Penyebaran Identitas Pasien Corona Picu Trauma

Selasa , 03 Maret 2020 | 16:22
Penyebaran Identitas Pasien Corona Picu Trauma
Sumber Foto: Pixabay.
Penyebaran identitas orang yang terinfeksi corona bisa akibatkan trauma.

JAKARTA - Sejak diumumkan ada orang Indonesia yang terserang virus corona, sebagian masyarakat langsung mencari tahu identitas pasien. Padahal hal tersebut bisa mendatangkan dampak psikologis bagi si penderita.

Psikolog Intan Erlita menjelaskan seseorang yang sedang sakit secara otomatis akan mempengaruhi sisi psikologis, apalagi penyakit yang dideritanya merupakan wabah yang sedang terjadi di dunia. "Harusnya tidak perlu di-blow up dan di share yang akhirnya jadi berita yang tidak bertanggung jawab.

"Ini malah akan menimbulkan efek psikologis bagi si penderita," kata Intan saat dihubungi ANTARA, Selasa. "Karena gini, dia menderita corona aja dia udah punya ketakutan, secara psikis dia udah takut. Terus dia juga masih harus bertarung ini akan sembuh apa tidak," lanjut Intan.

Tak hanya mencari tahu soal identitas, alamat rumah dan kehidupan sehari-hari pasien, warganet juga menyebarkan foto keluarga dari yang bersangkutan. Akhirnya komentar-komentar negatif pun tidak bisa dihindari. "Terus dia juga harus mendapati komentar-komentar yang agak nyinyir, sedangkan logikanya enggak ada yang mau punya penyakit itu," ujar Intan.

Mantan model dan pembawa acara televisi ini melanjutkan, "Saya khawatir dia akan trauma, karena di sini dia kan korban/pasien bukan terdakwa jadi ini akan memberikan efek." Menurut Intan, tindakan pasien untuk memeriksakan diri ke dokter adalah hal yang harus diacungi jempol. Sebab, pasien memiliki kesadaran yang tinggi akan kesehatan tubuhnya.

"Ini yang saya dapat enggak tahu hoax apa enggak dari pasien dan ibunya, saya baca miris juga dia menyatakan bahwa dia yang datang ke dokter, dia bilang ke dokter bahwa dia bareng dengan orang yang positif corona, artinya dia sendiri punya kesadaran penuh biar enggak nularin ke orang lain. Buat saya itu udah perlu diacungin jempol loh," kata Intan.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load