Kenali Fenomena "Burn Out" dan Cara Penanganannya

Senin , 18 Oktober 2021 | 09:50
Kenali Fenomena
Sumber Foto: Pixabay.
Ilustrasi.

JAKARTA - 'Burn Out' merupakan istilah yang menggambarkan keadaaan stres secara akut. Ketidaknyamanan ini umum terjadi bagi siapapun yang memiliki aktifitas secara kontinyu dengan sejumlah resiko yang berlebihan bahkan tanpa resiko, alias rutinitas yang membosankan. 

Dokter spesialis jiwa dari Siloam Hospitals Bali, dr. Monika Joy Reverger Sp.KJ mengatakan, kondisi seseorang yang mengalami situasi 'burn out' tidak dapat disepelekan. Pasalnya, apabila tidak ditangani, burn out berdampak fatal.   

"Kondisi ini bila tidak ditangani dapat menjadi pencetus depresi dan gangguan kesehatan fisik maupun mental," tutur dr. Monika Joy Reverger Sp.KJ melalui edukasi bincang sehat pada kanal live Instagram, akhir pekan lalu di Kuta Bali.   

Ditambahkan dr. Monika, yang kesehariannya berpraktek tetap di Siloam Hospitals Bali yang berlokasi di bilangan Sunset Road Kuta, Bali tersebut, 'burn out' berbeda dengan rasa bosan. Ia mengatakan, 'burn Out" erat dengan rutinitas, dan gejala sering terjadi pada karyawan, pekerja rutin dan bahkan ibu rumah tangga karena lokasi dan aktifitas yang sama dan terus dilakukan berulang ulang bahkan tahunan, kondisi ini ditandai dengan kelelahan secara fisik dan emosional dan juga karena bayangan ekspektasi di pekerjaan belum juga tercapai, dan selalu menimbulkan rasa tidak nyaman ini. 

"Apabila dirasakan hingga lebih dari satu minggu, hendaknya segera berkonsultasi dengan pihak medis atau dokter ahli," imbuh dr. Monika Joy. 

Penanganan Efektif

Dokter spesialis jiwa dari Siloam Hospitals Bali, dr. Monika Joy Reverger, Sp.KJ mengatakan, fenomena 'burn out' dapat ditangani dan bisa disembuhkan. Hanya saja, sebelum melakukan tindakan secara medis, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuka komunikasi. 

"Bagi para profesional yang merasakan gejala burn out ini, hendaknya membuka komunikasi. Sampaikan gejala ini kepada pimpinan atau rekan sekerja. Hal ini bermanfaat untuk mengurangi beban kerja. Sama halnya dengan menciptakan suasana rumah tangga yang nyaman dan tenteram," tutur Monika Joy Reverger. 

Berlibur, meditasi, memenuhi jam tidur yang cukup dan rutin berolahraga merupakan cara yang baik dalam mengurangi sekaligus menghilangkan 'burn out' yang hinggap pada diri manusia. Di akhir edukasi yang diselingi dengan pertanyaan viewer, dokter spesialis kejiwaan ini pun mengingatkan bahwa  mencegah 'burn out' adalah berhenti dari rutinitas pekerjaan dan atau memvariasikan rutinitas. 

"Hanya saja pada antiisipasi untuk keputusan tersebut, terlebih dahulu lihat hal positifnya. Cari sisi positif dalam pekerjaan itu, bersosialisasi dengan rekan kerja, jaga kesimbangan  dengan melakukan hobi atau ambil cuti untuk berlibur, " papar Monika. 

Adapun apabila kondisi 'burn out' dirasa berkepanjangan, jangan ragu menemui atau berkonsultasi dengan dokter kejiwaan karena tidak berarti dinyatakan 'kurang waras', karena dokter akan melakukan observasi , edukasi termasuk modifikasi. 

"Dan pada kondisi tertentu akan dibantu dengan obat obatan berlesensi, komunikasi ke orang dan atau ahli yang tepat menjadi kunci dalam penyembuhan pasien penderita burn out," pungkas dr. Monika Joy Reverger, Sp.KJ dari  Siloam Hospital Kuta Bali menutup sesi edukasinya. (E-4)



Sumber Berita: RRI.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load