"WFH" dan Kereta Terakhir di Ujung Malam

Sabtu , 28 Maret 2020 | 09:35
Sumber Foto SH/E-2
Suasana KRL Commuter Line terakhir tujuan Stasiun Cibinong Nambo semalam.

JAKARTA - Sepi! Itulah kereta terakhir menuju Stasiun Cibinong Nambo dari Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat semalam. Tak seramai biasanya. Orang berdesakan; berhimpitan dan kadang bau badan menyeruak di antara sudut-sudut kereta walau AC menyengat.

Bangku prioritas pun kadang diduduki penumpang yang tak berhak. Anak muda kadang pura-pura tidur pulas dengan wajah ditutup kupluk jaket atau topi yang sengaja dipelorotkan ke bawah wajah. Padahal di depan anak muda itu ada ibu tua renta. Kaca matanya pun ibarat tutup botol. Mungkin dia ngantuk berat dan sudah lelah. Tapi tak satupun yang memberinya tempat duduk. Ternyata lelah telah menguburkan rasa iba. Mati rasa!

Tapi malam ini ketika di KRL Commuter Line memacu kecepatannya; membela dinginnya malam cukup berbeda. Tiba-tiba pemandangan berdesak-desakan lenyap sudah! Yang ada bangku yang kosong tak berpenghuni. Sepi mencekam erat-erat!

Dalam benak saya: seandainya saja kondisi seperti ini berlangsung lama oh betapa indahnya berkereta di Ibu Kota Jakarta. Bahkan, mungkin saya bisa berselancar di dalam kereta.

"Work From Home" (WFH) akibat ganasnya virus corona membuat semua kondisi terbalik. Orang diwajibkan bekerja dari rumah. Mencoba membawa suasana kantoran di rumah. Walau seorang teman sempat mengeluh. Begini katanya: Bekerja dari rumah tak seindah di kantor. Lagi asik kutak-kutik laptop atau notebook tiba-tiba muncul suara: "Tolong angkat jemuran sudah mau hujan tuh." Belum lagi perintah agak halus: "Jangan lupa matiin air jika sudah mendidih ya. Itu untuk buat kopi kamu juga. Mau ngopi kan?" Padahal tugas kantor masih menumpuk. Waktu terus berputar cepat. Ah!

"Work From Home" telah berdampak luar biasa. Penumpang kereta pun melorot. Entah sudah berapa persen kerugian akibat kondisi itu. Yang pasti menurut Vice President Corporate Communication PT Kereta Commuter Indonesia Anne Purba dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (25/3/2020), jumlah pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek terus menunjukkan tren menurun dalam dua pekan terakhir, yakni hampir 70 persen dari yang biasanya mencapai 900.000 hingga 1,1 juta pengguna, menjadi sekitar 300.000 pengguna per hari.

Ia menyebutkan, pada Senin (23/3/2020) volume tercatat 341.252 pengguna, sementara pada Selasa (24/3/2020) hanya 292.825 pengguna.“Meskipun jumlah pengguna terus menurun, berbagai langkah untuk mengantisipasi penyebaran virus corona di KRL Commuter Line terus ditingkatkan oleh PT Kereta Commuter Indonesia,” Anne Purba menambahkan.

Malam semakin membatu. KRL Commuter Line terus bergerak. Satu per satu penumpang bermasker mulai turun. Bilangan jumlah penumpang kian menipis. Udara AC makin dingin menembus jaket dan menusuk tulang ini.

Menjelang pukul 10 malam, KRL Commuter Line sudah memasuki Stasiun Depok Baru dan saya harus siap-siap turun di Stasiun Depok.

Akhirnya kaki siap melangkah. Pintu kereta terbuka, saya melompat meninggalkan kereta yang mulai kesepian ditinggal penghuninya.

Semua menjadi berbeda ketika "work from home" berkuasa. "Stay at home" menjadi slogan wajib bagi para pekerja yang selama ini akrab bersama KRL Commuter Line.

Akhirnya kereta ditinggal "sang pacar"...bersama malam yang semakin pekat dan cuma bulan yang membuang senyum di kegelapan malam.(E-2)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load