• Rabu, 30 November 2022

Moms, Jangan Lalai Periksakan Mata Si Kecil Walau Tak Ada Keluhan untuk Deteksi Kelainan Mata Bawaan

- Rabu, 23 November 2022 | 15:33 WIB
Moms, jangan lalai periksakan mata si kecil walau tak ada keluhan. (Vecteezy)
Moms, jangan lalai periksakan mata si kecil walau tak ada keluhan. (Vecteezy)

SINAR HARAPAN - ORANGTUA sebaiknya memeriksakan mata anak-anak mereka ke dokter walau tidak ada keluhan apa pun, menurut dr. Zoraya A Feranthy, SpM dari Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia.

"Skrining rutin mata penting, tidak harus menunggu ada keluhan. Banyak penyakit mata yang bisa kita cegah," kata dia dalam sebuah acara kesehatan di Jakarta, Rabu.

Zoraya mengatakan, bayi setelah lahir dapat langsung mendapatkan pemeriksaan pada matanya.

Baca Juga: Sebut Akhir Pandemi Sudah di Depan Mata, Dirjen WHO: 'Sekarang Adalah Waktu Terburuk untuk Berhenti Berlari'

Ini untuk mendeteksi berbagai penyakit bawaan seperti katarak dan glaukoma bawaan.

Pemeriksaan mata dini juga dapat mendeteksi miopi atau rabun jauh yang dialami anak-anak.

Anak dengan kondisi rabun jauh seringkali memberikan gambaran dengan memicingkan matanya saat melihat objek jauh.

Baca Juga: Hindari Kerusakan Mata Gegara Gadget, Orang Tua Disarankan Periksa Kesehatan Mata Anak Sejak Dini

"Kalau memegang suatu objek misalnya gawai, dia suka dari dekat," ujar Zoraya yang mendapatkan gelar dokter spesialis mata dari Universitas Padjadjaran Bandung itu.

Miopi pada prinsipnya kondisi saat terjadi ketidaksesuaian antara panjang bola mata dengan kekuatan optiknya sehingga seseorang tidak bisa memfokuskan cahaya pada retina.

Kondisi ini membutuhkan lensa minus untuk bisa menjatuhkan bayangan tepat di retina.

Baca Juga: Salman Rushdie Dilaporkan Kehilangan Penglihatan di Satu Mata, Satu Tangan Lumpuh Akibat Penyerangan Agustus

"Sehari-hari tidak tampak ada keluhan tidak ada salahnya skrining. Kita harus lebih hati-hati. Bisa jadi anak tidak memberikan gambaran sama sekali tetapi ternyata minusnya (sudah) tinggi," kata dia.

Zoraya menuturkan kondisi mata minus dianggap sebagai gangguan refraksi tertinggi dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi pada tahun 2050, setengah populasi dunia akan mengalami mata minus.

Baca Juga: Natalia Vovk, Mata-mata yang Dituduh Bunuh Darya Dugina Putri 'Otak Putin' Masuk Daftar Buronan Internasional

Berbicara penyebab, menurut dia, jarangnya anak terpapar matahari akibat pandemi yang mengharuskan mereka di rumah sehingga terus menggunakan penglihatan jarak dekat, kurang vitamin D, dan faktor genetik merupakan di antaranya.

"Apakah faktor genetik mutlak? Tidak, bisa juga dipengaruhi nutrisi, kebiasaan, lingkungan dan lainnya," demikian kata Zoraya.***

Editor: Rosi Maria

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X