Paparan Cahaya pada Otak Janin Diprediksi Penting

Rabu , 22 September 2021 | 09:35
Paparan Cahaya pada Otak Janin Diprediksi Penting
Sumber Foto: Pixabay.
Ilustrasi.

JAKARTA - Tampaknya ada hubungan antara paparan cahaya selama kehamilan dengan perkembangan otak janin. Temuan terbaru dari peneliti di Universitas Ume, Swedia, bekerja sama dengan rekan-rekannya dari Amerika, kemungkinan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang penyakit neurologis tertentu di kemudian hari.

"Pada akhirnya, penemuan ini dapat membuka kemungkinan untuk menggunakan jenis stimulasi cahaya yang tepat selama kehamilan untuk mengurangi risiko gangguan neurologis di masa dewasa," kata Profesor Lena Gunhaga di Umeå Center for Molecular Medicine, Universitas Ume.

Kelompok penelitian di Universitas Ume, bersama dengan para peneliti dalam kelompok Profesor Richard Lang di Cincinnati, AS, sekarang dapat menunjukkan bahwa reseptor cahaya yang disebut Opsin 3 sudah diekspresikan di bagian sistem saraf pusat dan perifer selama tahap awal perkembangan janin. 

Molekul Opsin 3 memiliki ekspresi yang luas namun berbeda yang menunjukkan peran penting dalam pembentukan berbagai neuron, jalur saraf dan area otak dan sumsum tulang belakang. Ekspresi Opsin 3 dapat dikaitkan dengan sejumlah jalur saraf motorik dan sensorik yang mengatur gerakan, nyeri, penglihatan dan penciuman, serta memori, suasana hati, dan emosi.

Meskipun gagasan bahwa cahaya dapat memengaruhi sel-sel di dalam tubuh, bahkan pada janin yang belum lahir, mungkin tampak aneh, pada perhitungan maupun eksperimen sebelumnya menunjukkan bahwa cahaya dapat melewati kulit, jaringan lunak dan tengkorak untuk mengaktifkan fotoreseptor.

Opsin 3 mendeteksi cahaya dalam rentang biru pada panjang gelombang sekitar 480 nanometer. Penemuan pola ekspresi reseptor ini oleh para peneliti Ume menunjukkan bahwa cahaya memainkan peran penting dalam perkembangan dan fungsi otak selanjutnya. 

Ini mungkin menjelaskan mengapa risiko penyakit neurologis dan kejiwaan tertentu bervariasi tergantung pada waktu musiman kelahiran. Sejauh ini, korelasi yang tidak dapat dijelaskan ini telah diamati pada penyakit seperti Parkinson, Alzheimer, multiple sclerosis, gangguan bipolar, autisme, skizofrenia dan epilepsi. Konon, waktu kelahiran hanyalah salah satu dari beberapa faktor risiko penyakit yang dimaksud.

"Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum kami dapat mengeluarkan rekomendasi tentang terapi cahaya khusus untuk wanita hamil, kami jelas berada di jalur yang menarik yang pada akhirnya mungkin terbukti sangat signifikan," kata Lena Gunhaga.

Meskipun temuan baru ini didasarkan pada pengamatan otak dan sistem saraf tikus, fungsinya dianggap serupa pada manusia. Para peneliti melanjutkan studi yang lebih rinci tentang bagaimana Opsin 3 memengaruhi perkembangan dan fungsi otak. (E-4)



Sumber Berita: RRI.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load