Wabah Corona, Juru Parkir di Margonda Meringis

Minggu , 29 Maret 2020 | 17:20
Wabah Corona, Juru Parkir di Margonda Meringis
Sumber Foto SH/E-2
Lokasi parkir di depan Roti Bakar Eddy di Margonda Depok.

DEPOK - Jakson mengisap dalam-dalam rokoknya. Hari menjelang maghrib. Suara azan berkumandang. Wajahnya tidak cerah lagi sore itu. Ia mengambil lembaran rupiah dari saku celana. Hari ini uang parkir melorot tajam. Napasnya dia tarik dalam-dalam.

Pria asal Toba Sumatera Utara itu sehari-hari menapaki hidup sebagai juru parkir alias jukir di depan Roti Bakar Eddy di Jalan Raya Margonda Depok, Jawa Barat. Sudah lama dia mengais rupiah demi rupiah di daerah peyangga Ibu Kota Jakarta itu.

"Sudah seminggu ini parkiran di Roti Bakar Eddy sepi. Biasanya bisa 100 motor setiap hari dan 40 mobil yang bergantian parkir di sini," tuturnya datar.

Jumlah itu melonjak saban malam minggu. Maklum banyak yang wakuncar. Tapi sekarang situasinya berbeda. Suasana sepi kini menjadi nyata di depan mata."Nggak tahu sampai kapan begini bang," ujarnya lagi. Ia mengaku, sepuluh motor sehari saja sudah lumayan!

Parkir motor di Roti Bakar Eddy dipatok Rp2.000. Sementara mobil Rp4.000 untuk sekali parkir. Juru parkir dibagi dalam dua sif. Pertama, mulai pukul 7.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Sif pukul 18.00 WIB sampai 02.00 dini hari WIB.

Dari menjalani hidup sebagai juru parkir, dia mengaku membawa pulang Rp350 ribu hingga Rp400 ribu sekali sif. Namun, sekarang untuk mendapat angka itu sangat sulit. Pengunjung Roti Bakar Eddy di Jalan Raya Margonda Depok melorot tajam; tak seramai sebelum wabah virus corona merebak."Pengunjung jadi takut untuk berkerumun apalagi makan bareng roti di sini," kata Jakson lagi.

Jakson tidak tahu harus mengadu ke mana lagi untuk melarikan cerita miris ini. Namun, dia adalah lelaki Batak yang pantang menyerah apalagi menangis. Katanya, hidup ini harus dihadapi. Pantang untuk ditangisi ujar pria bermarga Pasaribu ini.

"Saya yakin badai pasti berlalu. Sebagai orang percaya saya harus imani itu," katanya.

Obrolan kami pun berujung. Saya harus pamit karena roti bakar yang saya santap sudah habis. Kopi hitam pun sudah tandas. Meja sudah siap dibersihkan. Kami pun berpisah. Gerimis kecil menjadi tanda perpisahan kami. Sayonara!

Ia menyalami tangan saya. Saya pun membungkuk. Langit sudah gelap. Peluit Jakson berbunyi karena ada mobil yang parkir."Kiri...kiri...lurus...lurus," teriak Jakson memarkir mobil xenia warna silver di lahan parkir Roti Bakar Eddy.

Tetap semangat Bang Jakson. Tiada air mata sepahit apapun roda kehidupan ini. Pemenang adalah mereka yang mampu keluar dari kondisi sesulit apapun itu!(E-2)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load