• Minggu, 27 November 2022

Kecanduan Kpop? Tenang, Ternyata Itu Tak Selalu Buruk! Simak Penjelasannya

- Minggu, 15 Mei 2022 | 06:00 WIB
Ilustrasi - Konser Kpop. (Unsplash)
Ilustrasi - Konser Kpop. (Unsplash)

SINAR HARAPAN - PSIKOLOG klinis Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Nanda Rossalia, M.Psi mengungkapkan salah satu alasan sebagian remaja semakin menyukai para idola Kpop selama pandemi COVID 19 dua tahun terakhir ini.

Ternyata alasannya adalah karena munculnya perasaan dekat dengan sang idola, meski hanya dari media sosial.

Merujuk pada hasil konseling yang dia lakukan dengan klien remajanya, dia mengatakan kecenderungan itu awalnya bersumber dari stres saat berada di rumah.

Baca Juga: BTS Vs BTS! Dua Lagu dari Grup Kpop Ini Bersaing di Kategori 'Top Selling Song' Billboard Music Awards 2022

Penyebab stres itu tak lain dan tak bukan ternyata berasal dari orang-orang terdekat mereka.

"Mereka banyak yang lebih bebas ketika mereka ada di luar sebenarnya. Tetapi untuk mereka yang tinggal dengan stres itu yang agak sulit, karena memang proximity-nya tidak ada. Jadi kemudian mereka ke mana? Ke media sosial, ke internet," ujar Nanda Rossalia, M.Psi dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Hal ini disampaikannya dalam webinar Remaja dan Gawai yang diselenggarakan Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Sabtu, 14 Mei 2022.

Baca Juga: Lirik Lagu 'DARARI' TREASURE yang Diremix Ulang, Langsung Trending Nomor 1 di YouTube! Simak Videonya di Sini

Seiring para remaja ini menyukai idola atau artis Kpop tertentu berkembanglah hubungan parasosial yakni hubungan antara seseorang dengan figur yang ada di layar.

Terlebih, para idola Kpop membangun kedekatan dengan para penggemar mereka misalnya melalui siaran langsung di media sosial dan ini disambut positif penggemar.

"Karena semakin dia membuka media sosial apalagi bila dia mem-follow, suka ada live, saya melihat mereka. Saya merasa ada intimacy, kayaknya hanya dia (idola) yang bisa mengerti saya sehingga itu yang menjadi 'part of social interaction'," jelas Nanda.

Baca Juga: Asyik, Ini 13 Playlist Baru di Spotify untuk Penggemar Kpop

Menurut Nanda, sebagian penggemar bahkan bisa merasa hanya idola mereka yang memberi perhatian pada mereka dan berkembanglah istilah 'halu' walau bukan dalam artian sebenarnya.

"Semakin kuat itu kemudian menjadi suatu hubungan, jadi hubungan interpersonal kemudian ini jadi realita-nya. Karena dia (idola) sudah ada di kepala itu seperti imajinasinya dan bondingnya kuat, kami menyebutnya hubungan parasosial. Itu perlu juga suatu pendekatan yang lain untuk kita bantu," kata dia.

Menurut Nanda, para remaja ini tidak bisa melawan apa yang terjadi sehingga orang dewasa termasuk orang tua tak perlu berharap mereka bisa melawan karena remaja ini tak bisa dielakkan termasuk generasi yang hadir pada saat teknologi itu berkembang pesat.

Baca Juga: Lagu 'Still Life' BIGBANG Mendominasi Peringkat Lagu Global, Masih Duduki Posisi Trending di YouTube

"Butuh support system yang baik untuk kita bisa fokus dan tidak terpapar hal yang membuat kita kembali pada suatu rutinitas yang tidak adaptif. Kita bisa minta mereka (melakukan self regulation) tetapi mereka tetap butuh monitoring dan supervisi dari orang-orang di sekitar," demikian saran Nanda.***

Halaman:

Editor: Rosi Maria

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X