Nasi Dingin Lebih Sehat Dibanding Nasi Hangat. Benarkah?

Rabu , 06 November 2019 | 22:51
Nasi Dingin Lebih Sehat Dibanding Nasi Hangat. Benarkah?
Sumber Foto: Freepik.
Pati resisten yang terdapat di dalam nasi dingin bermanfaat sebagai prebiotik.

JAKARTA - Bagi masyarakat Indonesia, nasi hangat merupakan menu utama dalam hidangan sehari-hari. Apalagi, menikmatinya saat cuaca dingin atau hujan ditambah lauk ayam goreng dan sambal yang menggugah selera. Itulah sebabnya, banyak orang yang memilih menyantapnya dalam keadaan hangat bahkan panas daripada dingin.

Tapi taukah Anda, nasi yang baik dan bagus untuk kesehatan, justru nasi yang dalam keadaan dingin. Menurut dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK yang dikutip dari doktersehat.com kandungan gula pada nasi dingin lebih rendah daripada nasi yang masih panas. Selanjutnya, nasi dingin dianggap sebagai kondisi terbaik untuk penderita diabetes yang ingin mengkonsumsi nasi.

Dokter Juwalita juga mengatakan, banyak dari penelitian yang telah berhasil membuktikan bahwa nasi yang didiamkan pada suhu ruangan cenderung memiliki indeks glikemik rendah dibandingkan kadar gula pada nasi panas. Indeks glikemik rendah adalah nilai yang menggambarkan seberapa cepat atau lambatnya makanan tersebut dalam menaikan kadar gula darah. Nasi yang dingin memiliki indeks glikemik rendah yang cenderung melepaskan glukosa (gula) dengan perlahan hingga peningkatan kadar gula darah tidak banyak.

Selain itu, pati resisten yang terdapat di dalam nasi dingin bermanfaat sebagai prebiotik. Nutrisi yang tidak bisa dicerna ini berfungsi sebagai makanan bagi bakteri baik dalam usus besar. Selain itu, berperan untuk melindungi tubuh dari bakteri jahat dan jamur yang mendatangkan infeksi.

Nasi dingin akan membuat Anda terasa lebih kenyang dan tidak mudah lapar karena pati resisten yang tinggi menyebabkan proses pencernaan cenderung lambat. Hal yang satu ini mungkin bisa membantu Anda untuk menurunkan berat badan. Jadi, untuk Anda yang ingin lebih sehat, cobalah membiarkan nasi Anda hingga dingin sebelum mengonsumsinya. (M-1/E-4)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load