegulat Jambi yang baru kali ini ia ladeni."Mungkin karena ini baru pertama kali saya ketemu lawan yang ini, jadi saya tidak tahu mainnya. Strateginya sama-sama tidak tahu," kata Varadisa.

Seandainya di partai final dia bertemu dengan Roxana pun Vara tak ingin meremehkan sang lawan karena terdapat gap dua tahun sejak ia mengalahkan sang atlet Kalsel hingga PON yang tertunda tahun ini."Mungkin peluangnya sama. Soalnya kami kan terakhir ketemu pada 2019, latihannya juga enggak tahu, jadi mungkin permainannya sudah berbeda," tuturnya.

Mempersiapkan PON pertamanya, Varadisa mengaku sangat terbantu dengan dukungan teman-teman, keluarga, pelatih dan bahkan tim psikolog yang disiapkan pelatih untuk membakar semangat atlet."Tim psikolog memberi motivasi, semangat biar kami tidak tegang juga, biar 'fresh' kalau main. Saya sangat terbantu," ia menambahkan.(*)

 



Sumber Berita: Antara
KOMENTAR

End of content

No more pages to load