• Sabtu, 13 Agustus 2022

Menag Yaqut Coba Rompi Penurun Suhu Produk Inovasi Kemenkes

Banjar Chaeruddin
- Kamis, 7 Juli 2022 | 03:41 WIB
Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas (kanan) mengenakan rompi penurun suhu didampingi Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana (kiri) saat meninjau Posko utama kesehatan di Mina, Rabu (6/7/2022). ANTARA/Desi Purnamawati
Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas (kanan) mengenakan rompi penurun suhu didampingi Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana (kiri) saat meninjau Posko utama kesehatan di Mina, Rabu (6/7/2022). ANTARA/Desi Purnamawati

SINARHARAPAN--Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas mengaku tidak merasa kepanasan meski mengenakan rompi yang cukup tebal karena rompi tersebut merupakan rompi penurun suhu untuk pasien heat stroke inovasi dari Kemenkes.

"Ini kayak pakai AC dalam baju, kita tidak merasa kayak di tengah gurun. Saya akan coba ini untuk semua petugas. Overall ok banget ini," kata Menag di sela-sela meninjau tenda di Mina, Rabu.

Menurut Menag yang akrab disapa Gus Men, rompi berwarna hitam dengan hoodie (topi kupluk) itu sangat membantu dalam situasi cuaca di Arab Saudi yang sangat panas.

"Ini akan sangat membantu. Tahun depan akan dipikirkan serius untuk semua semua petugas haji," kata Gus Men.

Terlebih lagi cuaca di Mekkah rata-rata mencapai 44-45 derajat Celsius dan diperkirakan cuaca panas tersebut akan berlangsung sampai beberapa tahun ke depan.

Pada musim haji 2022, Kementerian Kesehatan memanfaatkan teknologi carbon cool yang didesain menjadi rompi penurun suhu untuk penanganan kasus heat stroke pada jamaah haji di Arafah, Muzdhallifah dan Mina (Armuzna).

Rompi ini juga akan digunakan oleh petugas kesehatan yang bertugas di wilayah Armuzna sebagai tindakan pencegahan.

Sebanyak 10 jaket sudah disiapkan untuk petugas, sementara 20 jaket disiapkan untuk pertolongan pertama pada jamaah heat stroke.

Tim dokter Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah, sekaligus tim peneliti Dr dr Rr Suzy Indharty MHA MKes SpBS(K)-Spesialis bedah saraf konsultan tumor otak dosen Fakultas Kedokteran USU Medan kolaborasi dengan dosen Fakultas Tehnik UNS Solo, mengatakan bahwa pengukuran suhu dan tanda vital jamaah menjadi parameter dalam penggunaan rompi tersebut.

"Suhu diukur secara berkelanjutan, dan akan dihentikan setelah suhu pasien turun mencapai 38 derajat, untuk kemudian diberikan terapi standar lainnya," kata Suzy.
 
Teckno cool digunakan karena memiliki daya tahan dingin yang lama hingga 8-12 jam, jauh lebih lama dibandingkan dengan penggunaan es atau ice gel, tidak cepat mencair dan tidak basah.

Pasien akan dipakaikan rompi lengkap dengan decker untuk meredam saraf-saraf sensorik yang banyak di bagian tubuh terbuka yang tersengat matahari yaitu bagian lengan, paha, dan betis. Dalam keadaan darurat, techno cool bisa langsung ditempelkan di tubuh pasien.

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Antara

Tags

Terkini

X