Ulang Tahun Jakarta di Tengah Pandemi Covid-19

Selasa , 22 Juni 2021 | 08:24
Ulang Tahun Jakarta di Tengah Pandemi Covid-19
Sumber Foto dok/ist
Tuga Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

JAKARTA - Hari Ini Jakarta berulang tahun ke-494. Sayangnya, kota ini kini tengah dililit pandemi Covid-19. Jumlah kasus Covid-19 terus meroket. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut, angka keterisian tempat tidur isolasi atau bed occupancy ratio (BOR) di Jakarta saat ini hampir menyentuh angka 90 persen.

Saat ini, Jakarta memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 37.426. Namun, yang diperuntukkan bagi pasien Covid-19 sebanyak 17.752 tempat tidur isolasi. Angka itu disebutnya sudah meningkat dibandingkan pada awal Mei 2021 lalu yang sebesar 14 ribu tempat tidur.

Ya, Virus Corona telah mengubah Jakarta. Namun hal itu bukan halangan bagi warga Ibu Kota untuk selalu bersyukur tiada akhir. Pada peringatan kali ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengusung jargon “Jakarta Bangkit” sebagai tema pencanangan hari ulang tahun Kota Jakarta. Tema ini mengandung semangat serta optimisme dalam situasi pandemi Covid-19.

Anies Baswedan berharap kebangkitan Jakarta akan lebih baik lagi daripada masa sebelum Jakarta menghadapi pandemi. Logo HUT-494 Kota Jakarta memiliki filosofi yang menggambarkan harapan serta impian masyarakat Jakarta untuk bangkit.

Selain hal tersebut, terdapat elemen identitas Plus Jakarta yang menunjukkan sebagai kota kolaborasi. Jakarta tetap meriah merayakan hari ulang tahunnya meski acara digelar secara virtual dengan pembatasan ketat di lokasi acara."Di tengah Covid-19 tetap kami laksanakan secara virtual, semuanya bakal ada pembatasan di lokasi-lokasi penyelenggaraannya," kata Wagub Ahmad Riza Patria di Balai Kota Jakarta, Senin (21/6/2021)

Dia melanjutkan, perayaan Hari Lahir Jakarta tahun ini secara virtual seperti halnya tahun sebelumnya yang juga berlangsung dalam masa pandemi Covid-19. Hal ini untuk menunjukkan rasa syukur sekaligus doa atas keselamatan serta usaha pembangunan di DKI Jakarta yang berjalan di tengah cobaan pandemi yang hingga kini belum usai.

"Sebagaimana tahun sebelumnya, pelaksanaan HUT DKI kita lakukan dengan khidmat saksama dengan rasa syukur kita bisa lakukan pembangunan di DKI Jakarta," ia menambahkan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melangsungkan upacara peringatan HUT di Balai Kota Jakarta pada Selasa (22/6/2021) mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Jakarta sendiri telah dimulai sejak April 2021 hingga saat ini dengan menggelar sejumlah acara seperti Jakpreneur Fest, Jakarta Investment dan Aksi Pemadaman Lampu 7 Landmark Jakarta.

Impian Kota Sehat

Peringatan HUT Jakarta saat ini agaknya menjadi bahan renungan: apakah Jakarta benar-benar telah menjadi sebuah kota sehat? Apakah Jakarta sudah layak menjadi sebuah kota sehat bagi penghuninya?

Diakui atau tidak banyak kota di dunia yang berlomba menjadi kota sehat. Namun, tidak semuanya bisa menyandang sebagai kota sehat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah merumuskan konsep sebuah kota sehat. Begini katanya: sebuah kota sehat diibaratkan organisme hidup yang kompleks, bernapas, bertumbuh dan terus-menerus berubah. Selain itu, kota sehat terus mengembangkan sumber dayanya sehingga warganya dapat saling mendukung dalam memaksimalkan potensi yang ada.

Jauh dari itu, sebuah kota yang sehat adalah kota yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman sehingga menghasilkan kehidupan yang berkualitas dari berbagai aspek teknis, sosial, ekonomi dan budaya.

Sudahkah Jakarta memberi rasa aman dan nyaman bagi warganya. Hujan deras datang menyapa dan kemudian melahirkan genangan air serta memunculkan banjir. Jelas kondisi itu membuat warga Jakarta jauh dari rasa nyaman. Kasus pelecehan seksual di commuter line juga menjadikan rasa aman jauh dari sudut-sudut kaum hawa di kota ini. Kasus serupa juga pernah terjadi di Transjakarta apalagi di angkutan kota seperti Koperasi Wahana Kalpika (KWK).

Kota yang sehat meningkatkan kualitas kehidupan yang optimal dan ujung-ujungnya melahirkan tindakan kreatif dan inovatif dari penghuninya untuk menambah daya tarik sebuah kota. Singkat kata: wajah kota mencerminkan kreasi dari perilaku warganya. Daya tarik kota dan kehidupan warganya menjadi nilai tambah pilihan warga dunia untuk mendatanginya.

Lantas, bagaimana dengan Jakarta?

Bukan rahasia umum lagi jika ganti gubernur, ganti pula kebijakannya terutama menyangkut fungsi kotanya. Jakarta pernah ingin dijadikan sebagai kota budaya: patung di mana-mana. Jadi ingat Henk Ngantung sang pemimpin Jakarta ketika itu. Jakarta juga pernah diimpikan menjadi Ibu Kota yang sejajar dengan Ibu Kota negara lain di dunia. Itu pesan Pak Harto ketika Surjadi Soedirdja menjadi gubernur. Terakhir, Jakarta juga digadang-gadang menjadi kota jasa (service city) layaknya Singapura.

Namun tanpa disadari, Jakarta terseret ke arah pembangunan kota besar lainnya di dunia. Tata ruang kini berubah luar biasa. Ruang terbuka hijau (RTH) semakin tersudut. Taman sebagai salah satu ruang publik per lahan tapi pasti mulai terjepit hutan beton. Padahal, taman adalah elemen kota yang multifungsi. Selain untuk keindahan, taman berfungsi sebagai tempat bermain, berolahraga, mendapatkan udara segar, pemelihara ekosistem tertentu dan pelembut arsitektur sebuah kota.

Bagi warga kota, taman merupakan sarana pemiliharaan hubungan emosional dengan alam dan arena bersosialisasi dengan sesama dalam suasana santai. Begitu pentingnya fungsi sebuah taman bagi kehidupan kota sehingga pengelola kota di negara-negara maju umumnya sangat serius bahkan mendahulukan setiap kebijakan yang menyangkut pembangunan taman sebagai ruang publik.

Ruang Publik

Kondisi ini jauh berbeda dengan Jakarta. Ruang publik tergerus pembangunan fisik yang luar biasa. Mal terus bertambah meski belakangan banyak pusat belanja modern yang juga perlahan ditinggal pembelinya akibat bisnis daring.

Banyak kawasan yang semula direncanakan bukan menjadi kawasan bisnis dipaksa beralih fungsi menjadi kawasan komersial. Mal salah satunya. Kabarnya jumlah mal di Jakarta sudah melebihi angka 170 lebih. Itu jelas melebihi batas ideal dari jumlah penduduknya.

Jangan hanya mengatasnamakan kota modern, globalisasi dan perdagangan internasional bahkan sekadar menyongsong era yang disebut Sekjen PBB ketika itu, Kofi Anan sebagai urban milenium. Di era itu, masalah perkotaan akan menjadi tema sentral yang bakal sering diperbincangkan. Sebanyak 60-70 persen penduduk dunia berkumpul dan hidup berinteraksi di kota besar.

Tanpa disadari, para pengembang membangun mal untuk menjawab depresi dan stres warga Jakarta. Suasana di rumah dicoba dihadirkan di mal. Makan bersama yang menjadi tradisi ketimuran dihadirkan melalui sajian kuliner di mal-mal.

Pengembang berlomba mengembangkan ide mereka untuk membangun pusat belanja yang memiliki banyak fungsi. Tanpa disadari, fungsi taman kota pun hilang. Invasi kawasan hijau menjadi kawasan komersial karena penegakan tata ruang wilayah di Jakarta yang sama sekali lemah. Gubernur Wiyogo Atmodarminto pernah berujar. Katanya, posisi Jakarta begitu lemah saat bargaining dengan pihak swasta dalam membangun. Akhirnya, lahan-lahan di Ibu Kota sepenuhnya menjadi milik pengembang.

Menarik apa yang dikatakan mantan Wali Kota Bogoto, Kolombia, Enrique Penalosa ketika hadir dalam sebuah seminar di Jakarta beberapa tahun silam. Ia mengatakan, pembangunan mal di kota-kota besar tidak selamanya menunjukkan citra positif. Malah, sebaliknya bisa negatif. Penalosa menilai ciri-ciri kota sakit bisa dilihat dari banyaknya jumlah mal. Makin banyak jumlah mal, makin sakitlah kota tersebut. Itu karena pembangunan mal dipastikan memangkas ruang publik.

Kota yang baik, menurutnya, kota yang bisa menyediakan kebahagiaan bagi penduduknya yang bukan diukur dari pendapatan per kapita atau kemajuan teknologinya. Kota yang baik membutuhkan tempat untuk penduduk berjalan kaki dan berkumpul bersama. Ketika mal menggantikan ruang publik sebagai tempat bertemu warga, kota itu bisa dicirikan sebagai kota sakit. Itu karena mal tanpa sadar menciptakan jurang antara si kaya dan si miskin.

Namun, pandemi Covid-19 telah mengubah segalanya. Tidak hanya Jakarta yang pontang-panting menghadapi virus berbahaya itu. Hampir semua kota di dunia terguncang dengan wabah tersebut. Hal ini menambah beban kota-kota tersebut termasuk Jakarta.

Namun ibarat sebuah film layar lebar "Badai Pasti Berlalu" maka yakin semua itu akan berlalu. Protokol kesehatan tetap wajib dikedepankan. Warga mematuhinya dan pejabat pun harus menjadi contoh teladan yang seutuhnya. Jangan ada lagi pejabat yang sekonyong-konyongnya menghadiri pesta pernikahan selebritas. Masyarakat perlu contoh, bukan deretan slogan tanpa aksi apalagi hanya untuk lips service atau pencitraan. Setop sudah semua itu.   

Jika Jakarta mau menjadi kota sehat maka semua itu berpulang kepada penghuni termasuk pengelola kota ini. Selamat ulang tahun Jakarta! Masih selalu ada harapan di tengah ganasnya badai. Jakarta harus bangkit!(E-2)



Sumber Berita:
KOMENTAR

End of content

No more pages to load