Studi: Penyebab Munculnya Long Covid Diduga Mirip Autoimun

Jumat , 17 September 2021 | 10:28
Studi: Penyebab Munculnya Long Covid Diduga Mirip Autoimun
Sumber Foto: Johns Hopkins Medicine.
Ilustrasi.

JAKARTA - Long covid masih menjadi momok bagi para penyintas covid-19. Hanya saja sampai saat ini penyebab munculnya long covid masih belum diketahui pasti.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan bahwa 21 persen penyintas berpotensi mengalami long Covid. Beberapa gejala yang dialami mirip saat menderita Covid-19. Di antaranya seperti sesak napas, sakit kepala, sakit badan, hingga sulit tidur.

Dokter Spesialis Paru sekaligus Kepala Bagian Pembinaan Fungsi RS Bhayangkara, Yahya mengatakan, ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko long Covid pada pasien. "Kebiasaan atau gaya hidup seseorang bisa meningkatkan risiko terkena long Covid," kata Yahya dalam YouTube FMB9ID_IKP.

Berikut beberapa kebiasaan yang membuat pasien Covid-19 berisiko lebih besar terkena long Covid.

1. Merokok
Yahya mengatakan orang yang merokok lebih mungkin terkena long Covid setelah sembuh.

2. Banyak pikiran
Meski hal yang satu ini masih harus diteliti lebih lanjut, tapi orang yang kesehatan jiwanya terganggu lebih berisiko terkena long Covid-19. Menurut Yahya, aspek kesehatan jiwa juga berkontribusi pada risiko terkena long Covid. Banyak pikiran, terlalu mudah terbawa perasaan (baper), tertekan, tidak bahagia, dapat mempengaruhi sistem imun sehingga terjadi long Covid.

"Jadi barangkali yang tidak kalah penting adalah aspek kesehatan jiwanya, mungkin dia baperan, gampang depresi, stres, itu bisa jadi berisiko terjadinya long Covid," ucapnya.

3. Enggan konsultasi ke dokter setelah sembuh
Profesor Gusti Ngurah Kade Mahardika, ahli virologi Universitas Udayana mengatakan, kebiasaan menyepelekan sakit bisa meningkatkan risiko long Covid-19. Pasien Covid-19 yang telah dinyatakan negatif juga biasanya enggan melakukan konsultasi setelah sembuh.

"Segera setelah sembuh dari Covid konsultasikan ke dokter, jangan lengah. Juga ketika ada gejala-gejala muncul, bisa saja itu gejala long Covid. Jadi segera konsultasi ke dokter secepatnya meski sudah sembuh," kata Mahardika.

4. Kurang istirahat
Segera setelah sembuh dari Covid-19, Yahya menyarankan untuk tetap beristirahat setidaknya dua pekan. Hal itu dilakukan agar kondisi tubuh kembali fit dan siap melakukan kegiatan sehari-hari.

Namun biasanya orang yang sudah sembuh Covid-19 merasa bebas dan menjalani sejumlah rutinitas seperti biasa. Padahal, kondisi tubuh masih belum siap sepenuhnya sehingga memungkinkan terkena long Covid.

Mengutip CBC News, sampai saat ini belum diketahui penyebab munculnya long covid ini. Beberapa penyintas yang mengalami long covid dilaporkan berjuang dengan mengalami gejala seperti kelelahan ekstrem, sakit kepala, pusing, "kabut otak" dan kesulitan bernapas selama berbulan-bulan setelah infeksi awal mereka.

Dokter tidak yakin apa penyebabnya. Satu teori adalah bahwa jejak virus dapat terus "bersembunyi" di dalam tubuh, sementara yang lain percaya itu mungkin hasil dari sistem kekebalan yang menjadi overdrive. Mengutip Quartz, Para peneliti menduga berbagai gejala, mulai dari kelelahan hingga sesak napas hingga masalah jantung, bisa jadi karena faktor genetik, pembekuan darah, atau bahkan partikel virus yang tertinggal di dalam tubuh.

Dari berbagai studi yang dilakukan, saat ini peneliti sudah makin dekat untuk mengetahui penyebab munculnya long covid. Tetapi dari studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One mengungkapkan kemungkinan penyebabnya, yaitu antibodi yang bertahan setelah infeksi dibersihkan dapat menyebabkan sistem kekebalan menyerang tubuh secara keliru.

Penelitian ini dipimpin oleh Profesor nefrologi di Universitas Arkansas terhadap plasma darah 67 pasien covid-19 dan 13 orang tanpa riwayat infeksi.

Pasien Covid-19 saat ini dirawat di rumah sakit, sudah sembuh dari virus di rumah, atau pernah dirawat di rumah sakit (konvalesen).Sekitar 93 persen pasien rawat inap dan 81 persen pasien pemulihan dalam sampel mereka memiliki antibodi tertentu yang berkembang sekitar seminggu setelah infeksi awal, setelah antibodi lain telah bekerja untuk melawan penyakit.

Antibodi ini melakukan sesuatu yang istimewa: Ia menghambat protein, enzim ACE2, yang mengatur reaksi sistem kekebalan terhadap infeksi. Reaksi inflamasi seperti yang biasa terjadi pada penyakit autoimun. Peneliti menduga penyebab munculnya long covid mirip seperti reaksi autoimun. Hanya saja penelitian ini masih membutuhkan studi lanjut. (E-4)



Sumber Berita: CNN Indonesia.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load