Dampak Corona, Bangku di Mal Kini Tak Bertuan

Kamis , 26 Maret 2020 | 12:06
Dampak Corona, Bangku di Mal Kini Tak Bertuan
Sumber Foto SH/E-2
Suasana sepi di food court Depok Town Square (Detos).

DEPOK - Hari mulai senja. Sang surya siap berlalu. Namun, deretan bangku dan meja di kawasan food court pusat perbelanjaan Depok Town Square (Detos) masih saja kosong; tidak bertuan.

Aneh! Tak seperti biasanya food court itu apalagi besok hari libur sepi begini sejak minggu lalu. Hari Selasa (24/3/2020) pun tetap begitu. Padahal, sebelumnya meja dan bangku di sana selalu ramai. Berbagai jenis makanan dan minuman terhampar dan siap disantap pengunjung yang telah memesannya.

Wabah virus corona membuat semuanya berubah. Meja dan bangku itu kini kesepian: ditinggal pengunjung. Ibarat wanita cantik pasti cucuran air mata berjatuhan. Dia seperti ditinggal sang kekasih. Rindu tidak berujung!

Keramaian dan hiruk-pikuk di food court di Detos seakan mati. Seperti kuburan selepas senja padahal langit masih memerah karena batas cakrawala masih terlihat jelas.
Kesepian itu juga menghinggapi Ratna pelayan Soto Daging Boyolali di sana. Katanya, "Sejak pekan lalu pengunjung food court Detos sepi."

Ia tidak banyak berkata banyak. Tapi wajah senduhnya sudah menggambarkan kesedihan yang mendalam."Seminggu biasanya untung bersih Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta. Sekarang boro-boro. Parah!" tuturnya sambil membetulkan hijabnya.

Ratna juga bilang bahwa kini ada kebijakan pengelola gedung terkait waktu operasional food court di Detos. Dulu sebelum muncul ketakutan akibat virus corona, food court dibuka mulai pukul 11.00 WIB dan tutup pukul 22.00 WIB. Malam minggu bisa lebih dari itu. Tapi kini waktu tutup dibatasi hingga pukul 20.00 WIB. Pedagang dilarang membuka kios makanannya di atas waktu itu.

"Kalau begini terus bagaimana bisa untung. Malah buntung. Mas tengok saja banyak kios makanan yang sebagian sudah tutup karena pengunjung sepi," katanya lagi.

Benar apa kata Ratna. Beberapa kios makanan dan minuman menulis pemberitahuan tutup sementara tanpa disebut kapan dibuka kembali.

Dedy, cleaning service Detos mengaminkan itu."Banyak kios makanan dan minuman yang tutup sejak pekan lalu. Pengunjung sekarang sepi. Ya bisa 90 persen. Mungkin takut keramaian lantaran wabah virus corona," katanya.

Pria lajang yang tinggal di Citayam itu mengaku biasanya di hari-hari sebelumnya, dirinya sibuk luar biasa untuk membersihkan meja dan bangku pengunjung kelar makan dan minum."Sekarang mah banyak santainya," tuturnya sambil tertawa kecil. Dedy lalu mengeluarkan telepon genggamnya untuk mengambil suasana meja dan bangku food court yang kosong-melompong. Katanya, untuk laporkan ke pimpinan.

Wabah virus corona memang luar biasa. Orang takut kepalang. Apalagi media ikut meramaikan dengan pemberitaan tiada henti. Jumlah korban tewas diumbar habis-habisan. Tayangan orang memborong di super market mengalir tiada henti. Berita yang memberi harapan terbang entah ke mana. Suasana mencekam dinarasikan begitu mendalam. Ujung-ujungnya orang malas ke pusat berbelanjaan seperti mal, misalnya.

Kasihan orang-orang seperti Ratna pelayan Soto Daging Boyolali atau Dedy, cleaning servis di Detos. Mereka hanya orang kecil yang butuh lembaran demi lembaran rupiah agar hidup bisa lebih panjang. Napas bisa panjang ditarik ibarat merokok lison.

Entah mau ke mana mereka berharap. Karena sepertinya harapan itu masih terbang tinggi nyaris menembus cakrawala. Apalagi hingga kini deretan bangku tersebut menjadi hilang makna karena "tidak bertuan" lagi.

Hari semakin malam. Detak jam hampir mendekati pukul 20.00 WIB malam. Di balik kaca food court Detos di depan Margo City lalu lintas kehilangan gairahnya karena diam-diam sepi. Bunyi klakson angkot nyaris hilang. Kerumunan pengojek online pun menipis.

Itulah cerita duka Detos. Satu dari 13 pusat perbelanjaan di Kota Depok yang kini menunggu lonceng kematian. Semoga tidak! Masih ada pelangi yang indah selepas badai!(E-2)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load