Waspada Penyakit Paru Obstruktif Kronis yang Bisa Bikin Kesulitan Bernapas Permanen

- Rabu, 23 November 2022 | 17:07 WIB
Ilustrasi Rokok dan Risiko PPOK. (Ragam Yogyakarta )
Ilustrasi Rokok dan Risiko PPOK. (Ragam Yogyakarta )

SINAR HARAPAN - PENYAKIT Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah kumpulan penyakit yang menyerang saluran pernapasan, berlangsung secara jangka panjang hingga menyebabkan penyempitan di saluran napas.

Saat ini, PPOK menduduki peringkat keempat sebagai penyebab kematian di dunia. Asap menjadi penyebab utama PPOK, termasuk asap rokok, knalpot, serta polusi lain termasuk di lingkungan kerja.

"Gejala awal, biasanya batuk disertai produksi lendir yang cenderung produktif. Jika lendir semakin kental, maka penyempitan akan semakin hebat dan dapat mencetuskan sesak napas," kata Medical General Manager Kalbe, dr Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi, AIFO-K, Rabu, dalam siaran pers PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) dalam rangka mengedukasi masyarakat terkait PPOK bertepatan dengan Hari PPOK sedunia 2022.

Baca Juga: Masker Penangkal Rekomendasi Dokter Paru

Penting untuk melakukan upaya pencegahan PPOK, kata dr Dedy, salah satunya dengan menggaungkan tema PPOK tahun 2022 ini yaitu "Lungs for Your Life".

"PPOK adalah penyakit yang bersifat irreversible. Dalam hal ini, apabila saluran pernapasan rusak, sulit untuk kembali seperti pada kondisi normal."

Salah satu manifestasi yang sering dialami pengidap PPOK adalah gangguan gizi, atau dikenal dengan istilah malnutrisi.

Baca Juga: Ini Ciri-ciri Asam Lambung Naik ke Paru-Paru dan Pengobatannya

"Penyebab utama penurunan berat badan pada PPOK adalah hilangnya napsu makan dan penurunan asupan makanan khususnya pada pasien dengan PPOK eksaserbasi akut. Otot pernapasan melemah karena penurunan asupan makanan dan peningkatan konsumsi energi," kata dr Dedy.

Sering kali terapi PPOK hanya berfokus pada terapi obat, sedangkan perbaikan gizi kadang dilupakan.

Padahal, nutrisi adalah faktor yang sangat mendukung keberhasilan terapi pasien PPOK, karena dengan status gizi yang baik imun tubuh menjadi kuat dan proses pemulihan juga akan lebih cepat.

Baca Juga: Merasa Sering Sesak Napas Setelah Sembuh dari Covid? Waspadai Faktor Pemberat Kerusakan Paru-paru Berikut

Pemenuhan gizi bagi pengidap PPOK harus bersumber dari konsumsi keragaman makanan atau zat gizi, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.

Namun, bagi pengidap PPOK dengan serangan akut sesak napas, kebutuhan nutrisinya sebaiknya dimodifikasi.

"Pada kondisi sesak, terlebih pada pasien yang menggunakan alat bantu pernapasan (ventilator), disarankan untuk mengurangi porsi asupan," katanya.

Baca Juga: Gagal Menghambat Pertumbuhan Sel Kanker Paru, Obat Kanker Roche Diragukan Efektif

"Sebab, karbohidrat saat kita makan dan diolah di dalam tubuh, akan menghasilkan atau memproduksi CO2 dan karbon dioksida lebih besar, sehingga dapat semakin memperburuk kondisi sesak napas," jelasnya lagi.

Pulmosol adalah salah satu brand produk Medical Nutrience PT Finusolprima Farma Internasional (FIMA), anak perusahaan PT Kalbe Farma Tbk, yang saat ini menjadi satu-satunya suplemen nutrisi dalam bentuk makanan cair untuk pemenuhan gizi kondisi gangguan pernapasan.

Komposisi dan kandungan Pulmosol sudah disesuaikan, sehingga pemenuhan nutrisi tidak hanya sekadar mencukupi kebutuhan gizi tetapi juga cocok dengan kondisi klinis penyakit pernapasan, salah satunya dengan menurunkan persentase karbohidrat, demikian Product Executive FIMA, Josephine Grace.

Baca Juga: Wow, Perkembangan Sains Kedokteran Mungkinkan Pasien Kanker Paru untuk Menempuh Pengobatan Selain Kemoterapi

Pasien PPOK sering kali mengalami penurunan nafsu makan, karena merasa sesak, lelah, dan kesulitan bernapas.

Konsumsi suplemen nutrisi dalam bentuk cair bisa menjadi salah satu solusi supaya pasien PPOK lebih mudah dalam pemenuhan nutrisi mereka.

Halaman:

Editor: Rosi Maria

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X