Antisipasi Corona di Sekolah: Efektifkah Penggunaan Masker?

Sabtu , 07 Maret 2020 | 23:34
Antisipasi Corona di Sekolah: Efektifkah Penggunaan Masker?
Sumber Foto: Pixabay.
Ilustrasi infeksi virus corona.

JAKARTA - Seorang dokter dari Ikatan Dokter Indonesia yang juga merupakan dokter spesialis paru, menganjurkan agar sekolah lebih baik mengajarkan cara mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir secara benar ketimbang mewajibkan para siswa menggunakan masker ke sekolah.

"Ini juga suatu kepanikan, sebetulnya yang harus dijaga adalah anak-anak sekolah diajarkan cuci tangan. Kalau perlu demonstrasi (cuci tangan) bersama gurunya bareng-bareng," kata dr Erlina Burhan Sp.P(K) di kantor PB IDI Jakarta, Kamis.

Seharusnya, kata Erlina, sekolah mengimbau kepada siswa dan orang tua siswa agar tidak perlu berangkat ke sekolah jika sedang mengalami sakit infeksi saluran pernapasan agar tidak menularkan ke lingkungan di sekolah. Siswa yang sakit sebaiknya beristirahat di rumah dan berobat.

"Bukan mewajibkan murid pakai masker, yang justru diajarkan adalah cara mencuci tangan dan juga perlu cara pakai masker yang benar," kata dia. Selain itu Erlina juga mengimbau agar sekolah tidak perlu melarang siswa bersalaman dengan guru-gurunya.

Justru dia menganjurkan para guru untuk selalu mencuci tangan agar tangannya bersih saat ada murid yang bersalaman sambil mencium tangan guru. "Terutama guru, guru harus cuci tangan. Anak kalau sekolah salaman sama gurunya, dicium tangan gurunya. Tangan guru harus bersih, guru wajib cuci tangan," kata Erlina.

Semenjak terdapat dua kasus positif virus corona COVID-19 di Indonesia, masyarakat dan berbagai kalangan bereaksi berlebihan terhadap berita tersebut. Tidak hanya orang yang ramai-ramai memborong masker, beberapa sekolah pun menganjurkan muridnya menggunakan masker ke sekolah.

Selain itu beberapa sekolah juga menyarankan agar murid tidak bersalaman dengan gurunya karena untuk menghindari perpindahan kuman dari tangan ke tangan. Menurut Erlina, hal tersebut merupakan suatu kepanikan yang berlebihan.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load