Kapolri Gelar Apel Operasi Ketupat 2018

Rabu , 06 Juni 2018 | 10:35
Kapolri Gelar Apel Operasi Ketupat 2018
Sumber Foto kumparan.com
Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

JAKARTA – TNI-Polri, Rabu (6/6/2018) pagi ini menggelar apel gabungan Operasi Ketupat 2018 dalam rangka pengamanan perayaan Idul Fitri 2018 di seluruh Indonesia.

"Pagi ini apel serentak di seluruh Indonesia ditandai dengan sejumlah kegiatan pemeriksaan dan pengecekan kewilayahan masing-masing dalam rangka dimulainya operasi ini," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat memimpin apel di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Rabu, didampingi Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

Ia mengatakan, Operasi Ketupat 2018 akan berlangsung selama 18 hari sejak 7 Juni-24 Juni 2018. Ada sebanyak 177 ribu personel gabungan TNI - Polri, Satpol PP, Pemadam Kebakaran dan jajaran dari instansi terkait yang disiagakan dalam operasi tersebut."Ditambah dari jajaran pemda masing-masing dan juga melibatkan beberapa ormas seperti Pramuka, Banser," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Tito menyampaikan sejumlah target pelaksanakan operasi tersebut yakni pengamanan arus mudik dan arus balik."Selama ini banyak perbaikan infrastruktur dan relatif (tahun ini) lebih baik dari tahun sebelumnya," ujarnya.

Dia berpesan kepada jajaran TNI - Polri agar memaksimalkan kerja keras untuk mengurai kemacetan dan meminimalkan kecelakaan lalu lintas."Kita harus kerja keras urai macet dan tekan kecelakaan," tuturnya.

Selanjutnya, target stabilitas harga pangan. Kapolri Tito mengklaim Satgas Pangan sejauh ini telah menindak 495 kasus tindak pidana pangan dengan 395 tersangka sebagai upaya menjaga distribusi pangan di pasar."Mudah-mudahan kami bisa tekan niat mereka untuk memainkan komoditas pangan," dia menyebutnya.

Dalam operasi ini, jajarannya akan disiagakan untuk menjamin keamanan masyarakat yang akan mudik atau pulang ke kampung halaman untuk merayakan lebaran."Operasi ini bertujuan memudahkan masyarakat yang kembali ke kampung halaman, dari gangguan baik preman, copet, jambret, kejahatan konvensional," katanya.

Selain itu jajaran TNI-Polri juga akan disiagakan untuk kemungkinan bencana alam. "Kami siap jika nanti ada keadaan kontijensi," dia mengatakan.

Mewaspadai dan mencegah terjadinya kasus terorisme juga merupakan salah satu target yang ditekankan dalam operasi ini.

Tito mengatakan sejak terjadinya kasus bom di Surabaya, Densus 88 Antiteror telah menangkap 96 tersangka tindak pidana terorisme yang 14 diantaranya telah tewas.

Ia memastikan bahwa Densus 88 terus melakukan operasinya untuk mendeteksi sel-sel jaringan teroris dan melakukan pendekatan lunak terhadap mereka.(ant)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load