Festival Film Anak Kineko: Dorong Anak Eksplorasi Emosi

Minggu , 03 November 2019 | 20:41
Festival Film Anak Kineko: Dorong Anak Eksplorasi Emosi
Sumber Foto: Antara.
Para pemain 3feet saat memberikan salam pada para penonton film di Festival Film Anak Kineko.

TOKYO - Digelar di Futako Tamagawa, Tokyo, Festival Film Anak Kineko memberikan berbagai pilihan aktivitas yang menyenangkan dan menghibur untuk anak-anak. Suasana di sekitar tempat pemutaran hingga ke detil kecil seperti pengaturan tempat duduk di dalam bioskop dirancang untuk menyajikan informasi yang edukatif.

Festival Film Anak Kineko kali ini digelar dekat sebuah pusat perbelanjaan dan akan berlangsung sampai 5 November 2019. Suasana festival mendorong anak-anak dan orangtuanya berbondong-bondong datang ke sana. Beberapa anak kecil tampak menggambar, berfoto di studio mini yang membuat mereka bisa berpose dalam seragam berbagai profesi, melihat pertunjukan badut dan penampilan menghibur lainnya.

Direktur Jenderal Festival Film Anak Kineko Keiko Toda dalam keterangan resmi mengatakan, "Program penayangan dipersiapkan untuk berbagai rentang usia anak. Meski budaya dan kebiasaan akan berbeda bila bahasa berbeda, film-film di Kineko tak cuma seru ditonton, tapi juga memberikan kejutan, hiburan, kesedihan, dan kadang rasa takut, sebuah kesempatan untuk merasakan emosi yang kaya."

Festival yang sudah berusia 27 tahun ini memiliki maskot kucing hitam dengan topi merah dan dasi kupu-kupu berwarna kuning. Maskot ini  tampak pula di sela-sela pemutaran yang pada satu sesi terdiri dari beberapa film pendek. Salah satu pemutaran film yang berlangsung pada Sabtu petang (2/11) di iTSCOM Studio & Hall, Tokyo berlangsung meriah.

Tidak seperti bioskop kebanyakan. Dalam aula itu, terdapat sofa-sofa empuk dan bean bag sehingga anak-anak bisa menonton sambil berbaring senyaman mungkin. Sebelum dibuka dengan film stop motion Ailin on the Moon berdurasi lima menit dari Argentina, seorang badut dan pembawa acara mengajak anak-anak untuk menari koreografi sederhana yang identik dengan gerakan kucing. Setelah beberapa kali berlatih, di mana anak-anak kecil ikut menari secara antusias, sang maskot keluar dan mereka menari bersama.

Selain film animasi, festival ini juga menayangkan film panjang dari berbagai negara yang uniknya langsung disulih suara secara langsung. Di sebelah layar, berjejer para pengisi suara yang langsung menerjemahkan dialog ke dalam bahasa Jepang agar anak-anak kecil yang belum bisa membaca terjemahan dapat ikut menikmati.

Film yang ditayangkan petang itu adalah Paper Kite dari Qatar, berkisah tentang seorang anak baru bernama Zayn di sekolah katolik yang ketat. Ia mendorong temannya untuk mewujudkan keinginan membuat sebuah layangan. Suster di sekolah memergoki dan memarahi mereka. Namun persahabatan ini semakin erat ketika layanan itu berhasil melayang di angkasa.

Film lain yang bisa jadi catatan adalah film 3feet yang berasal dari dari Kolombia, mengenai bocah 10 tahun bernama Gonzalo yang bermain bola sepanjang perjalanan ke sekolah. Ia diomeli guru karena sepatunya kotor dan diancam guru akan dilarang bermain bola lagi bila ia kelak datang dengan sepatu belepotan lumpur.

Gonzalo mencari cara ketika tak sengaja sepatu yang sudah ia jauhkan dari lumpur pada akhirnya menjadi kotor lagi. Para pemain film 3feet juga hadir dan diundang ke atas panggung untuk memberikan salam pada para penonton. (E-4/Ant)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load