Pantai Kepulauan Kangean Buat Langsung Jatuh Cinta

Senin , 14 Januari 2019 | 11:35
Pantai Kepulauan Kangean Buat Langsung Jatuh Cinta
Sumber Foto bhena geerushtia
Satu sisi pantai di Kepulauan Kangean.

MADURA - Kepulauan Kangean di Sumenep, Madura menjanjikan panorama yang dapat membuai para wisatawan untuk berkunjung ke sana. Pantai yang indah hingga jajanan tradisional dengan bahan dasar ikan sungguh menggiurkan lho!

Ombak tinggi dan angin kencang menyambut kedatangan saya di Kepulauan Kangean.

Kapal Bahari Ekspress, Sabtu (5/1/2019) baru berani berlayar pukul 08.00 WIB. Sehari sebelumnya Kapal Sumekar sudah lebih dulu berlayar. Itu pun masih dihantam ombak hingga air pun masuk ke geladak kapal.

Setelah dengan sangat terpaksa membeli tiket VIP dari calo karena habis dan hanya sisa satu tiket gagal. Parahnya lagi tiket itu atas nama Samawi yang ditawarinya pada saya.

Karena sudah bermalam di Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Madura langsung saja saya iyakan tiket seharga Rp220.000 tersebut daripada tidak berangkat. Si calo meraup untung Rp13.000.

Video kacaunya keadaan penumpang di dalam Kapal Sumekar menyebar di grup Whatsapp masyarakat Kangean, hingga seorang calon penumpang memperlihatkannya pada saya.

Teringat Samawi, nama yang tertulis dalam tiket VIP yang saya punya. Terus terang, saya menelan ludah dan ciut banget.

Bayangan kalau kapal ini tenggelam maka identitas saya tidak ada sebagai korban lalu saya menjadi santapan ikan-ikan dan jiwa saya abadi di Kepulauan Kangean sudah memenuhi kepala.

Selidik punya selidik, ternyata si calo membeli beberapa tiket dari oknum petugas tiket lalu didaftarkan dengan nama-nama palsu.

Mengingat hal ini menyangkut keselatan jiwa penumpang, harus ada pengusutan lebih lanjut.

Empat Jam Perjalanan

Kurang lebih empat jam Kapal Bahari Ekspress berlayar dari Pelabuhan Kalianget menuju Pelabuhan Pulau Kangean. Syukurlah, laut tenang selama perjalanan dan hampir tidak ada kendala apapun.

Sesampainya di pelabuhan, saya disambut Bidan Iin dan sekeluarga yang menjadi tuan rumah saya selama di sini.

Destinasi pertama, kami mengunjungi pantai pasir putih untuk bakar jagung, eittss tapi bukan sembarang jagung.
Namanya jagung ketan, hanya ada di Kangean. Cenderung kecil memang, tapi rasanya legit. Lalu berenang bersama anak-anak hingga matahari hampir tenggelam.

Pagi harinya kami ke pasar. Pasar yang sempit dan sedikit sesak membuat suasana keakraban antar masyarakat begitu terasa. Berbagai jenis hasil tangkapan laut dijejerkan memanjang. Bila suami yang pergi melaut maka tugas istrilah yang menjual hasil tangkapan suaminya di pasar ini.

Bau amis segar menyeruak masuk ke hidung.

Selain itu, ada juga beberapa penjual jajanan tradisional seperti taos-taos yang terbuat dari ketela dicampur gula merah, lopes, atau ketan hitam yang ditaburi kelapa.

Membawa pulang beberapa ikan segar, dan cumi untuk dimasak di rumah dan dijadikan cumi asam pedas serta ikan kuah asam daun kedondong. "Nyamannya. Enak banget!"

Matahari sudah berada tepat di atas kepala, kami sudah dalam kapal kecil untuk menyeberang menuju pulau Mamburit. Masih salah satu pulau dari gugusan kepulauan Kangean.

Berbeda dengan Pulau Kangean Utama. Pulau ini masih belum dialiri listrik dari PLN. Masyarakatnya bergantung pada satu genset milik seorang warga. Memang sih, pulau ini kecil dan tenang.

Banyaknya pohon sukun membuat pulau ini juga terkenal dengan olahan sukunnya. Karena jaraknya sangat dekat dengan Pulau Kangean, tidak sampai 10 menit menyeberang dengan kapal kecil yang biasa angkut penumpang dan kendaraan bermotor masyarakat.

Sukun yang jatuh, terbawa terombang-ambing di laut hingga ke pulau Kangean. Ada pula mercusuar di sini

Sementara itu, konstruksi tiang panjang yang rencananya akan dibuat jembatan yang menghubungkan Pulau Mamburit dengan Pulau Kangean terbengkalai begitu saja. Entah apa alasannya jembatan ini tidak diteruskan pembangunannya.

Ikan tenggiri seberat 5 kilogram adalah hal biasa yang ditangkap nelayan. Bahkan, di dalam kapal, masih ada yang seberat 10 kilogram.

Wisata Goa Koneng

Tidak hanya wisata pantai, ada beberapa wisata goa di sini. Salah satunya yang kami kunjungi adalah Goa Koneng yang berada di timurnya pulau Kangean.

Sayang, banyaknya vandalisme di hampir seluruh dinding goa serta buruknya pengelolaan membuat wisata ini ditinggalkan. Tidak ada lagi yang berkunjung ke sini baik masyarakat Kangean sendiri maupun wisatawan luar Kangean.

Ada pula pemandian kolam air tawar yang airnya langsung mengalir ke laut. Anak-anak kecil biasa bermain dan berenang di kolam itu ketika sore.

Puas di bagian selatan, saya beralih menuju bagian timur, ada Teluk Sapoong. Satu jam perjalanan menggunakan sepeda motor dengan jalan berbatu, berlubang, pasir hingga genangan air di mana-mana, kami melewati beberapa dusun sebelum akhirnya sampai di dusun Sapoong.

Setelah sempat membantu seorang ibu yang sedang menjemur ebi, saya langsung berlari ke dermaga kayu dengan beberapa pohon bakau di kiri kanannya. Hamparan pasir putih dengan laut yang lagi-lagi sangat tenang serta beberapa bale-bale di sepanjang garis pantainya.

Ada juga pohon senteki, yang hanya hidup di pulau Kangean. Batang dari pohon ini dipercaya mampu menangkal ilmu hitam seperti sihir dam sebagainya serta membuat ular tidak akan mendekat apabila batang pohon ini dijadikan gelang tangan.

Tidak jauh berbeda dengan pulau Madura, di sini tingkat pendidikan masih rendah serta angka pernikahan dini yang masih cukup tinggi, masyarakat yang belum sadar akan potensi wisata pulaunya, mereka yang masih tertangkap mata oleh saya sedang membuang sampah plastik ke laut merupakan sekelumit masalah sosial yang juga harus diperbaiki.

Sudah tiga hari saya di sini, waktunya saya untuk pulang. Meskipun jauh dari rumah, saya masih merasakan kehangatan keluarga dari keluarga Mba Iin.

Masyarakat Kangean yang sangat ramah, dan luar biasa baik juga pulaunya yang indah pasti membuat saya rindu untuk kembali ke sini lagi. Semoga potensi wisata yang ada dimaksimalkan, dijaga dan terus dirawat.

Kalau suatu hari nanti saya kembali, saya berharap pariwisata Kangean sudah maju namun dengan masyarakatnya yang tetap menjadi nelayan atau berkebun sehingga pariwisata tetap bukanlah komoditas utamanya.(bhena geerushtia)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load