Puasa Syawal dan Efek Positifnya pada Pencernaan

Selasa , 26 Mei 2020 | 11:44
Puasa Syawal dan Efek Positifnya pada Pencernaan
Sumber Foto: Pixabay.
Ilustrasi puasa.

JAKARTA - Melakukan puasa di bulan Syawal bisa menjadi solusi bagus untuk sistem pencernaan Anda menyesuaikan keadaan usai Ramadhan dan Lebaran, menurut dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastro entero hepatologi, Prof. Ari Fahrial Syam. "Islam sendiri sudah memberikan solusi, puasa Syawal," ujar dia dalam sesi bincang melalui Instagram Live, Senin (25/5) malam.

"Solusi ketika sudah full 30 hari puasa, lalu ada break Lebaran, lalu puasa syawal biar sistem pencernaan menyesuaikan keadaan," katanya. Melanjutkan puasa di bulan Syawal, biasanya selama enam hari pada dasarnya meneruskan keteraturan jadwal makan Anda, yang berarti juga teraturnya waktu lambung terisi makanan misalnya saat sahur dan berbuka puasa. 

Hal berbeda terjadi saat Anda kembali makan ke waktu normal (di luar Ramadhan), yang cenderung teratur, belum lagi jika Anda melewatkan sarapan. "Kadang makan pagi kadang nggak. Lambung nggak konsisten diisi. Nggak makan pagi baru makan jam 12.00, lambung kosong sudah 12 jam, ketidakteraturan ini menyebabkan sakit maag. Lalu camilan nggak sehat," tutur Ari.

Mereka yang punya masalah pada lambung, berisiko membuat penyakitnya kambuh jika pola makan sehat tak dijaga. Prinsip keteraturan waktu makan juga berlaku untuk mereka yang bukan Muslim. Prinsipnya, lambung harus diisi teratur, misalnya 6-8 jam sekali bukannya setiap jam seperti anggapan sebagian orang.

"Yang penting keteraturan. Lambung 6-8 jam diisi. Sarapan jangan air putih saja, usahakan ada yang dikonsumsi, misalnya roti, telur, ayam, kentang, paling enggak ada yang kita konsumsi, lalu enam jam lagi misalnya jam 13.00, lalu jam 19.00," kata Ari. Selain teratur makan, perhatikan makanan yang Anda konsumsi.

Jangan lupakan camilan sehat sepanjang hari. Kelola stres Anda, karena hal ini bisa membuat asam lambung meningkat serta berolahragalah secara teratur.



Sumber Berita: ANTARA.
KOMENTAR

End of content

No more pages to load