Jalan Panjang Indonesia Mengadopsi 5G

Selasa , 31 Desember 2019 | 19:58
Jalan Panjang Indonesia Mengadopsi 5G
Sumber Foto: Smartcitiesworld.
Ilustrasi koneksi 5G.

JAKARTA - Sepanjang 2019, perbincangan hangat dunia teknologi dan telekomunikasi di Indonesia berputar di sekitar 5G, jaringan generasi terbaru sebagai evolusi dari jaringan 4G. Indonesia tentu tidak ingin ketinggalan mengadopsi jaringan 5G karena menawarkan berbagai pembaruan, misalnya kecepatan internet yang bisa berpengaruh terhadap peluang bisnis baru.

Kawasan Asia menjadi salau satu pemimpin dalam teknologi ini, Korea Selatan menjadi negara pertama yang mengadopsi 5G secara komersial, jaringan 5G sudah bisa dinikmati di telepon seluler. Indonesia memang belum menetapkan target kapan jaringan 5G akan hadir. Namun, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ismail, beberapa waktu lalu berharap jariangan 5G diharapkan datang di waktu yang tepat.

Indonesia, ketika 5G masuk, sudah siap menggunakan teknologi tersebut sehingga tidak hanya menjadi tempat untuk memasarkan 5G. Meski pun belum jelas kapan 5G akan masuk Indonesia, pemerintah dan lembaga yang terlibat, termasuk industri telekomunikasi, sudah menyiapkan berbagai hal agar dapat mengadopsi jaringan 5G.

1. Pembangunan infrastruktur
Salah satu tantangan besar jaringan telekomunikasi di Indonesia adalah wilayah yang luas sehingga sebaran jaringan tidak merata. Belum semua daerah di Indonesia merasakan jaringan 4G, untuk itu pemerintah dan operator seluler terus berusaha memperluas jangkauan 4G ke berbagai wilayah di Indonesia.

Tiga paket jaringan tulang punggung serat optik Palapa Ring, salah satu program utama untuk menyambungkan seluruh wilayah Indonesia ke jaringan telekomunikasi, sudah selesai sepenuhnya tahun ini. Operator seluler diharapkan dapat memanfaatkan infrastruktur ini untuk menarik kabel ke menara base transceiver station atau BTS.

Pemerintah melalui Badan Aksesibilitas dan Informasi (BAKTI) juga memiliki program membangun 5.000 menara BTS untuk daerah tertinggal, terdepan dan terluar Indonesia. Pemerataan infrastruktur untuk jaringan 4G ditargetkan dapat dimanfaatkan ketika Indonesia nanti mengadopsi 5G. Jaringan ini pun bisa berjalan dengan optimal melalui kabel serat optik.

Dengan begitu, infrastruktur seperti Palapa Ring akan menentukan kualitas kekuatan sistem 5G yang nanti dihadirkan oleh operator seluler. Program universal service obligation (USO), dana yang dihimpun dari operator seluler dan skema yang digunakan untuk membiayai pembangunan BTS, diyakini bisa dimaanfatkan untuk membangun infrastruktur 5G.

2. Uji coba jaringan
 
Operator seluler selangkah lebih maju dalam hal mempersiapkan jaringan 5G di Indonesia, sejak 2017 lalu mereka sudah mulai menguji coba jaringan tersebut di lingkup kecil, salah satunya pabrik. Ketika Indonesia mengadopsi 5G nanti, banyak yang memprediksi jaringan ini akan digunakan oleh manufaktur, bukan untuk konsumen luas misalnya menjadi data internet untuk telepon seluler.

Smartfren pada tengah 2019 menguji coba jaringan 5G di pabrik pengolahan kelapa sawit di Marunda dengan frekuensi 28GHz milimeter wave. Jaringan 5G di pabrik digunakan untuk memantau lokasi pablik secara aktual, real time, dipadukan dengan internet of things (IoT) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Pada akhir November lalu, Telkomsel bersama dengan OPPO, menguji coba jaringan 5G di Batam untuk panggilan telepon melalui protokol internet (VoIP) di perangkat Reno versi 5G.

3. Pasar 5G
 
Tidak kalah penting dalam isu jaringan generasi terbaru, selain masalah infrastruktur, Indonesia juga perlu menyiapkan seperti apa jaringan 5G akan digunakan di Indonesia. Sebelumnya disebutkan pemanfaatan 5G akan ada di manufaktur, operator seluler pun berpendapat segmentasi 5G di Indonesia yang terlihat ada di sektor bisnis.

Direktur XL Axiata, Yessie D. Yosetya, menyatakan 5G akan menimbulkan pemanfaatan dan bisnis baru ketika diadopsi di Indonesia. Operator perlu mengetahui ada pasar tertentu yang membutuhkan bandwidth tinggi sehingga isu koneksi akan terjawab dengan jaringan 5G. Pengamat telekomunikasi dari Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, beberapa waktu lalu menyatakan 5G di Indonesia dapat digunakan sebagai pengganti WiFi dan data internet di perangkat seluler.

4. Spektrum frekuensi
Sebelum mengadopsi jaringan 5G, salah satu hal yang esensial adalah menyiapkan spektrum jaringan yang akan dialokasikan untuk 5G. Pemerintah belum menetapkan spektrum frekuensi yang akan digunakan untuk 5G karena masih perlu menata ulang sejumlah frekuensi. Frekuensi untuk 5G memerlukan band rendah (lower band), menengah (middle band) dan tinggi atau upper band.

Di middle band, terdapat dua frekuensi yaitu 2,6GHz dan 3,5GHz, namun, saat ini digunakan untuk satelit. Untuk upper band, Indonesia memiliki spektrum frekuensi 26GHz yang relatif kosong dan menjadi salah satu kandidat kuat untuk dialokasikan ke 5G.

Di lower band, terdapat frekuensi 700MHz yang masih dipakai oleh siaran televisi analog sehingga pemerintah perlu menunggu Undang-Undang Penyiaran jika ingin mengalokasikan untuk 5G. Frekuensi lainnya, 800MHz, juga di lower band, digunakan untuk jaringan 4G oleh operator seluler dan sudah ditata ulang (refarming) pada April tahun ini.(E-4/ant)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load