Apakah CT Value Menunjukkan Risiko Penularan COVID-19?

Minggu , 24 Januari 2021 | 18:20
Apakah CT Value Menunjukkan Risiko Penularan COVID-19?
Sumber Foto: Pixabay.
Ilustrasi.

JAKARTA - Istilah CT Value belakangan ini sering disebut-sebut saat seseorang didiagnosis positif COVID-19. Begitupun saat Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengumumkan dirinya positif terinfeksi.

"Dari hasil tes PCR tadi malam, pagi ini mendapatkan hasil positif COVID-19 dengan CT Value 25. Saya sama sekali tidak merasakan gejala apa pun dan pagi ini tetap beraktivitas normal dengan olahraga ringan berjalan kaki 8 kilometer," kata Doni, dikutip dari rilis BNPB, Sabtu (23/1/2021).

Menurut pakar biologi molekuler, Ahmad Rusdan Utomo, CT Value adalah nilai yang didapat dari hasil tes swab PCR (polymerase chain reaction). Nilai ini bisa menggambarkan banyaknya partikel virus di dalam rongga pernapasan seseorang. Meski sebenarnya tidak secara langsung berhubungan, CT Value juga bisa menggambarkan banyaknya partikel virus pada pasien tersebut.

Karenanya, CT Value kerap dipakai untuk menggambarkan risiko penularan maupun tingkat keparahan gejala. "Jadi secara umum PCR itu tidak menghitung secara langsung jumlah partikel virus, yang kita hitung adalah materi genetik si virus. Padahal yang membuat infeksius itu kan partikel virus, bukan cuma materi genetik, karena kalau cuma materi genetik itu tidak akan infeksius," kata Ahmad saat dihubungi detikcom, Sabtu (23/1/2021).

"Dari beberapa studi itu diberikan semacam gambaran umum kalau CT Value-nya di bawah 25, itu biasanya terasosiasi dengan jumlah partikel virus yang banyak banget, yang infeksius," jelasnya. Apakah CT Value juga berpengaruh pada gejala COVID-19? Ahmad menjelaskan bahwa CT Value juga bisa menggambarkan tingkat keparahan atau gejala COVID-19 yang bisa dirasakan pada pasien.

Misalnya, hasil CT Value seseorang berada di bawah angka 25, yang kemungkinan jumlah partikel virus pada hidung orang itu sudah cukup banyak, maka risiko partikel virus tersebut 'jatuh' ke dalam paru-paru juga semakin besar. Ini akan menjadi makin berbahaya bila pasien memiliki komorbid atau penyakit penyerta.

"Ketika, misalnya, virusnya sudah mulai banyak kan tumpah tuh virusnya. Nah, tumpahnya itu bisa jalan keluar, bisa dua jalan, dia tumpah ke bawah ke dalam paru atau dia tumpah keluar, ke udara lewat droplet," ucap Ahmad. "Orang kalau misalnya belum sampai paru kan dia belum bergejala," tuturnya. 



Sumber Berita: ANTARA.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load