• Selasa, 7 Februari 2023

Ini Sebabnya Penyelesaian Masalah Anemia di Indonesia Seringkali Terhambat

- Jumat, 2 Desember 2022 | 09:36 WIB
Ini sebabnya penyelesaian masalah anemia di Indonesia seringkali terhambat. (Master1305/Freepik.com)
Ini sebabnya penyelesaian masalah anemia di Indonesia seringkali terhambat. (Master1305/Freepik.com)

SINAR HARAPAN - TIDAK berbau tetapi menyebabkan mual, itulah pendapat Debora usai meminum tablet tambah darah (TTD) yang dibagikan di sekolahnya beberapa waktu lalu.

Walau memiliki keluhan, dia berusaha rutin meminumnya setiap pekan sesuai anjuran Kementerian Kesehatan.

Hanya saja, meminum suplemen ini secara rutin ternyata menjadi tantangan besar, dan ini diamini Ketua Tim Kerja Pemberdayaan dan Penggerakan Masyarakat Kementerian Kesehatan Dwi Adi Maryandi.

Baca Juga: Bolehkah Penderita Kolesterol Tinggi, Diabetes, dan Penyakit Jantung Makan Telur? Ini Penjelasan Ahli Gizi

Dia mengatakan, selain bosan, para remaja putri yang mendapatkan tablet tambah darah juga tak menyukai rasa dan lupa meminumnya.

Inilah alasan mengapa dari sekitar 76 persen remaja putri yang mendapatkan TTD di sekolah, hanya 1,4 persen yang mengonsumsinya sesuai rekomendasi.

Padahal, pemenuhan zat besi salah satunya melalui suplementasi diperlukan khususnya bagi remaja putri yang terdiagnosis defisiensi zat besi.

Baca Juga: Termasuk Obesitas, Merokok, dan Kurang Aktivitas Fisik, Waspadai Faktor-faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner

Ini demi mencegah mereka terkena anemia yang dapat berujung melahirkan anak dengan kondisi stunting.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang mempengaruhi fisik dan otak anak, akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan sebanyak 23 persen bayi lahir sudah stunting, sehingga intervensi harus dimulai sebelum bayi lahir dan bahkan sejak perempuan di usia remaja.

Baca Juga: Bolehkah Penderita Kolesterol Tinggi, Diabetes, dan Penyakit Jantung Makan Telur? Ini Penjelasan Ahli Gizi

Anak yang mengalami stunting akan terganggu pertumbuhan fisik, perkembangan otak dan kecerdasan serta metabolisme tubuhnya.

Pada jangka panjang, IQ anak lebih rendah ketimbang rekan seusianya yang tak mengalami stunting dan mengalami berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes dan stroke.

Kementerian Kesehatan pun berupaya melakukan upaya memutus mata rantai stunting termasuk dengan memasukkan pencegahan dan penanggulangan anemia.

Baca Juga: Latihan Fisik Penting untuk Mencegah Penyakit Tidak Menular Juga Menjaga Stamina dan Ketahanan Tubuh

Halaman:

Editor: Rosi Maria

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Waspada, Kanker Juga Bisa Menyerang Anak-anak

Sabtu, 4 Februari 2023 | 18:04 WIB
X