Apriyani Rahayu dan Cerita Raket Kayu

Selasa , 03 Agustus 2021 | 20:11
Apriyani Rahayu dan Cerita Raket Kayu
Sumber Foto Tribunnews.com
Apriyani Rahayu dan Greysia Polii

JAKARTA--Siapa yang menyangka, Kabupaten Kowane, Sulawesi Tenggara, melahirkan seorang putri dan berhasil mengharumkan nama bangsa Indonesia melalui bulu tangkis di ajang Olimpiade Tokyo 2020.

Gadis kelahiran 29 April 1998 itu bernama Apriyani Rahayu. Atlet bulu tangkis ini lahir di Desa Lawulo, Kecamatan Anggaberi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Bersama Greysia Polii, Apriyani sukses meraih medali emas di cabang badminton ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 setelah menyingkirkan ganda putri China Chen Qing Chen/Jia Yi Fan pada Senin, dengan angka 21-19, 21-15.

Kemenangan Greysia/Apriyani sekaligus mencatatkan sejarah. Sejak pertama kali cabang olahraga bulu tangkis dimainkan pada Olimpiade yaitu tahun 1992, baru pertama kali nomor ganda putri Indonesia meraih medali emas.

Kemenangan ii tentu saja membuat bangga keluarganya. Khususnya ayah Apriyani, Amiruddin Pora, di Kabupaten Konawe, Sulawesi Selatan, yang kebetulan sedang merayakan ulang tahun pada 2 Agustus 2021. "Kemenangan Apriyani Rahayu bertepatan ulang tahun Ayahandanya," dikutip dari akun TikTok @farusyudiakbar99, dilansir Selasa (3/8). 

Dikutip dari rri.co.id, dalam video TikTok terlihat beberapa orang mengucapkan selamat ulang tahun. Kemudian terlihat seorang laki-laki memeluk ayah Apriyani. 

Selain itu di dalam ruangan rumahnya yang sederhana, nampak lemari kaca yang dipadati oleh sejumlah piala Apri. 

Netizen yang melihat momen mengharukan langsung ikut mengucapkan selamat ulang tahun kepada ayah Apriyani.

"Hadiah terbaik sepanjang masa untuk ayahanda kak Apri," kata @pe**. 

"Langsung syukuran," ujar @Pa**. 

"Dia memberikan kado terindah untuk ayah tercinta sekaligus kado HUT RI ke 76," kata @Ag**.

Raket Kayu

Perjuangan Apriyani, bungsu dari empat bersaudara buah hati pasangan Ameruddin Pora dan Siti Jauhar (almarhum), tidaklah mudah. Ameruddin Pora menjadi saksi bagaimana putrinya berjuang dari titik nol hingga bisa menjadi pemain profesional dan berkelas dunia.

Melalui sambungan telepon selulernya, Ameruddin bercerita kepada Antara bahwa anaknya mulai memegang raket pada usia tiga tahun, usia yang terbilang sangat muda. Melihat anaknya mulai senang bermain bulu tangkis, hati sang ayah terketuk untuk membuatkan raket meskipun dari kayu dengan senar pancing.

Di masa kecilnya, kondisi perekomonian keluarga yang pas-pasan membuat Apriyani Rahayu harus berlatih bulu tangkis dengan alat yang sekadarnya. Namun putri bungsunya itu tidak mempermasalahkan raket buatan sang ayah, bahkan Apriyani kecil menikmati permainannya.

Tak jarang, ketika senar raket milik Apriyani kecil putus, sang ayah bergerak cepat menyambung dan merajut kembali. Di sela rajutan senar raket sang ayah terselip doa agar anaknya kelak menjadi pemain profesional.

Ameruddin kemudian berinisiatif membuatkan sebuah lapangan di belakang rumah. Di lapangan itu, Apriyani bermain bersama teman-teman sebayanya.

Bakat ibu

Menurut Ameruddin, anaknya yang kini berusia 23 tahun itu mewarisi bakat ibunya yang telah meninggal pada 2015 lalu. "Karena mama dia (almarhumah Ibu Apriyani) pemain bulu tangkis, tenis meja dengan voli yang dia gemari. Jadi itu bakat dari almarhumah mamanya," kata Amiruddin.

Amiruddin bercerita, ibunda Apriyani, Siti Jauhar, mendidik dan menanamkan jiwa berani dan terus bersemangat kepada anaknya sejak kecil. Jiwa yang tangguh dan keras yang ada pada anaknya merupakan keberhasilan didikan mendiang istrinya.

Di mata sang ayah, Apriyani merupakan anak yang keras, tidak mudah menyerah dan terus berusaha meski dengan kondisi terbatas. "Kalau sosok dari Apriyani itu keras, keras dia, maunya harus menang. Dari kecil memang dididik. Pertama yang mendidik bukan saya, mamanya, almarhumah," ujar dia.

Sejak anaknya menyukai bulu tangkis, bahkan sebelum ia masu sekolah dasar, Ameruddin mengarahkan anaknya agar terus berlatih bulu tangkis. Apri mulai latihan di Gedung Sarana Kegiatan Bersama (SKB) Unaaha, Kabupaten Konawe, yang berjarak 9 kilometer dari rumahnya.

Pada 2005, Apriyani mulai ikut turnamen bulu tangkis tingkat kecamatan, setahun kemudian ikut ajang bulu tangkis junior tingkat Kabupaten Konawe.

Saat duduk di kelas enam SD, prestasinya semakin cemerlang. Apriyani lalu ikut Pekan Olahraga Daerah (Porda) Sultra di kota Raha, kabupaten Muna pada 2007 dan meraih juara II.

Ameruddin, adalah pegawai di UPTD Dinas Pertanian Konawe. Sementara Siti Jauhar hanya ibu rumah tangga.
Namun sang ibu selalu mendampingi anaknya bertanding, apalagi saat masih di level junior.

Demi terus mengasah kemampuannya menjadi pebulu tangkis profesional, Apriyani Rahayu pertama kali bergabung dengan PB Pelita Bakri pada 3 September 2011 ketika mantan juara dunia bulu tangkis Icuk Sugiarto menjadi ketua PBSI DKI Jakarta kemudian akhirnya hijrah ke PB Jayaraya Jakarta hingga sekarang ini.

Ketika ditanya apakah Apriyani sempat pulang ke rumah sebelum tampil pada Olimpiade Tokyo ini, Amiruddin mengatakan, seminggu sebelum tampil di Olimpiade anaknya sempat pulang untuk ziarah ke makam ibunya.

Ibunda Apriyani meninggal ketika pebulu tangkis itu mengikuti satu kejuaraan di Lima, Peru, pada 10 November 2015. Saat masuk ke lapangan untuk bertanding, Apriyani sempat diminta keluar karena ada kabar bahwa ibunya meninggal dunia. Tetapi Apriyani tetap melanjutkan pertandingan dan meraih juara.

Menyinggung harapannya setelah meraih medali emas di Olimpiade, dia mengatakan, anaknya tetap bisa tampil sebagai juara pada event-event internasional.

Jangan Cepat Puas

Ameruddin mengaku akan selalu mendukung Apriyani sepenuhnya untuk bisa menjadi pebulu tangkis profesional. 
Sambari ketawa, Ameruddin mengaku jika ada 200 persen, dukungan itu ia berikan kepada anaknya.

Ia rela dipisahkan oleh jarak dengan satu-satunya anak perempuannya demi mendukung karir Apriyani. Karena berjauhan dengan Apriyani, sang ayah hanya bisa menitipkan sepenggal doa pada setiap sujud shalatnya. "Pokoknya setiap saya shalat, saya doakan dia dengan Greysia Polii, tidak ada yang lain paling afdal selain doa ... karena doa itu bukan kita punya mau tetapi Tuhan punya mau," katanya.

Ameruddin juga mengaku tidak pernah mengganggu Apriyani jika sedang latihan di Jakarta. Meski kerinduan datang, ia hanya meminta kepada Tuhan agar Apriyani selalu sehat dan sukses.

Ia berharap anaknya tidak cepat merasa puas dengan prestasi yang diraih saat ini karena masih banyak prestasi ke depannya yang harus di raih, serta memiliki sifat yang baik dan ramah kepada semua orang.

"Tidak ada lain, pokoknya kami mendukung terus. Tapi jangan merasa puas, kalau sudah merasa puas berarti tidak mau lagi berusaha karena sudah puas. Dan kedua jangan sombong. Dua saja itu kuncinya, jangan cepat merasa puas dan jangan sombong," kata Ameruddin.



Sumber Berita: Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load