Pemerintah Targetkan Ekspor Otomotif Tembus 1 Juta Unit di 2024

Jumat , 20 Desember 2019 | 20:26
Pemerintah Targetkan Ekspor Otomotif Tembus 1 Juta Unit di 2024
Sumber Foto: SH/Satryo Yudhantoko
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memasang target untuk industri otomotif di dalam negeri agar bisa menembus volume ekspor sebesar 1 juta unit pada 2024 mendatang.

Target yang terkesan sangat optimistis di tengah lesunya pasar otomotif dunia tersebut, diyakini bisa tercapai karena produk otomotif yang diproduksi di dalam negeri merupakan produk yang terjangkau dan dibutuhkan oleh pangsa pasar dunia.

"Itu yang affordable (terjangkau) bisa dibeli masyarakat sehingga bisa dapat respons positif salah satunya adalah pickup. Di mana demandnya besar," ujarnya dalam acara media gathering dengan tema 'Refleksi Perekonomian RI 2019', di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Dr. Wahidin, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat (20/12/2019).

Untuk memenuhi target tersebut, Airlangga menyasar 80 negara sebagai target pasar ekspor otomotif RI yang harga per unit mobil pickup-nya ialah sebesar US$ 10 ribu hingga US$ 20 ribu. Beberapa di antara negara-negara berkembang hingga maju yang disasarnya adalah Filipina, Thailand, Arab Saudi, hingga Australia.

"Ini bukan otomotif mewah, sehingga daya beli masyarakat global masih kuat terutama di ASEAN, Timur Tengah plus beberapa ke Amerika Latin, karena industri otomotif di Australia sudah tutup di semua kota. Dan sekarang kita incar juga karena pasarnya mirip dengan Filipina," imbuh dia.

Meski begitu, Airlangga tidak menutup kemungkinan adanya beberapa hambatan bagi ekspor RI kedepannya. Yaitu adanya beberapa tantangan dari negara seperti Vietnam dan Malaysia.

Kedua negara tersebut dinilainya mempersulit ekspor dalam negeri, karena meminta barang terurai atau Completely Knock Down (CKD) sebagai produk impor mereka. Sehingga, hal itu lah yang menurut Airlangga dapat menghambat ekspor Indonesia ke negara tersebut.

"Ada tantangan di Vietnam karena akan mempersulit ekspor, (mereka meminta ekspor) dalam bentuk CKD. Karena mereka mau Indonesia bikin pabrik di sana dan impornya terurai," pungkasnya. (Ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load