"Work From Home", Parkir Motor Stasiun Pun Melompong

Jumat , 27 Maret 2020 | 09:05
Sumber Foto SH/E-2
Lokasi parkir sepeda motor di Stasiun Depok kosong melompong.

DEPOK - Hampir dua minggu, banyak kantor terutama di Jakarta yang meminta karyawan bekerja dari rumah. Istilah kerennya "work from home". Ya, karyawan dibolehkan bekerja dari rumah. Ada yang suka tetapi ada juga yang gigit jari karena tidak bisa seliweran menikmati sudut-sudut gedung jangkung di Ibu Kota Jakarta.

Tapi apa boleh buat! Wabah virus corona (Covid-19) telah mengubah segalanya. Ritme kerjapun berubah total. Kantor-kantor kehilangan penghuninya. Jalan-jalan protokol menjadi sepi. Lalu lintas tak sepadat hari-hari biasanya. Bisa ditebak: dampaknya merembet ke mana-mana.

Salah satunya tempat parkir di stasiun kereta api. Seperti di Stasiun Depok, Jawa Barat.

Iqbal, petugas di pos tiket parkir sepeda motor hanya bisa geleng-geleng kepala. Pria bertubuh sedang dan berkulit hitam itu hanya mengangkat bahu ketika ditanya dampak "work from home" terhadap tempat parkir motor di Stasiun Depok.

"Ngaruh sekali mas. Lihat saja parkiran motor. Hampir dua pekan ini sepi. Tak seramai saat kebijakan karyawan boleh bekerja dari rumah belum diberlakukan," katanya, Kamis (26/3/2020).

Padahal, katanya sebelum ada aturan bekerja di rumah, parkiran sepeda motor di Stasiun Depok penuh banget. Menjelang pukul 10.00 WIB, parkiran sudah ditutup. Paling setop ditaruh di pintu masuk parkiran. Sekarang kondisinya berbeda. Melorot tidak terkira!

Pengendara sepeda motor bisa menggunakan kartu comet untuk parkir motor di Stasiun Depok. Sekali parkir rata-rata Rp8.000. Dan itu langsung mengurangi saldo ketika motor keluar dari parkiran.

Kondisi serupa juga dialami pengelola parkir sepeda motor di luar Stasiun Depok. Tarif mereka tidak jauh berbeda dari parkir motor di stasiun."Seminggu ini yang parkir menipis mas. Parah!" tutur Djamal, remaja tanggung yang menjaga parkiran di luar Stasiun Depok.

Djamal harus berteriak kencang merayu para pengendara motor agar mau memarkir kendaraannya di lokasi parkirannya.

Suara kencang itu ternyata tidak juga mampu mengembalikan lokasi parkir yang digawangi Djamal."Mau dibilang apalagi. Kondisinya sekarang sulit mas," lanjutnya lagi. Ia tetap akan berteriak lantang untuk memanggil pengendara sepeda motor agar parkir di lokasi parkir motornya.

Di luar Stasiun Depok banyak bertebaran lokasi parkir motor yang dikelola warga setempat. Rumah yang luas pekarangannya diubah menjadi lokasi parkir. Ya lumayan untuk menambah pundi-pundi keluarga. Setidaknya ada 13 lokasi parkir motor di luar Stasiun Depok.

Hari mulai senja. Parkir motor di Stasiun Depok masih saja sepi. Yang tersisa hanya motor yang menginap sejak beberapa hari lalu.

Iqbal dan Djamal adalah orang kecil yang hidupnya dari parkir sepeda motor para pekerja yang berebut sesuap nasi di Jakarta. Kebijakan "work from home" telah mengubah segalnya.

Lokasi parkir motor ditinggal penghuninya. Walau keduanya masih menaruh harapan: segalanya pasti berlalu. Ibarat sebuah lagu: "Badai Pasti Berlalu".

Pertanyaannya: kapan? Karena perut harus kenyang dan dapur harus tetap ngebul. Anak-anak harus tetap sekolah bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Akhirnya senja berlalu dan malam menjelang. Jawaban pertanyaan itu hingga kini masih menggantung di langit tanpa bintang karena hujan rintik-rintik mulai turun. Yang pasti kini lapangan tempat parkir sepeda motor di Stasiun Depok masih melompong: menunggu rezeki yang datang!(E-2)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load