Anies Tinjau Banjir, Warga Teriak Kelaparan

Kamis , 02 Januari 2020 | 13:25
Anies Tinjau Banjir, Warga Teriak Kelaparan
Sumber Foto cnnindonesia.com
Gubernur Anies Baswedan meninjau banjir di Semanan Kalideres Jakarta Barat.

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan disambut teriakan kelaparan dari seorang warga korban banjir saat melakukan kunjungan ke Jalan Rusunawa Pesakih, Kalideres, Jakarta Barat.

Anies diteriaki saat tengah diwawancara oleh sejumlah awak media usai berkunjung ke Rusun Pesakih. Ia diketahui tengah meninjau kondisi warga yang terkena imbas banjir sejak kemarin,

"Kami butuh makan, banyak yang kelaparan," teriakan tersebut terdengar cukup kencang sesaat setelah Anies selesai melakukan wawancara dengan sejumlah awak media, Kamis (2/1/2019).

Anies yang diteriaki pun sontak menjawab dan membenarkan bahwa saat ini masih banyak warga di kawasan Pesakih yang kelaparan dan belum bisa dievakuasi. "Iya benar," kata Anies sambil terus berjalan meninggalkan warga yang berteriak kelaparan.

Saat melakukan wawancara, Anies juga sempat menjelaskan perihal kurangnya pasokan makanan ke wilayah yang terendam banjir cukup tinggi ini. Saat melakukan inspeksi Anies menyebut ada sekitar 1.000 warga yang belum dievakuasi dan masih terjebak di Masjid Hasyim Ashari.

"Di sini ada banyak warga terdampak dan mayoritas, belum dapat bantuan. Karena itu, mereka kebanyakan membutuhkan makanan, minuman," katanya.

Meski begitu Anies menyebut saat ini bantuan berupa makanan dan minuman tersebut telah dalam perjalanan untuk segera diberikan kepada warga.

Menurut dia, di wilayah tersebut selain terjebak di Masjid Hasyim Ashari, masih ada juga warga yang terjebak di rumah mereka. Hal ini lantaran warga tersebut sebelumnya menolak dievakuasi dan memilih tetap tinggal di rumahnya meski air meluap semakin tinggi. "Tapi diyakinkan berangkat, dan sudah dievakuasi," katanya.

"Pasokan makanan, itu yang datang terlambat, saya bicara dengan pak wali Jakarta barat untuk segera percepat," Anies menambahkan seperti dilansir cnnindonesia.com.(E-2)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load