Heboh Galon Air Mineral Tercemar, Pasta Gigi Juga Mengandung BPA

Kamis , 14 Oktober 2021 | 09:58
Heboh Galon Air Mineral Tercemar, Pasta Gigi Juga Mengandung BPA
Sumber Foto: Pixabay.
Ilustrasi.

JAKARTA - Beberapa waktu lalu, beredar informasi terkait Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) galon yang mengandung Bisfenol A atau Bisphenol-A (BPA) dan bisa berbahaya untuk kesehatan. Rupanya tak hanya pada kemasan galon, zat berbahaya ini ternyata ditemukan juga pada produk yang biasa digunakan sehari-hari.

Dokter Spesialis Anak dan anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Irfan Dzakir Nugroho, SpA, M Biomed, mengatakan kandungan BPA ini juga bisa ditemukan pada produk kebersihan yang biasa digunakan, seperti pasta gigi.

"Selain dari kemasan pangan, kita juga bisa temukan pada produk-produk kebersihan, seperti pasta gigi, pada pipa suplai air bersih, dan produk tambal gigi itu juga mengandung BPA," kata dr Irfan dalam webinar daring, Rabu (13/10/2021).

"Selain itu, toksisitas BPA ini juga bisa ditemukan hampir di semua anggota tubuh, karena mungkin masifnya penggunaan kemasan pangan yang mengandung BPA ini," lanjutnya. Masifnya penggunaan produk yang mengandung BPA membuat kandungan bahan berbahaya ini terdeteksi di beberapa bagian tubuh, seperti:

  • Saliva
  • Urine
  • Cairan ketuban
  • Darah tali pusat dan tali pusat
  • Kuku
  • Rambut
  • Kulit
  • Payudara
  • Lapisan adiposa

dr Irfan mengatakan akibat toksisitas BPA ini, lebih dari 130 studi melaporkan efeknya bisa memicu berbagai macam penyakit. Misalnya seperti kanker payudara, pubertas dini, penyakit jantung, infertilitas, katalisator penyakit saraf, dan obesitas.

Tak hanya itu, paparan BPA ini mampu mempengaruhi kondisi hormon-hormon manusia, seperti hormon estrogen, androgen, dan tiroid. Terlebih lagi bisa menyebabkan gangguan metabolik pada anak. "Ada beberapa studi yang melaporkan adanya gangguan struktur dan fungsi otak. Kemudian, mempengaruhi gangguan perilaku pada anak," ujarnya.

"Kemudian ada juga anak yang terpapar BPA pada masa pertumbuhannya, maka akan menimbulkan efek kesehatan pada anak di usia selanjutnya. Kita lihat sekarang banyak penyakit-penyakit metabolik yang mulai timbul di usia muda," jelas dr Irfan. 

Terkait kandungan BPA (Bisphenol-A) dalam air minum dalam kemasan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI pada Januari 2021 menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

  • Berdasarkan hasil pengawasan Badan POM terhadap kemasan galon AMDK yang terbuat dari Polikarbonat (PC) selama lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa migrasi BPA di bawah 0.01 bpj (10 mikrogram/kg) atau masih dalam batas aman.
  • Untuk memastikan paparan BPA pada tingkat aman, Badan POM telah menetapkan Peraturan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan. Peraturan ini mengatur persyaratan keamanan kemasan pangan termasuk batas maksimal migrasi BPA maksimal 0,6 bpj (600 mikrogram/kg) dari kemasan PC.
  • Kajian Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyatakan belum ada risiko bahaya kesehatan terkait BPA karena data paparan BPA terlalu rendah untuk menimbulkan bahaya kesehatan. EFSA menetapkan batas aman paparan BPA oleh konsumen adalah 4 mikrogram/kg berat badan/hari. Sebagai ilustrasi, seseorang dengan berat badan 60 kg masih dalam batas aman jika mengonsumsi BPA 240 mikrogram/hari. Penelitian tentang paparan BPA (Elsevier, 2017) menunjukkan kisaran paparan sekitar 0,008-0,065 mikrogram/kg berat badan/hari sehingga belum ada risiko bahaya kesehatan terkait paparan BPA.
  • Beberapa penelitian internasional juga menunjukkan penggunaan kemasan PC termasuk galon AMDK secara berulang tidak meningkatkan migrasi BPA. (E-4)


Sumber Berita: Detik.com.

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load