Djokovic Sebut Bermain di Beograde Lebih Emosional

Rabu , 21 April 2021 | 11:25
Djokovic Sebut Bermain di Beograde Lebih Emosional
Sumber Foto Reuters/Jaimi Joy
Petenis Novak Djokovic

JAKARTA - Kembalinya Novak Djokovic dalam ajang ATP 250 Serbia Open membuat petenis peringkat pertama dunia itu merasa emosional, karena mengingatkannya pada masa awal menjajaki karier tenis profesional yang telah mengantarkannya pada 18 gelar Grand Slam sekarang.

Terakhir kali Djokovic berkompetisi di Beograd ialah sepuluh tahun silam, saat ia hanya memenangkan dua gelar Grand Slam dan menduduki peringkat satu dunia versi ATP.

"Saya menjadi sangat emosional ketika bermain di kandang. Dulu saya bermain dari 2009 hingga 2012 dan memenangkan dua di antaranya. Bermain di hadapan keluarga, teman, merupakan hal yang jarang terjadi. Rasanya sangat istimewa bermain di kampung halaman," kata Djokovic seperti dikutip dari ATP Tour, Rabu (21/4/2021).

Karena pandemi Covid-19, tidak banyak penggemar yang mengikuti setiap gerakan Djokovic di Novak Tennis Center. Namun ia mengaku akan tetap bersemangat saat tampil di kandang sendiri.

"Saya hanya mencoba untuk menikmati setiap detik berada di negara saya bersama keluarga, ada orang tua yang saat ini jarang saya temui karena larangan bepergian dan sebagainya. Ada banyak kenangan dari masa lalu, tentang bagaimana saya memulai semuanya," tutur Djokovic.

Lima dari delapan unggulan sektor tunggal berasal dari Serbia, dan delapan petenis tersebut akan memulai undian utama turnamen itu.

"Saya sangat senang melihat undian ini dipenuhi petenis Serbia, semua pemain tenis putra terbaik Serbia ada di sini. Pasti akan ada beberapa pertandingan di antara kami, semoga saya bisa bermain di perempat final melawan salah satu dari mereka," ia mengungkapkan.

Djokovic, yang akan melawan Roberto Carballes Baena atau Soonwoo Kwon, selanjutnya bisa saja menghadapi unggulan kedelapan Miomir Kecmanovic pada partai perempat final. Unggulan kesembilan Laslo Djere juga berada dalam undian tersebut.(*)

 



Sumber Berita: Antara
KOMENTAR

End of content

No more pages to load